BeritaInternasionalTeknologi

Belajar Robotika hingga AI di Tiongkok, Mahasiswa Indonesia Siapkan Diri Hadapi Dunia Kerja

2
×

Belajar Robotika hingga AI di Tiongkok, Mahasiswa Indonesia Siapkan Diri Hadapi Dunia Kerja

Sebarkan artikel ini
Foto dokumentasi ini menunjukkan mahasiswa mancanegara berfoto bersama saat merayakan Festival Perahu Naga di kampus Universitas Teknik Kejuruan Wuhu di Wuhu, Provinsi Anhui, Tiongkok timur. (Xinhua)

HEFEI, 30 Oktober (Xinhua), eNewskalteng.com — Belasan mahasiswa Indonesia tampak sibuk mempelajari pengoperasian alat berat konstruksi di sebuah pusat pelatihan Universitas Teknik Kejuruan Wuhu, Provinsi Anhui, Tiongkok timur. Di antara mereka, Nurkholish (21) terlihat aktif membimbing teman-teman sekelasnya, mendemonstrasikan prosedur kepada peserta baru sekaligus menerjemahkan penjelasan instruktur ke dalam bahasa Indonesia.

Bagi Nurkholish, pusat pelatihan konstruksi prefabrikasi tersebut bukanlah tempat baru. Dia pernah menghabiskan malam-malam panjang di sana untuk mempersiapkan diri mengikuti kompetisi keterampilan vokasi. Bersama instrukturnya, dia juga mengembangkan dan menguji robot inspeksi dinding yang dirancang untuk mendeteksi retakan pada bangunan.

Nurkholish merupakan mahasiswa asal Provinsi Banten yang melanjutkan pendidikan di Tiongkok setelah sebelumnya menempuh studi teknik mesin di sebuah universitas di Indonesia. “Banjir dan hujan lebat menjadi hal yang biasa di negara kami. Kondisi tersebut dapat merusak bangunan tempat tinggal. Karena itu, saya ingin membangun gedung yang memiliki ketahanan lebih baik,” ujarnya.

Hampir setiap hari, Nurkholish memulai aktivitasnya pukul 06.30. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengikuti perkuliahan dan pelatihan praktik. Pada awal masa studinya, penggunaan bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar menjadi tantangan tersendiri. Namun, dia tidak ragu meminta bantuan para pengajar ketika mengalami kesulitan memahami materi. “Para guru di sini sangat sabar. Penjelasan mereka lebih terperinci dan peralatan pelatihannya pun lebih baik dibandingkan dengan yang pernah saya gunakan di tanah air,” tuturnya. Setelah lulus, Nurkholish berharap dapat menerapkan pengetahuan mengenai inspeksi bangunan yang diperolehnya di Tiongkok untuk membantu meningkatkan kualitas konstruksi di kampung halamannya.

Pengalaman Nurkholish merupakan bagian dari upaya yang lebih luas dalam mempersiapkan tenaga terampil Indonesia untuk mendukung operasional perusahaan-perusahaan Tiongkok di luar negeri. Pada 2019, Universitas Teknik Kejuruan Wuhu bersama Anhui Conch Group Co., Ltd. meluncurkan program “International Order Class” Conch. Program yang dirancang berdasarkan kebutuhan perusahaan tersebut di Indonesia ini menyediakan pelatihan dalam berbagai bidang, termasuk otomatisasi, robotika industri, kecerdasan buatan (AI), dan teknik konstruksi.

Sejak diluncurkan, program tersebut telah menerima lebih dari 140 mahasiswa Indonesia. Seluruh lulusannya dilaporkan telah bergabung dengan perusahaan-perusahaan Conch di Indonesia. Selain belajar di Tiongkok, para mahasiswa juga berkesempatan mengikuti sebagian pelatihan di dua sanggar kerja yang didirikan universitas tersebut di Indonesia. Mereka juga dapat memanfaatkan fasilitas pusat pendidikan vokasi di Jakarta yang didirikan melalui kerja sama antara universitas dan Conch.

Salah satu peserta program tersebut adalah Dwinita Asty Kusuma (22), mahasiswi asal Provinsi Kalimantan Selatan yang kini mendalami aplikasi teknologi AI. Sebelum melanjutkan pendidikan ke Tiongkok, Dwinita pernah bekerja di sebuah kedai kopi di Indonesia. Ketika melihat semakin banyak perusahaan Tiongkok berinvestasi di negaranya, dia memutuskan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. “Semakin banyak perusahaan Tiongkok yang melakukan ekspansi ke Indonesia. Kebutuhan akan tenaga kerja lokal yang menguasai bahasa Mandarin sekaligus memiliki keterampilan teknis pun semakin meningkat. Saya ingin menantang diri saya sendiri,” katanya.

Dalam kegiatan perkuliahan, Dwinita memanfaatkan alat penerjemah dan perangkat lunak berbasis AI untuk membantunya menyelesaikan tugas-tugas yang sulit. Ke depan, dia berharap dapat meningkatkan kemampuannya dalam melakukan pengawakutuan (debugging) kode serta menerapkan teknologi AI untuk menjawab berbagai persoalan praktis di Indonesia. Salah satu bidang yang ingin dikembangkannya adalah peningkatan kualitas situs web layanan daring lokal.

Menurut Zhu Zhiguo, penanggung jawab pendidikan internasional di Universitas Teknik Kejuruan Wuhu, proses pembelajaran dalam program tersebut dirancang agar mahasiswa memperoleh pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan industri. “Selama pelatihan, pihak universitas menghadirkan para teknisi dari Conch ke ruang kelas untuk mengajar. Kami juga secara rutin mengadakan kunjungan ke lini produksi perusahaan agar pembelajaran di kelas dapat terhubung langsung dengan proses produksi di lapangan,” kata Zhu.

Bagi Dwinita, pendidikan yang ditempuhnya di Tiongkok menjadi bekal untuk membawa keterampilan digital kembali ke Indonesia dan berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan teknologi informasi di daerah.

Sementara itu, Nurkholish berharap dapat terlibat dalam berbagai proyek konstruksi di kampung halamannya serta membantu memastikan kualitas dan ketahanan bangunan. Kisah keduanya menggambarkan bagaimana pendidikan vokasi dapat menjadi jembatan kerja sama Indonesia dan Tiongkok. Melalui penguasaan keterampilan teknis, teknologi, dan pengalaman praktik industri, mahasiswa Indonesia tidak hanya mempersiapkan diri menghadapi persaingan dunia kerja, tetapi juga membawa bekal pengetahuan untuk mendukung pembangunan di tanah air.(red)