BEIJING, 11 September (Xinhua), eNewskalteng.com – Presiden Tiongkok Xi Jinping kembali mendorong penguatan solidaritas dan kolaborasi negara-negara Global South melalui berbagai forum multilateral. Agenda tersebut menjadi salah satu fokus dalam rangkaian keterlibatannya di Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/SCO) dan BRICS.

Xi dijadwalkan bertolak ke New Delhi untuk menghadiri pertemuan BRICS tahun ini, setelah sebelumnya mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) SCO di Bishkek, ibu kota Kirgizstan, yang berlangsung lebih dari sepekan sebelumnya.
Dua agenda internasional tersebut memperlihatkan perhatian yang kuat terhadap penguatan kerja sama negara-negara berkembang. Dalam berbagai kesempatan, Xi menempatkan solidaritas, pembangunan bersama dan peningkatan peran Global South sebagai bagian penting dalam hubungan internasional.
SCO dan BRICS Semakin Berkembang
Dalam KTT SCO di Bishkek yang ditutup pada Selasa (1/9), Xi menyebut SCO memiliki keterkaitan yang erat dengan negara-negara Global South. Ia menyerukan agar organisasi tersebut terus berkontribusi terhadap pembangunan serta kebangkitan negara-negara berkembang melalui apa yang disebutnya sebagai “Kearifan SCO”.
Gagasan mengenai penguatan kerja sama Global South juga diperkirakan kembali disampaikan Xi dalam KTT BRICS mendatang. Sebelumnya, ia menyatakan bahwa BRICS berada di garis depan Global South.
Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi kedua organisasi tersebut. SCO memperingati 25 tahun berdirinya, sementara mekanisme kerja sama BRICS memasuki usia 20 tahun.
Dalam beberapa tahun terakhir, SCO dan BRICS terus memperluas keanggotaan serta membangun jaringan kemitraan dengan semakin banyak negara berkembang. Jika digabungkan, anggota kedua organisasi tersebut mewakili lebih dari separuh populasi dunia dan sekitar 30 persen perekonomian global.
Perkembangan itu semakin memperkuat posisi SCO dan BRICS sebagai platform penting bagi kerja sama negara-negara Global South.
Xi turut mendorong perluasan kedua wadah tersebut melalui berbagai gagasan, termasuk konsep “BRICS Plus” dan pembangunan komunitas SCO dengan masa depan bersama. Pendekatan itu dinilai membuka ruang lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan.
Kepala Pusat Studi ASEAN-Tiongkok di Universitas Indonesia, Humprey Arnaldo Russel, menilai Tiongkok di bawah kepemimpinan Xi telah memberikan arah dan dorongan yang kuat bagi perkembangan BRICS maupun SCO.
“Tiongkok secara konsisten telah memberikan visi dan momentum yang jelas bagi BRICS dan SCO, baik secara konseptual maupun dalam praktik,” ujar Russel.
Menurut dia, perkembangan tersebut turut mengubah BRICS dari kelompok yang relatif terbatas menjadi wadah kerja sama yang lebih luas bagi negara-negara berkembang dan Global South.
Pembangunan Menjadi Prioritas
Dalam KTT SCO di Bishkek, Xi juga menyerukan agar negara-negara anggota tetap menempatkan pembangunan sebagai prioritas dan menciptakan peluang menuju kemakmuran bersama.
Seruan tersebut disampaikan di tengah kondisi global yang masih menghadapi ketidakpastian dan berbagai tantangan pembangunan. Bagi negara-negara Global South, upaya mencapai kemajuan ekonomi dan kesejahteraan bersama masih menghadapi jalan yang tidak mudah.
Dalam KTT BRICS 2024 di Kazan, Rusia, Xi sebelumnya menekankan bahwa kebangkitan Global South berkaitan erat dengan pembangunan. Ia mendorong negara-negara berkembang menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan pembangunan bersama.
Pembangunan, menurut Xi, merupakan salah satu kunci untuk mengatasi berbagai persoalan. Pandangan tersebut juga tercermin dari kebijakan pengentasan kemiskinan yang dilakukan Tiongkok.
Xi berulang kali menekankan prinsip agar tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam proses pengentasan kemiskinan. Kampanye pengentasan kemiskinan ekstrem di Tiongkok kemudian disebut sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah pengentasan kemiskinan.
Prinsip tersebut kemudian diperluas dalam pandangannya mengenai modernisasi global.
“Di jalur menuju modernisasi, tidak seorang pun, dan tidak ada negara mana pun, yang boleh tertinggal,” kata Xi.
Dalam pertemuan di Bishkek, Xi juga menyerukan peningkatan kerja sama di berbagai bidang, baik sektor tradisional maupun bidang-bidang yang berkembang pesat. Kerja sama tersebut mencakup perdagangan, investasi, konektivitas dan energi, hingga kecerdasan buatan (AI), ekonomi digital serta industri hijau.
