BeritaInternasionalNasionalTeknologi

Tiongkok-Indonesia Perkuat Kemitraan Energi Baru dan Terbarukan

1
×

Tiongkok-Indonesia Perkuat Kemitraan Energi Baru dan Terbarukan

Sebarkan artikel ini
Para pengunjung mengamati papan informasi di area ekshibisi Indonesia pada Pameran Industri Energi Internasional (Taiyuan) Tiongkok 2026 di Kota Taiyuan, Provinsi Shanxi, pada 4 September 2026. (Xinhua/Chen Zhihao)

TAIYUAN, 10 September (Xinhua), eNewskalteng.com — Kemitraan antara Tiongkok dan Indonesia di sektor energi baru terus menunjukkan perkembangan. Kerja sama yang sebelumnya banyak berada pada tahap penjajakan kini mulai diwujudkan melalui pembangunan proyek, pengembangan teknologi, hingga penguatan rantai pasok industri energi bersih.

Para pengusaha Tiongkok meminta informasi mengenai perusahaan-perusahaan Indonesia di Pameran Industri Energi Internasional (Taiyuan) Tiongkok 2026 di Kota Taiyuan, Provinsi Shanxi, pada 4 September 2026. (Xinhua/Chen Zhihao)

Perkembangan tersebut terlihat dalam Pameran Industri Energi Internasional (Taiyuan) Tiongkok 2026 di Kota Taiyuan, Provinsi Shanxi. Untuk pertama kalinya, delegasi Indonesia turut ambil bagian dalam pameran yang mempertemukan pelaku industri energi dari berbagai pihak tersebut. Energi baru menjadi salah satu isu utama yang menarik perhatian peserta dari kedua negara. Berbagai peluang kerja sama dibahas, mulai dari pembangkit listrik tenaga surya dan angin, peralatan energi baru, teknologi penyimpanan energi, hingga pengembangan industri pendukung.

Qiu Xingyi, salah seorang perwakilan peserta pameran asal Indonesia, menilai peluang kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok di sektor energi baru sangat besar. Menurut dia, kerja sama tidak hanya dapat dilakukan pada sektor batu bara, tetapi juga mencakup energi angin dan fotovoltaik. Ia mengatakan perusahaannya dalam beberapa tahun terakhir telah membantu sejumlah perusahaan Tiongkok mengembangkan kegiatan bisnis di bidang energi baru di Indonesia.

Peluang tersebut sejalan dengan perkembangan transisi energi di Shanxi. Sebagai salah satu provinsi penghasil energi utama di Tiongkok, Shanxi kini terus meningkatkan pemanfaatan energi baru dan mempercepat transformasi sistem energinya. Data menunjukkan kapasitas terpasang energi baru dan energi bersih di Shanxi pada 2025 mencapai 90,48 juta kilowatt. Angka itu bertambah 18,29 juta kilowatt dibandingkan tahun sebelumnya dan menyumbang 55,1 persen dari total kapasitas pembangkit listrik provinsi tersebut.

Untuk pertama kalinya, kapasitas energi baru dan energi bersih di Shanxi juga melampaui kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara. “Kami berharap dapat memanfaatkan pameran ini untuk menemukan lebih banyak teknologi dan produk energi baru yang dapat diterapkan di Indonesia,” kata Liu Chen Zhi, perwakilan perusahaan energi Indonesia.

Pameran tersebut turut menghadirkan zona khusus yang menampilkan teknologi, peralatan, produk, serta model bisnis terbaru terkait energi baru dan sistem tenaga listrik generasi baru. Kehadiran zona tersebut menjadi salah satu ruang bagi perusahaan Indonesia untuk menjajaki peluang kerja sama dengan pelaku industri Tiongkok.

Indonesia sendiri memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Sumber daya seperti energi surya, tenaga air, dan panas bumi tersedia di berbagai wilayah Indonesia. Di sisi lain, Tiongkok mempunyai basis industri yang kuat dalam produksi peralatan energi baru, pembangunan proyek, teknologi penyimpanan energi, serta pengelolaan dan pengoperasian sistem berbasis digital.

Xu Zaishan, wakil ketua eksekutif Indonesia China Business Council (ICBC), mengatakan Indonesia dapat memanfaatkan pengalaman dan teknologi Tiongkok yang telah berkembang untuk mempercepat pembangunan proyek energi baru. “Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kebutuhan energi yang sangat besar, tetapi porsi energi baru dalam bauran energinya masih relatif rendah. Sementara itu, Tiongkok telah mengembangkan teknologi yang relatif matang di sektor energi baru. Di sinilah kedua negara dapat menemukan peluang kerja sama,” ujar Xu.

