BeritaHiburanNasional

Suling Tulang Jiahu Lantunkan Lagu Indonesia, Musik Satukan Dua Budaya

1
×

Suling Tulang Jiahu Lantunkan Lagu Indonesia, Musik Satukan Dua Budaya

Sebarkan artikel ini
Foto tak bertanggal ini menunjukkan seorang staf dari Tiongkok sedang membimbing warga Indonesia memainkan replika Suling Tulang Jiahu, di Jakarta. (Xinhua)

JAKARTA, 6 September (Xinhua), eNewskalteng.com — Alunan alat musik kuno Tiongkok menggema di tengah keramaian Mal Sarinah, Jakarta Pusat, dan menghadirkan pengalaman budaya yang mempertemukan sejarah peradaban Tiongkok dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Suling Tulang Jiahu, alat musik berusia lebih dari 8.000 tahun, dimainkan dalam sebuah kegiatan budaya pop-up yang menarik perhatian pengunjung. Sejumlah warga berhenti untuk menyaksikan, mengabadikan momen, hingga mencoba memainkan replika alat musik tersebut dengan bimbingan staf dari Tiongkok. Suara suling yang jernih berpadu dengan dentuman gendang pinggang berbahan tembikar. Perpaduan alat musik kuno tersebut semakin menarik ketika memainkan lagu daerah Indonesia “Sing Sing So”, yang membuat sejumlah pengunjung ikut bersenandung.

Kegiatan budaya itu menjadi bagian dari rangkaian Konferensi Promosi Pariwisata Budaya Henan dan Pameran Budaya Heluo bertajuk “Satu Aliran Sungai Heluo, Persahabatan hingga Kepulauan Nanyang”.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 1 hingga 3 September di Jakarta dan Bandung tersebut bertujuan memperkenalkan kekayaan budaya Heluo serta keragaman pariwisata budaya Henan kepada masyarakat Indonesia. Kegiatan itu sekaligus menjadi sarana untuk memperkuat pertukaran budaya antara Tiongkok dan Indonesia.

Salah satu atraksi yang mencuri perhatian adalah Suling Tulang Jiahu. Artefak tersebut merupakan salah satu peninggalan budaya penting dari Henan dan menggambarkan perkembangan peradaban serta musik pada masa awal sejarah Tiongkok. Suling Tulang Jiahu ditemukan di Situs Jiahu, wilayah Wuyang, Kota Luohe, Provinsi Henan. Dengan panjang sekitar 23,6 sentimeter, alat musik tersebut dibuat dari tulang sayap burung bangau dan memiliki tujuh lubang nada.

Keberadaan tujuh lubang nada memungkinkan suling tersebut memainkan tangga nada heptatonik atau tujuh nada. Para ahli menempatkan Suling Tulang Jiahu sebagai salah satu alat musik tiup paling awal yang diketahui mampu memainkan sistem tangga nada tersebut. Menariknya, alat musik berusia ribuan tahun itu memiliki kemiripan fungsi dengan suling bambu tradisional Indonesia. Walaupun menggunakan bahan berbeda dan berkembang di lingkungan geografis yang berjauhan, keduanya menunjukkan bahwa musik telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak masa awal peradaban.

Perjumpaan kedua tradisi musik tersebut juga memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi sarana komunikasi lintas budaya. Musik tidak selalu membutuhkan bahasa yang sama untuk dapat dipahami dan dinikmati.

Hubungan budaya Tiongkok dan Indonesia sendiri telah lama tercermin melalui pertukaran musik. Lagu Mandarin “Rembulan Mewakili Hatiku”, misalnya, dikenal dalam versi bahasa Indonesia. Sementara itu, lagu “Bengawan Solo” yang populer di Indonesia juga pernah dibawakan dalam berbagai kesempatan di Tiongkok, termasuk dalam panggung perayaan Tahun Baru Imlek. Lagu “Bunga Melati” turut menjadi salah satu melodi yang dikenal di kedua negara, memperlihatkan bagaimana karya musik dapat melintasi batas geografis dan budaya.

Dari Henan hingga Jakarta, perjalanan Suling Tulang Jiahu menunjukkan bahwa warisan budaya masa lalu masih dapat menemukan relevansinya di masa kini. Melalui musik, peninggalan peradaban Huaxia dapat berinteraksi dengan budaya Nanyang sekaligus membuka ruang baru bagi masyarakat kedua negara untuk saling mengenal.

Alunan Suling Tulang Jiahu yang telah bertahan selama ribuan tahun pun kembali terdengar, kali ini dalam suasana Indonesia, menjadi simbol bahwa musik dapat menjembatani jarak, mempererat persahabatan, dan mendorong pertukaran budaya Tiongkok-Indonesia.(red)