HEFEI, Xinhua, eNewskalteng.com – Pendidikan kejuruan tidak hanya menjadi sarana bagi mahasiswa Indonesia untuk mengembangkan keterampilan profesional di Tiongkok, tetapi juga membuka kesempatan mengenal budaya, membangun persahabatan, dan memahami kehidupan masyarakat setempat. Pengalaman tersebut dirasakan Nurkholish, mahasiswa asal Provinsi Banten yang telah menempuh pendidikan selama dua tahun di Universitas Teknik Kejuruan Wuhu, Kota Wuhu, Provinsi Anhui, Tiongkok timur.

Di kamar asramanya, sejumlah buku berbahasa Mandarin tersusun di rak, berdampingan dengan lampion berbentuk ikan khas Huizhou dan foto kampung halamannya. Benda-benda tersebut menjadi bagian dari perjalanan Nurkholish dalam mempelajari bahasa sekaligus mengenal budaya baru. Pemuda berusia 21 tahun itu mengaku sempat mengalami kesulitan beradaptasi dengan cuaca dan makanan setempat ketika pertama kali tiba di Tiongkok. Namun, seiring berjalannya waktu, dia mulai terbiasa dengan kehidupan sehari-hari, termasuk memanfaatkan aplikasi ponsel untuk membeli kebutuhan makanan segar.
Menurut Nurkholish, pihak kampus juga rutin mengadakan kegiatan kebudayaan, seperti perayaan Festival Musim Semi dan Festival Perahu Naga. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa asing untuk mengenal tradisi masyarakat Tiongkok. Di luar kegiatan perkuliahan, dia kerap menghabiskan waktu bersama teman-teman sekelasnya untuk mengunjungi berbagai tempat dan menikmati suasana Kota Wuhu. Pengalaman itu membuatnya semakin dekat dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Universitas Teknik Kejuruan Wuhu bersama Anhui Conch Group Co., Ltd. telah meluncurkan program kelas industri internasional Conch pada 2019. Program tersebut dirancang untuk menyiapkan tenaga teknis lokal yang dibutuhkan perusahaan dalam menjalankan operasionalnya di Indonesia. Hingga kini, program tersebut telah menampung lebih dari 140 mahasiswa asal Indonesia. Kehadiran mereka turut menjadikan lingkungan kampus sebagai ruang pertemuan bagi generasi muda kedua negara untuk bertukar pengalaman dan mengenal kebudayaan masing-masing.
Selain melalui kegiatan budaya, kedekatan dengan kehidupan masyarakat Tiongkok juga dirasakan Dwinita Asty Kusuma, mahasiswa asal Kalimantan Selatan berusia 22 tahun yang telah tinggal selama dua tahun di negara tersebut. Dwinita mengaku senang menjelajahi berbagai kuliner khas daerah bersama teman-teman kuliahnya. Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah kemiripan sejumlah makanan lokal, seperti pai goreng khas Wuhu, dengan hidangan yang biasa dijumpai di Indonesia. Menurutnya, kesamaan cita rasa tersebut menghadirkan suasana akrab sekaligus memudahkannya menjalin pertemanan dan mengenal lingkungan baru. Dia juga mengapresiasi perkembangan transportasi publik di Tiongkok, khususnya jaringan kereta cepat dan kereta ringan yang luas dengan biaya relatif terjangkau.
Berbagai pengalaman itu membuat pemahamannya tentang Tiongkok semakin luas. Baginya, mengenal suatu negara tidak cukup hanya melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan masyarakat, kehidupan perkotaan, dan kebiasaan sehari-hari. Dwinita berharap dapat membagikan pengalaman tersebut kepada masyarakat Indonesia setelah menyelesaikan pendidikannya agar semakin banyak orang mengenal kehidupan di Tiongkok secara langsung.
Pengalaman serupa juga dibagikan Brayen Difan Makatiwo, alumnus Universitas Teknik Kejuruan Wuhu yang menyelesaikan studinya pada 2025. Setelah lulus, dia bekerja di Conch Indonesia sebagai asisten manajer umum. Kemampuan berbahasa Mandarin serta pengetahuan manajemen yang diperolehnya selama kuliah menjadi bekal penting dalam menjalankan pekerjaan, terutama ketika berkomunikasi dengan rekan kerja dari latar belakang budaya berbeda.
Brayen menilai penguasaan bahasa Mandarin memberikan nilai tambah bagi tenaga kerja Indonesia, khususnya di tengah semakin banyaknya perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Tanah Air. Menurutnya, kemampuan tersebut membantu tenaga profesional lokal memahami panduan penggunaan peralatan, mengikuti rapat, hingga mengoperasikan teknologi canggih buatan Tiongkok. Keterampilan itu sekaligus memperluas peluang kerja di berbagai sektor industri.
Selain berkarier, Brayen juga dipercaya menjadi penghubung alumni universitas tersebut di Indonesia. Melalui peran itu, dia membagikan pengalaman pendidikan dan kehidupan di Tiongkok kepada generasi muda yang berminat melanjutkan studi ke negara tersebut. Dia berharap ilmu profesional, pengalaman manajemen, serta pemahaman lintas budaya yang diperolehnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan industri di Indonesia. Brayen juga ingin membantu lebih banyak mahasiswa Indonesia menemukan peluang pendidikan dan pekerjaan yang sesuai melalui kemampuan bahasa Mandarin serta pengalaman yang telah dimilikinya.
Kisah para mahasiswa dan alumni tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kejuruan dapat menjadi jembatan penguatan hubungan Indonesia dan Tiongkok. Selain menghasilkan tenaga kerja terampil, program pendidikan lintas negara juga membuka ruang pertukaran budaya, mempererat persahabatan, serta memperluas kesempatan kerja sama kedua negara.(red)