Kerja sama tersebut bukan lagi sebatas wacana. Sejumlah proyek yang melibatkan perusahaan Tiongkok telah beroperasi di Indonesia dan menjadi contoh konkret kolaborasi kedua negara di sektor energi bersih. Salah satunya adalah proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung Cirata di Jawa Barat yang dibangun oleh PowerChina. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas terpasang 192 megawatt dan menjadi salah satu proyek PLTS terapung berskala besar di Indonesia maupun Asia Tenggara.

Proyek Cirata telah terhubung sepenuhnya ke jaringan listrik pada 2023. Sejak beroperasi, pembangkit tersebut memasok energi bersih ke sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali. Selain menghasilkan listrik, proyek itu turut memberikan manfaat melalui pelatihan keterampilan dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Contoh lainnya adalah proyek PLTS Karawang berkapasitas 100 megawatt yang dibangun perusahaan Tiongkok. Proyek tersebut resmi diserahterimakan untuk dioperasikan pada 2024.

PLTS Karawang diperkirakan mampu menghasilkan lebih dari 150 juta kilowatt-jam listrik bersih setiap tahun. Produksi tersebut dapat memenuhi kebutuhan listrik tahunan sekitar 112.000 rumah tangga sekaligus membantu menekan emisi karbon dioksida sekitar 114.700 ton. Pembangunan fasilitas tersebut juga memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lebih dari 1.000 lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat. Seiring bertambahnya proyek pembangkit energi baru, cakupan kerja sama kedua negara juga bergerak menuju pengembangan rantai pasok industri.

Pada Agustus 2025, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Bahlil Lahadalia melakukan pembicaraan dengan sejumlah perusahaan fotovoltaik tenaga surya dalam kunjungannya ke Tiongkok. Pertemuan tersebut antara lain membahas peluang memperluas kerja sama dalam pengembangan rantai industri dan ekosistem energi surya. Pemerintah Indonesia berharap investasi dan transfer teknologi dapat mempercepat pengembangan industri sel surya, modul, sistem penyimpanan energi, serta berbagai industri pendukung lainnya.

Kerja sama bilateral juga mulai berkembang dari sekadar pembangunan pembangkit menuju sektor manufaktur. Berdasarkan informasi Kantor Ekonomi dan Komersial Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Republik Indonesia, sejumlah industri yang mendapatkan investasi dari perusahaan Tiongkok, termasuk baterai energi baru dan kendaraan listrik, mengalami perkembangan pesat di Indonesia.

Pertumbuhan sektor tersebut dinilai turut mendukung upaya Indonesia meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Indonesia secara bertahap diarahkan untuk tidak hanya berperan sebagai eksportir bahan mentah, tetapi juga menjadi basis penting bagi pengolahan logam serta pengembangan industri energi baru di tingkat global.

Dari sisi kebijakan, kedua negara juga terus memperkuat landasan kerja sama energi. Dalam Forum Energi Tiongkok-Indonesia ketujuh yang berlangsung pada September 2024, kedua pihak menyatakan komitmen untuk memperluas kolaborasi di bidang energi terbarukan dan teknologi energi baru, sembari mempertahankan kerja sama pada sektor energi tradisional.

Indonesia juga menyatakan keinginannya untuk mengoptimalkan potensi energi bersih yang dimiliki, termasuk tenaga surya, angin, dan air. Penguatan hubungan dengan Tiongkok di bidang energi bersih dan rendah karbon diharapkan dapat membantu mempercepat proses transisi energi nasional.

Para pelaku industri menilai perkembangan kerja sama Tiongkok-Indonesia di sektor energi baru berpotensi memasuki tahap yang lebih luas. Kolaborasi tidak lagi hanya berfokus pada proyek tertentu, tetapi dapat mencakup teknologi, investasi, manufaktur, rantai pasok, serta pengembangan sumber daya manusia. Dengan semakin terintegrasinya berbagai aspek tersebut, kerja sama energi baru diharapkan memberikan manfaat bagi percepatan transisi energi Indonesia sekaligus membuka ruang lebih besar bagi perusahaan energi baru Tiongkok untuk memperluas kiprahnya di pasar internasional.(red)