SUBANG, 4 September (Xinhua), eNewskalteng.com — Produsen kendaraan energi baru (NEV) asal China, BYD, resmi mengoperasikan fasilitas manufaktur pertamanya di Indonesia. Pabrik yang berada di Kawasan Industri Subang Smartpolitan, Jawa Barat, tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 kendaraan per tahun. Peresmian pabrik pada Kamis (3/9) menjadi tonggak penting bagi ekspansi BYD di pasar Indonesia sekaligus menandai fasilitas produksi ke-13 perusahaan tersebut secara global. Acara peresmian dihadiri Menteri Perindustrian Republik Indonesia Agus Gumiwang Kartasasmita dan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, bersama sejumlah pejabat pemerintah pusat maupun daerah.
Agus Gumiwang mengatakan kehadiran fasilitas manufaktur BYD di Subang tidak sebatas meningkatkan kapasitas produksi kendaraan listrik di dalam negeri. Investasi tersebut juga diharapkan mendorong terbentuknya ekosistem industri yang semakin kuat melalui peningkatan penggunaan komponen lokal. “Peresmian fasilitas produksi BYD Motor Indonesia hari ini bukan hanya pembukaan pabrik baru, melainkan simbol lahirnya harapan dan peluang bagi kemajuan industrialisasi nasional melalui penciptaan ekosistem industri,” ujar Agus.
Dalam kesempatan yang sama, BYD menandai pencapaian produksi kendaraan lokal ke-100.000 melalui seremoni roll-off BYD M6 DM. Momen tersebut ditandai dengan penandatanganan simbolis pada kap kendaraan oleh Agus Gumiwang dan Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut mengatakan investasi BYD di Subang dapat berkontribusi terhadap pembentukan ekosistem industri kendaraan energi baru di Indonesia. Namun, pengembangan sektor tersebut menurutnya harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi tenaga kerja, produktivitas, penguasaan teknologi, dan partisipasi industri dalam negeri.
Ekosistem BYD di Indonesia saat ini telah melibatkan lebih dari 200 mitra dalam rantai pasok serta menyediakan lebih dari 5.000 lapangan kerja lokal. Ketika fasilitas Subang beroperasi pada kapasitas maksimal, jumlah tenaga kerja yang terserap ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 20.000 orang. Dari sisi tingkat kandungan lokal, BYD menargetkan persiapan menuju Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 60 persen pada Januari 2027. Pemerintah Indonesia juga tengah mengevaluasi skema insentif yang diarahkan untuk meningkatkan kontribusi komponen buatan dalam negeri.
Pabrik Subang dibangun di atas area sekitar 126 hektare dan proses pembangunannya berlangsung kurang lebih 20 bulan. Fasilitas tersebut mengadopsi sistem manufaktur cerdas dengan tingkat otomatisasi yang tinggi. Kegiatan produksi di pabrik mencakup tiga tahapan utama, yakni welding, painting, dan final assembly. Pemanfaatan robot serta teknologi otomatisasi ditujukan untuk meningkatkan ketepatan produksi, menjaga konsistensi kualitas, sekaligus meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas proses manufaktur. Sejak mulai memasuki pasar Indonesia pada Januari 2024, BYD mencatat penjualan sebanyak 32.800 unit selama Januari hingga Juli 2026. Angka tersebut memberikan perusahaan pangsa pasar sekitar 35 persen.
BYD juga menyatakan telah menyerahkan lebih dari 100.000 kendaraan energi baru kepada konsumen Indonesia. Untuk memperluas layanan kepada pelanggan, perusahaan kini memiliki jaringan penjualan dan layanan yang tersebar di lebih dari 100 lokasi. Di pasar global, BYD membukukan penjualan sekitar 2,6 juta kendaraan sepanjang Januari-Agustus 2026. Secara kumulatif, penjualan kendaraan energi baru perusahaan telah mencapai 17,8 juta unit.
Dengan mulai beroperasinya pabrik Subang, BYD menempatkan Indonesia tidak hanya sebagai salah satu pasar penjualan, tetapi juga sebagai bagian dari jaringan produksi global perusahaan. Fasilitas tersebut sekaligus diproyeksikan menjadi salah satu basis pengembangan ekosistem kendaraan energi baru BYD di kawasan Asia Tenggara.(red)












