BeritaInternasional

Mentrans Jajaki Kerja Sama Teknologi Pertanian Indonesia-Tiongkok di Chongqing

13
×

Mentrans Jajaki Kerja Sama Teknologi Pertanian Indonesia-Tiongkok di Chongqing

Sebarkan artikel ini
Foto yang diabadikan pada 14 Oktober 2026 ini menunjukkan Menteri Transmigrasi Republik Indonesia Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara (kanan) mempelajari pertanian cerdas dalam kunjungannya di Chongqing, Tiongkok barat daya. (Xinhua)

CHONGQING, Xinhua, eNewskalteng.com – Menteri Transmigrasi (Mentrans) Republik Indonesia Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menjajaki peluang kerja sama di bidang pertanian dengan Tiongkok saat mengunjungi Akademi Ilmu Pertanian Chongqing pada 14 Oktober 2026. Dalam kunjungan tersebut, Iftitah melihat penerapan teknologi pertanian cerdas, termasuk penggunaan robot untuk menabur benih, memindahkan bibit, memanen sayuran, hingga mendukung proses logistik. Teknologi itu diperkenalkan oleh Wakil Presiden Akademi Ilmu Pertanian Chongqing, Zhang Yuhao.

Foto yang diabadikan pada 14 Oktober 2026 ini menunjukkan Menteri Transmigrasi Republik Indonesia Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mempelajari pertanian cerdas dalam kunjungannya di Chongqing, Tiongkok barat daya. (Xinhua)

Iftitah mengapresiasi kemajuan teknologi tersebut dan berharap hubungan kerja sama serta pertukaran pengetahuan antara lembaga pertanian kedua negara dapat semakin erat. Delegasi Indonesia juga mengunjungi area pengembangan varietas sayuran baru, fasilitas budi daya perikanan dengan sistem resirkulasi air cerdas, serta repositori sampel tanah di Chongqing.

Menurut Iftitah, kerja sama dengan mitra Tiongkok diharapkan tidak hanya berfokus pada investasi, tetapi juga mencakup transfer teknologi, pelatihan praktis, dan peningkatan kemampuan petani lokal. Ia menilai peningkatan hasil pertanian harus disertai dukungan pengolahan, distribusi, dan akses pasar agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kami tidak ingin para petani menanam durian, menikmati panen yang melimpah, lalu tidak tahu harus menjualnya ke mana,” ujarnya.

Indonesia memiliki potensi besar dalam budi daya buah tropis, sedangkan Tiongkok mempunyai teknologi pertanian, kapasitas investasi, serta pasar konsumen yang luas. Kedua negara dinilai dapat menggabungkan keunggulan tersebut untuk mengembangkan rantai usaha pertanian, mulai dari produksi hingga pemasaran. Sulawesi menjadi salah satu wilayah prioritas pengembangan durian, sementara Papua juga memiliki peluang investasi di sektor pertanian. Iftitah berharap perusahaan Tiongkok dapat berkontribusi melalui penyediaan modal, teknologi, dan keahlian untuk mendukung masyarakat setempat.

Selain teknologi pertanian, delegasi Indonesia mengunjungi Desa Zhenwugong di Chongqing untuk mempelajari pengembangan kawasan pedesaan yang memadukan pertanian dan pariwisata. Desa tersebut mengembangkan agrowisata melalui kegiatan memetik buah, memancing, menikmati pemandangan, dan pendidikan sains. Setiap tahun, desa itu dikunjungi lebih dari 300.000 wisatawan. Pendapatan kolektif desa tercatat melampaui 1,1 juta yuan per tahun, sedangkan pendapatan bersih tahunan per kapita penduduk mencapai lebih dari 20.000 yuan.

Iftitah mengatakan pengalaman tersebut akan dipelajari untuk melihat kemungkinan penerapannya di Indonesia dengan menyesuaikan kondisi dan potensi daerah. Ia berharap kerja sama Indonesia-Tiongkok dapat menghubungkan teknologi, investasi, dan sumber daya lokal dengan kebutuhan pasar sehingga membuka peluang ekonomi baru bagi petani serta masyarakat pedesaan. Kunjungan itu menjadi bagian dari program studi kelompok kedua pejabat transmigrasi Indonesia di Tiongkok. Selain sektor pertanian, Iftitah juga membahas peluang perluasan kerja sama bilateral di bidang pariwisata dan perikanan. Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama kunjungan dapat ditindaklanjuti menjadi program konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara.(red)