BeritaEkonomiNasional

Kinerja Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga, Kredit Perbankan Tumbuh 13,58 Persen

3
×

Kinerja Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga, Kredit Perbankan Tumbuh 13,58 Persen

Sebarkan artikel ini
Rapat Dewan Komisioner Bulanan Agustus 2026.(Photo/Humas OJK)

JAKARTA, eNewskalteng.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan nasional masih berada dalam kondisi stabil di tengah ketidakpastian geopolitik global dan tekanan inflasi yang masih tinggi.

Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK pada 26 Agustus 2026 dan dituangkan dalam Siaran Pers RDK Agustus 2026 yang diterbitkan pada 7 September 2026.

OJK mencermati risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah yang masih tinggi seiring berlarutnya konflik di Iran dan belum terbukanya Selat Hormuz. Kondisi tersebut berdampak terhadap jalur distribusi energi dan memicu volatilitas harga minyak serta berbagai komoditas.

Tekanan inflasi global juga diperberat fenomena El Nino berkepanjangan yang berdampak pada kekeringan dan kebakaran hutan di berbagai kawasan. Situasi tersebut meningkatkan risiko gagal panen sekaligus berpotensi mendorong kenaikan harga pangan global.

Di tengah kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi global cenderung mengalami moderasi. Mayoritas negara mencatatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat berada di bawah ekspektasi, sementara pasar tenaga kerja mengalami moderasi dan inflasi masih relatif tinggi meskipun menunjukkan tren menurun.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada triwulan II 2026 melambat menjadi 4,3 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Data terkini juga menunjukkan pelemahan yang masih berlanjut pada sektor produksi maupun permintaan domestik.

Di pasar keuangan global, imbal hasil obligasi pemerintah negara maju melanjutkan kenaikan. Kondisi ini antara lain dipengaruhi meningkatnya kebutuhan pendanaan belanja modal hyperscalers di tengah kebijakan moneter yang masih restriktif. Arus keluar dana nonresiden juga masih terjadi, khususnya di sejumlah negara emerging markets.

Namun, kondisi perekonomian domestik masih menunjukkan daya tahan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen yoy, meski melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang tumbuh 5,61 persen.

Pertumbuhan tersebut terutama didukung investasi, belanja pemerintah, serta konsumsi rumah tangga yang tetap kuat. Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen yoy, sementara aktivitas manufaktur berada di zona kontraksi dengan PMI sebesar 49,8.

OJK juga mencatat ketahanan eksternal perekonomian mengalami moderasi seiring berlanjutnya defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 dan meningkatnya defisit transaksi berjalan triwulan II 2026 menjadi 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Pasar Modal Menguat

Di tengah berbagai tekanan tersebut, pasar saham domestik menunjukkan arah penguatan pada Agustus 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.525,48 atau meningkat 4,64 persen secara month to month (mtm). Meski demikian, secara year to date (ytd), IHSG masih terkoreksi 24,53 persen.

Likuiditas pasar saham juga menunjukkan perbaikan. Rata-rata bid-ask spread menyempit menjadi 1,17 persen dari sebelumnya 1,33 persen pada Juli 2026. Sementara Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) meningkat menjadi Rp15,86 triliun dari Rp14,31 triliun pada Juli 2026.

Minat investor asing terhadap pasar saham domestik juga masih positif. Pada Agustus 2026 tercatat net buy investor asing sebesar Rp1,19 triliun, meskipun lebih rendah dibandingkan Juli yang mencapai Rp1,62 triliun.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup pada level 440,04 atau naik 2,23 persen secara mtm dan terkoreksi tipis 0,18 persen secara ytd.

Minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) juga menguat. Pada Agustus 2026 tercatat net buy sebesar Rp15,35 triliun, meningkat dibandingkan Juli yang mencapai Rp6,79 triliun. Sementara pasar obligasi korporasi mencatat net sell tipis Rp0,07 triliun.

Industri pengelolaan investasi juga tetap terjaga. Nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.013,03 triliun, naik 0,03 persen mtm, sedangkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana mencapai Rp652,88 triliun.

Jumlah investor pasar modal bahkan terus meningkat. Pada Agustus 2026 terdapat tambahan 1,07 juta investor baru sehingga secara ytd jumlah investor mencapai 31,14 juta atau tumbuh 52,90 persen.

Penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal hingga akhir Agustus mencapai Rp128,80 triliun. Angka tersebut berasal dari 7 IPO, 12 PUT, 9 EBUS, dan 111 Penawaran Umum Berkelanjutan EBUS. Di pipeline terdapat 24 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif Rp48,31 triliun.

Sementara melalui Securities Crowdfunding (SCF), selama Agustus terdapat 16 efek baru dan 3 penerbit baru dengan dana dihimpun Rp29,97 miliar. Secara agregat, dana yang dihimpun melalui SCF telah mencapai Rp2,04 triliun.

Kredit Perbankan Tumbuh Solid

Kinerja intermediasi perbankan juga terus meningkat. Pada Juli 2026, pertumbuhan kredit mencapai 13,58 persen yoy, naik dari 12,67 persen pada Juni 2026. Total penyaluran kredit mencapai Rp9.135 triliun.

Kredit investasi menjadi jenis kredit dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 25,13 persen yoy. Kredit modal kerja tumbuh 11,04 persen dan kredit konsumsi 5,38 persen.

Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh paling tinggi sebesar 22,10 persen yoy. Kredit UMKM juga melanjutkan tren positif dengan pertumbuhan 1,62 persen yoy, meningkat dari 1,05 persen pada Juni.

Dari sisi kepemilikan, kredit bank BUMN mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 16,95 persen yoy.

Sementara kredit Buy Now Pay Later (BNPL) yang tercatat dalam SLIK mencapai Rp31,56 triliun. Nilainya memang hanya sekitar 0,35 persen dari total kredit perbankan, tetapi pertumbuhannya mencapai 31,22 persen yoy dengan jumlah rekening mencapai 33,50 juta.

Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat 11,21 persen yoy menjadi Rp10.336 triliun. Pertumbuhan terbesar terjadi pada deposito sebesar 13,13 persen, disusul giro 11,81 persen dan tabungan 8,37 persen.

Likuiditas perbankan juga dinilai memadai. Rasio AL/NCD mencapai 102,45 persen dan AL/DPK sebesar 23,10 persen, masih jauh di atas threshold masing-masing 50 persen dan 10 persen. Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat 187,5 persen.

Kualitas kredit tetap terjaga dengan NPL gross 2,10 persen dan NPL net 0,81 persen. Loan at Risk tercatat 8,39 persen, sementara Return on Assets (ROA) berada di level 2,45 persen.

Ketahanan perbankan juga dinilai kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 23,84 persen.

OJK juga terus memperkuat pengawasan terhadap rekening yang terindikasi digunakan untuk aktivitas perjudian daring. Perbankan telah diminta melakukan Enhanced Due Diligence (EDD) dan/atau pemblokiran terhadap sekitar 38.375 rekening yang terindikasi terkait aktivitas perjudian berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital.

Di sisi lain, OJK mencabut izin usaha PT BPR Citra Bersada Abadi yang beralamat di Komplek Pertokoan Pasar Pagi Bintara, Kota Bekasi, Jawa Barat, terhitung sejak 19 Agustus 2026.

Dengan perkembangan tersebut, OJK menilai kinerja intermediasi sektor jasa keuangan masih memiliki peran penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun tetap diperlukan penguatan tata kelola, mitigasi risiko dan pengawasan di tengah dinamika ekonomi global.(Zen)