Salah satu bentuk konkret gagasan tersebut adalah Inisiatif Pembangunan Global (Global Development Initiative/GDI), yang tahun ini memasuki tahun kelima sejak diluncurkan.
Selama lima tahun, GDI telah menghimpun pendanaan lebih dari 23 miliar dolar AS. Inisiatif tersebut juga memberikan dukungan terhadap lebih dari 1.800 proyek yang berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat serta menyelenggarakan program pelatihan bagi lebih dari 200.000 orang dari berbagai bidang profesi.
Pemimpin redaksi surat kabar Delovoy Kazakhstan, Serik Korzhumbayev, mengatakan konsep pembangunan yang didorong Xi kini memiliki dimensi internasional yang semakin luas dan menjadi bagian dari visi mengenai masa depan bersama umat manusia.
Mendorong Suara Global South Lebih Besar
Selain pembangunan, Xi juga mendorong agar negara-negara Global South memperoleh representasi dan ruang yang lebih besar dalam tata kelola internasional.
Dalam KTT SCO di Tianjin pada 2025, Xi mengusulkan Inisiatif Tata Kelola Global (Global Governance Initiative/GGI). Gagasan tersebut diarahkan untuk mendorong sistem tata kelola dunia yang lebih adil dan setara.
Prinsip utama yang ditekankan adalah bahwa seluruh negara harus memiliki posisi serta kesempatan yang setara dalam tata kelola global.
Xi menilai persoalan internasional tidak seharusnya ditentukan hanya oleh negara atau kelompok yang memiliki kekuatan lebih besar. Dalam pertemuan di Bishkek, ia menegaskan bahwa persoalan dunia semestinya dibahas bersama dan norma internasional ditetapkan melalui kesepakatan bersama.
“Urusan dunia harus dibahas bersama, dan norma internasional harus ditetapkan bersama,” ujarnya.
Ia juga menilai negara-negara Global South memiliki posisi penting dalam pembentukan dunia multipolar sehingga perlu mendapatkan representasi serta suara yang lebih kuat dalam urusan internasional.
Selama bertahun-tahun, SCO dan BRICS berkembang menjadi forum bagi negara-negara Global South untuk menyampaikan kepentingan, menyelaraskan posisi dan memperkuat pengaruh secara kolektif.
Peran tersebut juga terlihat dari koordinasi politik kedua kelompok dalam menyikapi berbagai persoalan internasional dan regional. Pada Maret tahun ini, misalnya, negara-negara anggota SCO mengeluarkan pernyataan yang menyampaikan keprihatinan serius terhadap perkembangan di Timur Tengah dan serangan terhadap Iran.
Di bidang ekonomi dan keuangan, Xi juga telah mendorong terbentuknya mekanisme pembiayaan alternatif. Pada 2014, ia bersama pemimpin negara BRICS lainnya menandatangani perjanjian pendirian New Development Bank (NDB), yang bertujuan menyediakan sumber pembiayaan bagi pembangunan infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang.
Sementara itu, dalam KTT SCO di Bishkek, negara-negara anggota kembali menegaskan pentingnya pembentukan SCO Development Bank.
Kerja Sama Teknologi dan AI
Dorongan untuk memperbesar peran Global South kini juga mencakup sektor teknologi yang dinilai akan menentukan arah masa depan.
Pada Juli tahun ini, Xi mengumumkan pembentukan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia (World Artificial Intelligence Cooperation Organization/WAICO). Ia menyerukan kerja sama internasional untuk membangun tata kelola AI global yang lebih adil dan setara.
Menurut Xi, kerja sama tersebut juga perlu membantu negara-negara Global South meningkatkan kapasitas mereka agar kesenjangan dalam bidang AI dan digital dapat diperkecil.
“Kita harus menjalin kerja sama internasional yang luas dan membantu negara-negara Global South dalam peningkatan kapasitas guna menjembatani kesenjangan AI dan digital, mendorong pembangunan berkelanjutan, serta mencegah terciptanya ketidakadilan historis yang baru di bidang AI,” ujarnya.
Upaya memperkuat kerja sama dengan negara-negara berkembang juga dilakukan Tiongkok melalui berbagai mekanisme lain, termasuk Forum Kerja Sama Tiongkok-Afrika (Forum on China-Africa Cooperation/FOCAC) dan KTT Tiongkok-ASEAN. Xi dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa Tiongkok merupakan bagian dari Global South dan dunia berkembang. “Bagaimana pun lanskap internasional berkembang, kami di Tiongkok akan selalu menempatkan Global South di dalam hati kami, dan menjaga akar kami di dalam Global South,” kata Xi.(red)












