BeritaNasional

Terapi Hutan Jadi Pilihan untuk Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Tekanan Hidup

3
×

Terapi Hutan Jadi Pilihan untuk Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Tekanan Hidup

Sebarkan artikel ini
Foto dokumentasi yang diabadikan menggunakan kamera ponsel ini memperlihatkan sejumlah peserta mengikuti sesi terapi hutan (forest therapy) di Jababeka Eco Park di Bekasi, Provinsi Jawa Barat. (Xinhua/Istimewa)

JAKARTA, Xinhua, eNewskalteng.com – Terapi hutan atau forest therapy mulai mendapat perhatian sebagai salah satu cara untuk membantu menjaga kesehatan mental di tengah gaya hidup modern yang serba cepat. Melalui aktivitas sederhana di alam terbuka, peserta diajak memperlambat ritme kehidupan, menenangkan pikiran, serta meningkatkan kesadaran terhadap kondisi diri dan lingkungan.

Foto dokumentasi yang diabadikan menggunakan kamera ponsel ini memperlihatkan sejumlah peserta mengikuti sesi terapi hutan (forest therapy) di Jababeka Eco Park di Bekasi, Provinsi Jawa Barat. (Xinhua/Istimewa)

Wira, seorang ibu rumah tangga sekaligus wirausaha berusia 33 tahun, mengaku tidak mudah menjalani sesi terapi hutan untuk pertama kalinya. Ia terbiasa menjalani aktivitas dengan cepat sehingga berdiam diri tanpa melakukan sesuatu terasa tidak biasa. “Awalnya ada sedikit rasa tidak terbiasa, karena saya selalu hidup dalam ritme cepat yang membuat diam terasa seperti tidak melakukan apa pun,” kata Wira kepada Xinhua setelah mengikuti sesi terapi di Kebun Raya Bogor pada Agustus lalu.

Terapi hutan berakar dari praktik shinrin-yoku atau mandi hutan yang berkembang di Jepang sejak 1980-an. Menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO), praktik tersebut menjadi salah satu pendekatan kesehatan preventif. Sejumlah penelitian di Jepang juga mengaitkan aktivitas ini dengan peningkatan kualitas tidur, suasana hati, konsentrasi, serta penurunan stres.

Di Indonesia, terapi hutan mulai dikenal sebagai bagian dari wisata kebugaran. Peserta biasanya diajak berjalan perlahan, merasakan permukaan tanah, mendengarkan suara alam, menghirup aroma dedaunan, hingga berbaring di atas rumput. Aktivitas tersebut bertujuan membantu peserta memusatkan perhatian pada momen saat ini. Upaya menjaga kesehatan mental semakin relevan, terutama ketika tekanan kehidupan sehari-hari dapat memicu stres dan kelelahan emosional atau burnout. Perhatian terhadap persoalan ini juga penting bagi anak-anak.

Data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan RI periode 2025–2026 menunjukkan, dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani skrining, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak terdeteksi mengalami gangguan kecemasan. Sementara itu, gejala depresi ditemukan pada 4,8 persen atau sekitar 363.000 anak. Salah satu unsur utama terapi hutan adalah mindfulness, yakni kemampuan menyadari keadaan diri dan lingkungan pada saat ini tanpa menghakimi pikiran maupun perasaan yang muncul. Psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Luh Surini Yulia Savitri, pernah menjelaskan konsep tersebut dalam artikel yang diterbitkan pada Maret 2024.

Praktisi terapi hutan sekaligus dosen psikologi Universitas Gunadarma, Dr. Hendro Prabowo, mengatakan tantangan yang kerap dihadapi peserta adalah kebiasaan berpikir berlebihan atau overthinking. Kondisi itu membuat sebagian orang sulit menikmati suasana alam karena pikirannya terus dipenuhi analisis dan berbagai kemungkinan.

Wira mengakui hal serupa terjadi selama mengikuti terapi. Ia belajar bahwa tidak semua persoalan harus segera dianalisis atau dicarikan penyelesaian. “Saya belajar tidak semua hal perlu dianalisis. Ada kalanya kita cukup hadir, merasakan, dan membiarkan sesuatu berlangsung tanpa harus segera mencari makna atau solusinya,” tuturnya.

Untuk mengevaluasi pengalaman peserta, Hendro menggunakan metode pain drawing. Peserta diminta menandai bagian tubuh yang terasa sakit pada gambar anatomi manusia dan memberikan penilaian terhadap tingkat keluhannya sebelum terapi. Setelah sesi berakhir, peserta kembali mengevaluasi bagian tubuh yang sama untuk melihat apakah terdapat perubahan yang mereka rasakan.

Dari sisi ilmiah, manfaat paparan lingkungan hutan juga dikaitkan dengan fitonsida, yakni senyawa alami yang dihasilkan tumbuhan. Guru Besar IPB University, Prof. Siti Badriyah Rushayati, dalam orasi ilmiahnya yang dikutip situs resmi IPB, menjelaskan bahwa paparan udara hutan berpotensi meningkatkan aktivitas sel pembunuh alami atau natural killer cells. Senyawa tersebut juga dikaitkan dengan penurunan stres dan peningkatan kesejahteraan mental.

Meski demikian, terapi hutan berbeda dari kegiatan pendakian atau hiking. Hendro menjelaskan bahwa terapi ini lebih menekankan aktivitas fisik ringan di medan relatif datar, dengan lingkungan yang tenang, udara sejuk, pepohonan rindang, serta tingkat kebisingan rendah. Kondisi lingkungan tersebut dinilai penting agar peserta dapat memusatkan perhatian melalui seluruh pancaindra. Suasana yang terlalu bising dapat mengganggu proses relaksasi.

Hendro berharap edukasi mengenai terapi hutan semakin luas dan diikuti dengan peningkatan jumlah pemandu terlatih. Menurutnya, kegiatan ini berpotensi diperkenalkan kepada berbagai kelompok, mulai dari lansia dan pekerja yang mengalami tekanan aktivitas hingga remaja yang terlalu sering menggunakan gawai. Kesadaran terhadap manfaat hutan bagi kesehatan juga diharapkan mendorong kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan dan pengembangan ruang hijau yang sehat.

Bagi Wira, pengalaman mengikuti terapi hutan memberikan perspektif baru tentang ketenangan. Ia menyadari bahwa ketenangan bukan berarti terbebas dari persoalan, melainkan kemampuan untuk tetap hadir dan menjaga keseimbangan diri ketika menghadapi berbagai keadaan. “Setelah mengikuti terapi ini, saya menyadari bahwa ketenangan bukan berarti hidup sedang tidak memiliki masalah. Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap hadir dan tidak kehilangan diri sendiri di tengah berbagai hal yang sedang terjadi,” ujarnya.