HAIKOU, 12 September (Xinhua), enewskalteng.com — Aroma khas biji kopi yang baru disangrai terasa kuat di kawasan Taman Budaya Kopi Xinglong, Kota Wanning, Provinsi Hainan, Tiongkok selatan. Di salah satu sudut kawasan tersebut, barista Liang Dongru sibuk mengolah biji kopi menggunakan mesin sangrai. Ia menjaga suhu dan proses pemanggangan secara cermat untuk menghasilkan karakter rasa yang menjadi ciri khas kopi Xinglong. Menurut Liang, proses pemanggangan dilakukan dengan suhu relatif rendah dan secara perlahan. Dalam teknik tradisional yang digunakan, mentega, gula putih, dan sedikit garam turut ditambahkan sehingga menghasilkan cita rasa yang lebih lembut, kaya, dan halus.

Xinglong merupakan kawasan yang dikenal sebagai Zona Ekonomi Pariwisata Tionghoa Perantauan Xinglong. Wilayah tersebut berada di bawah administrasi Kota Wanning, Hainan, dan memiliki sejarah panjang sebagai tempat tinggal masyarakat Tionghoa perantauan yang kembali ke Tiongkok bersama keluarganya sejak dekade 1950-an. Para warga yang kembali dari perantauan tidak hanya membawa pengalaman dan budaya dari tempat mereka bermukim sebelumnya, tetapi juga membawa tanaman kopi serta keterampilan mengolah dan menyangrai biji kopi. Warisan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi kopi khas Xinglong. Kopi yang dihasilkan menggunakan biji Robusta yang dibudidayakan secara lokal dan diolah dengan campuran mentega, gula, serta sedikit garam. Perpaduan tersebut menghasilkan minuman dengan rasa kuat dan aroma khas. Perkembangan budaya minum kopi di Xinglong bahkan tercermin dari tingginya konsumsi masyarakat setempat.
Ye Jian, Kepala Asosiasi Industri Kopi Xinglong sekaligus Manajer Umum CP (Hainan) Xinglong Coffee Industrial Development Co., Ltd., mengatakan konsumsi kopi tahunan per kapita masyarakat Xinglong kini telah mencapai lebih dari 200 cangkir. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan konsumsi rata-rata masyarakat Tiongkok secara nasional yang berada sedikit di atas 20 cangkir per tahun.
Kopi sendiri baru berkembang luas di Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir. Sebelum era keterbukaan ekonomi, minuman tersebut belum menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi mayoritas masyarakat. Popularitas kopi kemudian meningkat setelah Nestle memperkenalkan produk kopi instan di pasar Tiongkok pada dekade 1980-an. Memasuki akhir 1990-an hingga awal 2000-an, kehadiran jaringan kedai kopi internasional seperti Starbucks dan Costa Coffee semakin memperkuat pertumbuhan budaya kopi di negara tersebut.
Seiring perubahan gaya hidup dan meningkatnya permintaan, industri kopi Tiongkok berkembang pesat. Sejumlah laporan industri mencatat nilai industri kopi nasional mencapai 354,9 miliar yuan pada 2025, meningkat 13,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, konsumsi kopi per kapita secara nasional juga meningkat menjadi sekitar 28,57 cangkir per tahun. Di tengah pertumbuhan tersebut, Wanning mengambil posisi sebagai salah satu pusat produksi kopi Robusta di Tiongkok. Pemerintah setempat dalam beberapa tahun terakhir terus mengembangkan ekosistem industri yang tidak hanya berfokus pada perkebunan, tetapi juga mencakup pengolahan, perdagangan elektronik, budaya, hingga pariwisata. Pengembangan tersebut membuat kopi Xinglong memiliki nilai lebih luas. Produk kopi tidak lagi sekadar menjadi komoditas konsumsi, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari identitas budaya Hainan.
Upaya regenerasi tenaga profesional turut dilakukan melalui program “Barista Xinglong” yang mulai dikembangkan Wanning sejak 2021. Program tersebut membuka kesempatan bagi generasi muda untuk menjadikan keterampilan meracik kopi sebagai pilihan karier. Hingga Juli 2026, sebanyak 2.476 tenaga profesional telah mendapatkan pelatihan untuk mendukung perkembangan industri kopi di wilayah tersebut.
Xinglong juga semakin terhubung dengan kerja sama internasional. Sejumlah pelaku industri dari negara-negara mitra Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative) datang ke Wanning untuk mempelajari teknik pembibitan dan budi daya berbagai tanaman tropis, termasuk kopi, lada, dan kakao. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengalaman Xinglong dalam mengembangkan pertanian tropis dan industri pengolahan mulai menarik perhatian dari luar negeri.
Pada Desember 2025, sebuah pusat perdagangan dan operasional kopi internasional mulai beroperasi di Xinglong. Fasilitas tersebut memanfaatkan berbagai kebijakan perdagangan yang tersedia melalui Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan. Keberadaan pusat tersebut diharapkan memperluas akses kopi Xinglong ke pasar internasional sekaligus mendorong kerja sama dengan lebih banyak pelaku industri dari berbagai negara.
Ye Jian mengatakan kopi Xinglong kini semakin mendapatkan perhatian dari komunitas internasional. Menurutnya, peningkatan jumlah mitra dapat membuka peluang lebih besar untuk memperkuat perdagangan biji kopi sekaligus memperluas pertukaran budaya yang berkaitan dengan kopi. Dengan perpaduan antara sejarah masyarakat perantauan, tradisi pengolahan kopi, pengembangan industri, dan pariwisata, Xinglong perlahan membentuk identitas sebagai salah satu kota tropis yang tumbuh bersama budaya kopi.(red)
Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 22 April 2026 ini memperlihatkan pemandangan taman budaya kopi Xinglong di Kota Wanning, Provinsi Hainan, Tiongkok selatan. (Xinhua)












