BeritaPemkab KapuasPeristiwa

Karhutla di Kapuas Capai 1.530 Hektare, Polres Kapuas Perkuat Mitigasi Berbasis Masyarakat

6
×

Karhutla di Kapuas Capai 1.530 Hektare, Polres Kapuas Perkuat Mitigasi Berbasis Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Usai melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Internal Polres Kapuas bertema Strategi Mitigasi Karhutla Berbasis Masyarakat, Kapolres Kapuas AKBP Rina Perwitasari yang diwakili Wakapolres Kapuas Kompol Susilowati photo bersama dengan jajaran anggotanya.(Photo/ali)

KUALA KAPUAS. eNewskalteng.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, menjadi perhatian serius. Terlebih, karakteristik lahan gambut membuat bara api dapat bertahan di bawah permukaan meski api terlihat sudah padam.

Kombes Pol Eka Djunaidi dan Kombes Pol Andi Sofian saat menyamnpaikan arahannya.(Photo/ali)

Kondisi tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Internal Polres Kapuas bertema Strategi Mitigasi Karhutla Berbasis Masyarakat, sebagai bagian dari Serdik Sespimmen Polri Dikreg Ke-67 TA 2026, Kamis (10/9/2026). Kegiatan diikuti 10 Serdik yang didampingi Kombes Pol Eka Djunaidi dan Kombes Pol Andi Sofian. FGD juga dihadiri PJU Polres Kapuas, para kapolsek dan bhabinkamtibmas.

Kapolres Kapuas AKBP Rina Perwitasari diwakili Wakapolres Kapuas Kompol Susilowati. “Kapuas termasuk lima besar dalam upaya penanggulangan karhutla di Polda Kalimantan Tengah,” ujar Susilowati.

Data 1 Januari hingga 5 September 2026 mencatat 17.371 hotspot, 198 kejadian karhutla, dan 1.530,92 hektare lahan terbakar. Petugas telah melakukan 146 kali pemadaman darat dan 89 kali pengecekan karhutla maupun hotspot. Tidak ada korban meninggal maupun luka-luka. Delapan wilayah menjadi prioritas pemadaman, yakni Kapuas Tengah, Mantangai, Timpah, Dadahup, Kapuas Murung, Kapuas Timur, Basarang dan Kapuas Barat.

Kombes Pol Eka Djunaidi menegaskan, penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan aparat, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat. “Karhutla terjadi setiap musim kemarau panjang. Karena itu, penanganannya harus dilakukan bersama, termasuk melibatkan masyarakat,” pungkasnya.(Ali)