PALANGKA RAYA, eNewskalteng.com – Tim dosen Universitas Palangka Raya (UPR) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program “Inovasi Teknologi Filtrasi Berbasis Adsorben Limbah Tanah Laterit untuk Pemurnian Air Terkontaminasi Logam Berat Pertambangan Emas” di Kelurahan Habaring Hurung, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 03 Juli 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama mitra Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) “Harati” Kelurahan Habaring Hurung dan diikuti sekitar 20 anggota PKK. Program ini merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi teknologi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, khususnya di wilayah yang menghadapi persoalan lingkungan akibat aktivitas pertambangan emas.
Kegiatan dipimpin oleh Zimon Pereiz, dosen Program Studi Kimia, FMIPA Universitas Palangka Raya, sebagai ketua tim. Ia didampingi dua anggota tim, yaitu Waluyo Nuswantoro, dosen Fakultas Teknik UPR, serta Ahmad Irawan, dosen Program Studi Farmasi, FMIPA UPR. Selain melibatkan dosen lintas bidang, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa, yakni Herlita Esra Sari Sihotang dari Program Studi Farmasi FMIPA UPR, Angel Imanuella Panggabean dan Zofan Wahyu Ananta dari Program Studi Kimia FMIPA UPR. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman pembelajaran langsung di tengah masyarakat. Dalam kegiatan sosialisasi, tim memberikan edukasi mengenai bahaya pencemaran logam berat terhadap kesehatan dan lingkungan serta pentingnya pengelolaan sumber air yang berpotensi terdampak aktivitas pertambangan emas.
Kelurahan Habaring Hurung merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Bukit Batu yang memiliki aktivitas pertambangan emas cukup intensif. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas sumber air yang digunakan masyarakat. Berdasarkan analisis situasi dalam program pengabdian, aktivitas pertambangan dapat meningkatkan risiko pencemaran air akibat penggunaan bahan kimia dan pelepasan logam berat selama proses pengolahan emas. “Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat bahwa permasalahan lingkungan dapat diatasi dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal. Salah satunya adalah tanah laterit yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan adsorben untuk membantu mengurangi kontaminasi logam berat pada air,” ujar Zimon Pereiz dalam kegiatan tersebut. Menurut tim pengabdian, tanah laterit memiliki kandungan oksida besi dan aluminium yang berpotensi memiliki kemampuan adsorpsi terhadap logam berat. Pemanfaatan tanah laterit sebagai adsorben juga menjadi bagian dari pendekatan ekonomi sirkular karena material lokal yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat dikembangkan menjadi bahan yang memiliki nilai guna.
Teknologi yang diperkenalkan berupa alat filtrasi air sistem kolom vertikal berbasis adsorben limbah tanah laterit. Sistem tersebut mengombinasikan proses filtrasi fisik dan adsorpsi. Dalam rancangan teknologi, air dialirkan secara gravitasi melalui sejumlah lapisan media, antara lain kerikil, pasir, adsorben tanah laterit, zeolit, serta kerikil dan arang aktif. Teknologi tersebut dirancang sebagai teknologi tepat guna yang sederhana dan tidak membutuhkan energi listrik karena memanfaatkan aliran gravitasi. Dalam proposal kegiatan, sistem filtrasi dirancang dengan tinggi sekitar 100–120 sentimeter dan diameter 20–30 sentimeter, dengan kapasitas sekitar 50–100 liter air per hari sehingga diharapkan dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga atau kelompok masyarakat dalam skala kecil. Selain memperkenalkan teknologi filtrasi, tim juga memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan bahan lokal, pengolahan tanah laterit menjadi adsorben, serta pentingnya menjaga kualitas air dan lingkungan. Tahapan kegiatan pengabdian dirancang mencakup sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, monitoring, dan evaluasi.
Ketua PKK “Harati”, Eni, menyambut positif kegiatan yang dilaksanakan oleh tim Universitas Palangka Raya tersebut. Ia mengapresiasi kehadiran dosen dan mahasiswa UPR yang memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat mengenai pencemaran air dan alternatif teknologi pengolahan air berbasis sumber daya lokal. “Program seperti ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan yang baru bagi anggota PKK. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan dan masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kualitas air dan lingkungan,” ujar Eni.
Antusiasme anggota PKK terlihat selama kegiatan berlangsung. Peserta mengikuti pemaparan materi, berdiskusi, serta menyampaikan pertanyaan terkait pencemaran logam berat, keamanan air, dan pemanfaatan tanah laterit sebagai adsorben. Zimon mengatakan bahwa persoalan air dan lingkungan di wilayah yang terdampak aktivitas pertambangan tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknologi. Menurutnya, peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat juga menjadi bagian penting agar teknologi yang diperkenalkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. “Kami berharap masyarakat tidak hanya mengetahui adanya teknologi filtrasi, tetapi juga memahami prinsip kerjanya dan dapat ikut menjaga keberlanjutan penggunaannya. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan hasil pengetahuan dan riset dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Kegiatan ini juga menjadi bentuk kolaborasi multidisiplin antara bidang kimia, teknik, dan farmasi. Zimon Pereiz berperan dalam aspek pencemaran air dan adsorpsi logam berat, Waluyo Nuswantoro mendukung aspek perancangan dan penerapan sistem filtrasi, sedangkan Ahmad Irawan berkontribusi pada aspek kesehatan dan keamanan penggunaan air yang berkaitan dengan paparan logam berat. Sementara itu, mahasiswa yang terlibat turut membantu dalam edukasi masyarakat, dokumentasi, pengumpulan data, persiapan bahan dan peralatan, serta pendampingan masyarakat selama kegiatan. Keterlibatan tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah secara langsung di masyarakat.
Program pengabdian ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat dilanjutkan melalui pelatihan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi. Tim juga menargetkan agar masyarakat semakin mampu memanfaatkan sumber daya lokal, khususnya tanah laterit, sebagai bagian dari solusi pengelolaan lingkungan. Melalui program tersebut, Universitas Palangka Raya berupaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Pemanfaatan teknologi filtrasi berbasis adsorben tanah laterit diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung pengelolaan air dan lingkungan yang lebih berkelanjutan di wilayah yang terdampak aktivitas pertambangan emas.(zen)












