JAKARTA, 2 November (Xinhua), eNewskalteng.com – Tiongkok semakin menarik perhatian pelajar Indonesia sebagai salah satu pilihan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Perkembangan teknologi, kualitas pendidikan, hingga prospek ekonomi menjadi sejumlah faktor yang mendorong generasi muda mempertimbangkan negara tersebut sebagai tujuan studi. Minat itu terlihat dalam penyelenggaraan 2026 11th Indonesia HSK Study in China and Career Expo di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Minggu (1/11). Pameran tersebut menghadirkan 21 universitas ternama dan sejumlah perusahaan asal Tiongkok untuk memberikan informasi mengenai pendidikan serta peluang karier.

Dua pelajar Sekolah Abdi Siswa Bintaro, Sinta (15) dan Kezia (15), termasuk di antara pengunjung yang mencari informasi perguruan tinggi di Tiongkok. Keduanya mulai merencanakan pendidikan jenjang sarjana (S1), termasuk menggali informasi mengenai persyaratan bahasa Mandarin, biaya kuliah, dan kesempatan memperoleh beasiswa. Kezia menilai perkembangan Tiongkok di pasar global serta kualitas pendidikan universitas di negara tersebut menjadi alasan kuat untuk mempertimbangkan kesempatan belajar di sana. “Tiongkok sekarang sedang mendominasi pasar. Jadi, kalau ada kesempatan, mengapa tidak dimanfaatkan. Pendidikan di Tiongkok juga bagus-bagus, sehingga kami tertarik,” katanya.
Ketertarikan serupa disampaikan Lerzia (15), pelajar SMK Pelita 4, yang berencana melanjutkan pendidikan ke Tiongkok setelah menyelesaikan sekolah menengah kejuruan. Dia tertarik mempelajari lebih jauh perkembangan teknologi, seni, dan tradisi negara tersebut. Dalam memilih universitas, Lerzia mempertimbangkan kualitas pengajaran, program studi, lokasi kampus, fasilitas asrama, serta peluang beasiswa.
Sementara itu, Aming (52), salah satu orang tua yang mengunjungi pameran, datang untuk mencari informasi perguruan tinggi bagi anak keduanya yang kini duduk di kelas XI SMA. Ketertarikan keluarganya terhadap Tiongkok turut dipengaruhi hubungan kekerabatan dengan sejumlah anggota keluarga yang tinggal di Xiamen dan Quanzhou. Selain itu, ibunya pernah mengenyam pendidikan di Provinsi Yunnan. Aming mengatakan, pemilihan universitas akan mempertimbangkan lokasi, peringkat perguruan tinggi, serta kemampuan akademis anaknya. Dia juga berencana mendaftarkan sang anak ke beberapa universitas dengan tingkat persaingan berbeda.
MINAT BAHASA MANDARIN MENINGKAT
Ketertarikan pelajar Indonesia terhadap pendidikan di Tiongkok sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat mempelajari bahasa Mandarin. Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Indonesia Chen Wu menyebutkan lebih dari 30.000 peserta di Indonesia mengikuti ujian Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) sepanjang 2025. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi keempat dunia berdasarkan jumlah peserta. Menurut Chen, capaian itu mencerminkan semakin besarnya perhatian masyarakat Indonesia terhadap bahasa Mandarin dan manfaat penguasaannya.
Dia juga menekankan pentingnya pertukaran pendidikan dan budaya dalam mempererat hubungan kedua negara, khususnya melalui interaksi generasi muda. “Pertukaran budaya merupakan bagian penting dari hubungan Indonesia-Tiongkok. Interaksi antargenerasi muda menjadi kekuatan dalam menjaga persahabatan kedua negara,” ujar Chen.
Wakil Direktur Utama Chinese Testing International (CTI) Liu Xiaolong mengatakan, pameran tahun ini melibatkan 21 universitas dari Tiongkok serta sejumlah perusahaan, termasuk Bank of China dan HSK Mock. Selain memperkenalkan kesempatan pendidikan, kegiatan tersebut menjadi sarana bagi pelajar Indonesia untuk mengenal peluang kerja di perusahaan-perusahaan Tiongkok. Liu menjelaskan bahwa ujian HSK pertama kali diselenggarakan di Indonesia pada 2001. Hingga kini, layanan ujian tersebut telah berkembang menjadi 56 pusat pengujian dengan jumlah peserta kumulatif lebih dari 300.000 orang.
Ketua Pelaksana Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Mandarin (BKPBM) Jakarta Arifin Zain menilai kemampuan berbahasa Mandarin yang didukung keterampilan profesional menjadi modal penting bagi generasi muda untuk memanfaatkan peluang kerja sama Indonesia-Tiongkok.
Sementara itu, Direktur Sekolah Terintegrasi di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nandana Aditya Bhaswara berharap pameran tersebut dapat mendorong kerja sama pendidikan yang lebih konkret. Kerja sama itu antara lain mencakup pengembangan pembelajaran bahasa Mandarin di sekolah, peningkatan kompetensi guru, pertukaran pengalaman antarsekolah, perluasan informasi beasiswa, serta kolaborasi pembelajaran di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui kegiatan tersebut, peluang pendidikan dan karier diharapkan semakin terbuka bagi generasi muda Indonesia sekaligus memperkuat hubungan persahabatan kedua negara.(red)












