JAKARTA, Xinhua, eNewskalteng.com – Industri komik Hong Kong berupaya membangun kembali kejayaannya dengan memperluas pasar internasional, mengembangkan tema cerita yang lebih beragam, serta memanfaatkan teknologi digital. Salah satu upaya tersebut terlihat melalui kehadiran enam seniman komik Hong Kong dalam festival budaya pop Indonesia Comic Con (ICC) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, pada 3–4 Oktober.

Dalam kegiatan tersebut, Paviliun Hong Kong menampilkan karya Jeffrey Kwong, Bonnie Pang, Linus Liu, Wai On, Hin, dan Jerry Cho. Pengunjung dapat melihat karya orisinal, membeli buku komik, serta bertemu langsung dengan para kreatornya. Jeffrey Kwong mengatakan respons pengunjung terhadap karya mereka cukup positif. Sejumlah buku komiknya berbahasa Inggris bahkan habis terjual selama festival berlangsung.
Sementara itu, Bonnie Pang mengaku terkejut melihat banyaknya penggemar yang datang untuk meminta tanda tangan dan berfoto bersama. Popularitasnya di Indonesia antara lain didukung karya-karyanya yang dikenal melalui platform Webtoon. Salah satu karyanya, Chronos Express, telah diterbitkan di Indonesia oleh Bhuana Ilmu Populer pada akhir 2025.
Kehadiran para kreator tersebut merupakan hasil kolaborasi Panorama Media selaku penyelenggara ICC dengan Hong Kong Economic and Trade Office (HKETO) Jakarta. Kerja sama ini diharapkan tidak hanya memperkenalkan komik Hong Kong kepada pembaca Indonesia, tetapi juga membuka peluang pertukaran kreator dan memperkuat hubungan industri kreatif kedua wilayah. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi Hong Kong untuk menghidupkan kembali industri manhua yang pernah berjaya di Asia pada era 1980-an hingga awal 1990-an.
Pada masa itu, industri komik Hong Kong mampu menjual sekitar 50 juta eksemplar per tahun. Berdasarkan penelitian Universitas Lingnan pada 2016, sejumlah judul populer bahkan mencatat sirkulasi hingga 80.000–200.000 eksemplar untuk setiap edisi. Salah satu karya yang dikenal luas adalah Old Master Q karya Alfonso Wong atau Wang Ze, yang menggambarkan kehidupan masyarakat perkotaan melalui humor dan sindiran sosial. Di Indonesia, komik tersebut dikenal dengan judul Master Q dan pernah menghiasi toko serta tempat persewaan komik selama bertahun-tahun.
Selain komedi, genre bela diri juga mendominasi komik Hong Kong pada era 1970-an hingga masa kejayaannya. Namun, perubahan selera pembaca, cerita yang semakin monoton, serta masuknya manga Jepang melalui jalur distribusi yang lebih terorganisasi kemudian menggerus pasar komik lokal. Volume penjualan industri tersebut dilaporkan turun hingga 90 persen dibandingkan masa puncaknya.
Memasuki dekade 2020-an, para kreator mulai mengembangkan pendekatan baru dengan mengangkat tema psikologis, surealisme, dan persoalan sosial. Komik independen juga semakin menonjolkan karakter artistik masing-masing kreator dan berupaya menembus pasar internasional, termasuk Eropa. Teknologi turut dimanfaatkan untuk mendukung proses produksi. Sejumlah studio dan komikus independen mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu pewarnaan latar serta pengolahan efek visual guna menghemat waktu pengerjaan.
Di sisi lain, pemerintah Hong Kong mendukung regenerasi kreator melalui Hong Kong Comics Support Programme (HKCSP), yang diluncurkan pada 2021 oleh Hong Kong Comics and Animation Federation dengan dukungan pendanaan pemerintah. Hingga akhir 2025, program tersebut telah mendukung penerbitan 63 komik orisinal dan menghasilkan lebih dari 50 kesepakatan lisensi serta adaptasi.
Jeffrey Kwong menilai program itu membuka kesempatan lebih luas bagi komik Hong Kong untuk dikenal penerbit luar negeri. Bonnie Pang juga memandang dukungan tersebut membantu mengubah citra manhua yang selama ini kerap diasosiasikan dengan cerita bela diri klasik dan karakter maskulin. Meski demikian, industri komik Hong Kong masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari terbatasnya jumlah pembaca lokal hingga berkurangnya kios koran dan majalah yang dahulu menjadi saluran penjualan utama.
Jeffrey mengatakan kreator perlu membangun merek yang kuat agar masyarakat semakin mengenal dan tertarik membaca komik lokal. Ia juga melihat platform digital dan siaran langsung sebagai peluang untuk memasarkan karya secara langsung kepada pembaca. Selain memperkuat distribusi, keberlanjutan industri juga membutuhkan regenerasi pembaca. Para kreator didorong menghadirkan genre yang lebih beragam dan memperkenalkan komik kepada generasi muda melalui sekolah maupun jalur pendidikan lainnya. Jeffrey tetap optimistis terhadap masa depan manhua Hong Kong. Menurutnya, dukungan yang berkelanjutan, bertambahnya pembaca, serta masuknya investor swasta dapat membantu industri tersebut berkembang dalam tiga hingga lima tahun mendatang.(red)












