BeritaNasional

Komik Hong Kong Berjuang Bangkit, Bidik Pasar Internasional dan Generasi Muda

2
×

Komik Hong Kong Berjuang Bangkit, Bidik Pasar Internasional dan Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
Para pengunjung melihat-lihat salah satu galeri di Paviliun Hong Kong dalam festival budaya pop Indonesia Comic Con 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, pada 4 Oktober 2026. (Xinhua/Hanif Rusli)

JAKARTA, Xinhua, eNewskalteng.com – Industri komik Hong Kong berupaya kembali meraih kejayaan melalui pengembangan karya yang lebih beragam, perluasan pasar internasional, dan pemanfaatan teknologi digital. Upaya tersebut terlihat dalam keikutsertaan enam kreator komik Hong Kong pada festival budaya pop Indonesia Comic Con (ICC) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.

(Dari kiri ke kanan) Presiden Malaysia Comicker Union dan Malaysia Creative Intellectual Property Association (MYCIP) Lau Shaw Ming, Wai On, Linus Liu, Wakil Direktur HKETO Jakarta Nicholas Yeung, Jerry Cho, Bonnie Pang, Jeffrey Kwong, dan Hin berpose di depan Paviliun Hong Kong dalam festival budaya pop Indonesia Comic Con 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, pada 3 Oktober 2026. (Sumber: Akun Instagram HKETO Jakarta)

Keenam kreator tersebut adalah Jeffrey Kwong, Bonnie Pang, Linus Liu, Wai On, Hin, dan Jerry Cho. Mereka memamerkan karya orisinal sekaligus berinteraksi langsung dengan para penggemar di Paviliun Hong Kong pada 3–4 Oktober 2026.

Antusiasme pengunjung terlihat dari banyaknya orang yang mengamati karya, membeli buku, hingga mengantre untuk mendapatkan tanda tangan. Jeffrey Kwong mengatakan sejumlah buku komiknya berbahasa Inggris bahkan habis terjual selama acara berlangsung.

Bonnie Pang juga mengaku terkejut dengan sambutan penggemar di Indonesia. Popularitasnya melalui platform Webtoon turut memperkuat basis pembacanya di Tanah Air. Salah satu karyanya, Chronos Express, telah diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Populer pada akhir 2025.

Partisipasi para kreator tersebut merupakan hasil kolaborasi Panorama Media selaku penyelenggara ICC dengan Hong Kong Economic and Trade Office (HKETO) Jakarta. Kerja sama ini diharapkan memperluas jangkauan komik Hong Kong sekaligus membuka kesempatan pertukaran kreator dan pengembangan industri kreatif antara Hong Kong dan Indonesia.

Komik Hong Kong atau manhua pernah mengalami masa kejayaan pada era 1980-an hingga awal 1990-an. Penelitian Universitas Lingnan pada 2016 mencatat penjualan industri tersebut mencapai sekitar 50 juta eksemplar per tahun pada dekade 1980-an. Sejumlah judul populer bahkan mampu mencatat sirkulasi 80.000 hingga 200.000 eksemplar per edisi.

Salah satu karya yang dikenal luas adalah Old Master Q karya Alfonso Wong atau Wang Ze. Komik yang mengangkat kehidupan masyarakat perkotaan melalui humor dan sindiran sosial tersebut juga populer di Indonesia dengan judul Master Q.

Selain komedi, komik bergenre bela diri turut mendominasi pasar Hong Kong. Namun, kejayaan itu berangsur menurun akibat cerita yang cenderung monoton, perubahan selera pembaca, serta persaingan dengan manga Jepang. Volume penjualan industri komik Hong Kong dilaporkan merosot hingga 90 persen dibandingkan masa puncaknya.

Kini, para kreator mulai menawarkan pendekatan berbeda dengan mengeksplorasi tema psikologis, surealisme, dan persoalan sosial. Komik independen juga semakin menonjolkan ciri khas artistik masing-masing seniman serta berupaya menjangkau pembaca di pasar internasional.

Teknologi turut menjadi bagian dari transformasi tersebut. Sejumlah studio dan kreator independen mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu proses pewarnaan latar dan pengolahan efek visual, sehingga waktu produksi dapat dipangkas.

Pemerintah Hong Kong juga mendukung perkembangan industri melalui Hong Kong Comics Support Programme (HKCSP), yang diluncurkan pada 2021 oleh Hong Kong Comics and Animation Federation dengan dukungan pendanaan pemerintah. Hingga akhir 2025, program tersebut telah mendukung penerbitan 63 komik orisinal dan menghasilkan lebih dari 50 kesepakatan lisensi serta adaptasi.

Jeffrey Kwong menilai program tersebut membuka peluang lebih besar bagi karya komik Hong Kong untuk dikenal penerbit internasional. Sementara itu, Bonnie Pang mengatakan dukungan tersebut membantu memperluas citra manhua yang sebelumnya identik dengan cerita bela diri klasik menjadi lebih beragam.

Meski demikian, industri ini masih menghadapi kendala, antara lain terbatasnya basis pembaca lokal dan berkurangnya kios koran serta majalah yang dahulu menjadi saluran distribusi komik. Banyak pembaca di Hong Kong juga lebih menyukai manga Jepang.

Jeffrey menilai pemanfaatan platform digital, termasuk penjualan melalui siaran langsung, dapat menjadi alternatif untuk menjangkau konsumen secara langsung. Selain itu, kreator perlu membangun merek yang kuat dan menghadirkan cerita dengan beragam genre agar dapat menarik pembaca baru.

Pengenalan komik melalui sekolah juga dinilai dapat membantu menumbuhkan minat generasi muda. Dengan demikian, keberlanjutan industri tidak hanya bergantung pada dukungan pemerintah, tetapi juga pada kemampuan kreator beradaptasi terhadap perubahan selera dan kebiasaan membaca.

Jeffrey tetap optimistis bahwa industri komik Hong Kong memiliki peluang untuk berkembang kembali. Ia memperkirakan hasil dari berbagai upaya pembenahan tersebut dapat mulai terlihat dalam tiga hingga lima tahun mendatang, seiring bertambahnya dukungan dan peluang investasi swasta.(red)