BeritaInternasional

Menlu Nepal: Dukungan Data Tiongkok Perkuat Respons Bencana dan Mitigasi Risiko

4
×

Menlu Nepal: Dukungan Data Tiongkok Perkuat Respons Bencana dan Mitigasi Risiko

Sebarkan artikel ini
Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal berbicara dalam sebuah wawancara dengan Xinhua di Kathmandu, Nepal, pada 2 September 2026. (Xinhua/Sulav Shrestha)

KATHMANDU, 5 September (Xinhua), eNewskalteng.com — Dukungan data satelit dan hasil pemantauan yang diberikan Tiongkok membantu Nepal dalam menangani dampak bencana tanah longsor sekaligus mengantisipasi potensi bencana susulan, kata Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal.

Pakar penyelamatan terowongan dari Tiongkok dan tim penyelamat dari Nepal kembali dari misi pencarian di sebuah pusat komando penyelamatan di Distrik Nuwakot, Nepal, pada 31 Agustus 2026. (Xinhua/Liu Tian)

Dalam wawancara eksklusif dengan Xinhua di Kathmandu pada Rabu (2/9), Khanal mengatakan informasi yang diberikan Tiongkok membantu otoritas Nepal memperoleh gambaran mengenai kondisi di wilayah terdampak dan meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko bencana berikutnya. “Tiongkok hampir selalu memberikan informasi secara waktu nyata kepada Nepal agar kami tetap waspada terhadap potensi bencana di masa mendatang,” ujar Khanal.

Menurut dia, dukungan Beijing telah diberikan segera setelah bencana terjadi, baik dalam bentuk bantuan kemanusiaan maupun dukungan teknis. Pemerintah Nepal, lanjut Khanal, juga dapat mengajukan permintaan bantuan ketika kebutuhan di lapangan meningkat. Ia menyebut respons Tiongkok terhadap permintaan tersebut berlangsung positif dan menjadi bagian penting dalam mendukung operasi penanganan bencana. “Kami sangat berterima kasih atas dukungan yang sangat proaktif yang telah diberikan pemerintah Tiongkok kepada kami saat ini,” kata Khanal.

Bantuan Kemanusiaan dan Tim Ahli

Sebagai bagian dari dukungan tersebut, pemerintah Tiongkok memberikan bantuan tunai darurat dan berbagai kebutuhan kemanusiaan kepada Nepal. Tiongkok juga telah mengirimkan tiga gelombang pasokan bantuan ke Kathmandu. Selain bantuan material, Beijing mengerahkan tenaga ahli yang memiliki kemampuan dalam penyelamatan terowongan serta identifikasi DNA untuk membantu proses penanganan bencana. “Jadi, pemerintah Tiongkok telah memberi kami semua dukungan,” ujar Khanal.

Meski bantuan terus berdatangan, proses penyelamatan di sejumlah wilayah masih menghadapi kendala berat. Kerusakan jalan dan jembatan akibat bencana menyebabkan akses menuju beberapa lokasi terdampak terputus, bahkan sejumlah daerah tidak dapat dijangkau melalui jalur darat. Kondisi tersebut membuat personel penyelamat harus menghadapi tantangan besar ketika melakukan pencarian dan evakuasi korban. “Orang-orang kami yang aktif dalam operasi penyelamatan menghadapi kesulitan, tetapi masih terus berupaya menyelamatkan orang-orang,” tuturnya.

Warga Nepal di Perbatasan Mendapat Bantuan

Khanal juga mengungkapkan bahwa ratusan warga Nepal yang sedang berada di wilayah perbatasan Tiongkok ketika bencana terjadi telah berhasil diidentifikasi dan mendapatkan penanganan dari otoritas setempat. Para warga Nepal tersebut berada di sisi Tiongkok untuk berbagai keperluan, termasuk aktivitas perdagangan dan pariwisata.

Menurut Khanal, otoritas Tiongkok telah memberikan akomodasi dan bantuan yang diperlukan kepada warga Nepal yang terdampak. Di sisi lain, pemerintah Nepal menyatakan kesiapannya memberikan bantuan kepada warga negara Tiongkok yang mungkin terdampak bencana di wilayah Nepal.

Khanal menilai situasi tersebut kembali menunjukkan eratnya hubungan antara kedua negara yang berbagi kawasan pegunungan Himalaya. “Kami selalu mengatakan bahwa kedua negara kami terhubung oleh pegunungan dan sungai,” ujarnya. Menurutnya, bencana yang terjadi di kawasan perbatasan menunjukkan bahwa kondisi alam dan risiko yang dihadapi Nepal serta Tiongkok saling berkaitan. “Bencana ini menunjukkan kepada kita bahwa takdir kita saling terkait,” kata Khanal.

Perkuat Kerja Sama Lindungi Himalaya

Berkaca dari pengalaman menghadapi bencana tersebut, Khanal mendorong peningkatan kerja sama Nepal dan Tiongkok dalam menghadapi ancaman lingkungan dan perubahan iklim. Ia menyerukan agar kedua negara memperkuat kolaborasi dalam penelitian, perlindungan, serta pemulihan ekosistem Himalaya. Kerja sama juga dinilai penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana serupa pada masa mendatang.

Khanal berharap Nepal dan Tiongkok dapat bersama-sama mendorong komunitas internasional untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap dampak kenaikan suhu dan perubahan iklim terhadap ekosistem Himalaya. Menurutnya, perubahan lingkungan di kawasan tersebut bukan hanya persoalan satu negara karena dampaknya dapat dirasakan lintas batas. “Ekosistem Himalaya adalah masa depan kita bersama,” ujar Khanal.

Ia menekankan perlunya kerja sama yang lebih kuat, baik pada tingkat regional maupun global, untuk menjaga ekosistem Himalaya sekaligus melindungi warisan alam dan peradaban yang telah berkembang di kawasan tersebut.(red)