BeritaInternasional

Wawancara: Pakar AS sebut praktik teladan pembangunan Tiongkok buktikan SDG dapat dicapai

2
×

Wawancara: Pakar AS sebut praktik teladan pembangunan Tiongkok buktikan SDG dapat dicapai

Sebarkan artikel ini
Insinyur komunikasi Zhou Junbing memeriksa layar informasi di peron Terminus Nairobi di Jalur Kereta Standar (Standard Gauge Railway/SGR) Mombasa-Nairobi di Nairobi, Kenya, pada 22 Juli 2026. (Xinhua/Yang Guang)

 Oleh penulis Xinhua Liu Yanan

NEW YORK CITY, 9 Oktober (Xinhua), eNewskalteng.com — Praktik-praktik Tiongkok dalam pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan patut diteladani dan telah membuktikan bahwa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG) PBB dapat dicapai, seiring dengan Inisiatif Sabuk dan Jalan Sutra (Belt and Road Initiative/BRI) yang membantu mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, ungkap pakar asal Amerika Serikat (AS).

Keberhasilan ekonomi Tiongkok selama dua generasi terakhir telah memberikan contoh yang berharga bagi negara-negara lain, tutur Lawrence Freeman, seorang analis ekonomi-politik AS untuk Afrika, yang terlibat dalam kebijakan pembangunan ekonomi di benua tersebut selama lebih dari tiga dekade. Dunia menghadapi tantangan berat untuk mewujudkan SDG pada 2030, dengan sekitar 800 juta jiwa hidup dalam kemiskinan ekstrem di seluruh dunia, ujar Freeman dalam sebuah wawancara dengan Xinhua baru-baru ini.

Di Afrika saja, sekitar 440 juta orang hidup dalam kemiskinan ekstrem, sedikit di bawah sepertiga dari total populasinya, sementara angka kemiskinan terus meningkat, papar Freeman. “Namun, kabar baiknya adalah Tiongkok, dalam kurun waktu dua generasi, telah merombak total perekonomiannya, menghapus kemiskinan ekstrem di perdesaan, dan memimpin dunia dalam pertumbuhan ekonomi fisik berbasis infrastruktur. Tiongkok membuktikan bahwa hal tersebut dapat diwujudkan,” ujar Freeman.

Tiongkok, dengan komitmen yang teguh terhadap pembangunan negaranya, dan kemahirannya dalam tata kelola ekonomi yang efektif, telah membuktikan kepada dunia bahwa SDG dapat diwujudkan, tuturnya. Inisiatif Pembangunan Global yang diusulkan oleh Tiongkok pada September 2021 menjabarkan konsep esensial pembangunan yang paling penting untuk dipahami oleh semua negara, sementara BRI dan pertumbuhan BRICS telah memberikan masukan krusial serta kontribusi nyata di lapangan guna mewujudkan SDG, ujar Freeman.

Peran utama Tiongkok di Global South sangat berharga dalam mendorong kemajuan ekonomi dunia, sebutnya. “Kita harus mengakui bahwa masa depan planet ini bergantung pada pembangunan Global South.” BRI telah menarik investasi infrastruktur yang sangat dibutuhkan di seluruh sektor berkembang, dukungan yang enggan ditawarkan oleh Barat, tutur Freeman.

Di Afrika, BRI menjadi kontributor utama dalam pembangunan proyek infrastruktur fisik, terutama pada sektor pembangkit listrik, jalur kereta, pelabuhan, dan bandar udara, urainya.

Lebih lanjut, Freeman menyerukan penciptaan paradigma baru yang didedikasikan untuk mewujudkan kemajuan ekonomi di setiap negara. Sebagai bagian dari upaya tersebut, dia mengusulkan pembentukan sebuah lembaga kredit internasional baru untuk menyalurkan kredit jangka panjang berbunga rendah yang memadai untuk investasi di bidang infrastruktur.

Data terbaru PBB menunjukkan bahwa hanya 36 persen target SDG dengan ketersediaan data tren yang berada di jalur yang tepat atau mencatatkan kemajuan moderat, sementara 15 persen lainnya mengalami kemunduran. Agenda Pembangunan Berkelanjutan PBB 2030 diadopsi pada 2015, dengan 17 SDG sebagai pilarnya.(red)