CHENGDU, eNewskalteng.com – Keberadaan panda raksasa di Indonesia tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga berperan mempererat hubungan antara Indonesia dan Tiongkok melalui kerja sama konservasi, penelitian, serta pertukaran budaya. Pendiri Taman Safari Indonesia Group, Jansen Manansang, mengatakan panda raksasa memiliki arti penting sebagai penghubung kedua negara dalam upaya pelestarian satwa liar. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Konferensi Mitra Panda Global 2026 (Global Panda Partners Conference) di Chengdu, Provinsi Sichuan, Tiongkok, yang berlangsung pada 2-4 November 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Jansen mengaku terkesan dengan kuatnya kecintaan masyarakat Chengdu terhadap panda raksasa. Menurutnya, satwa khas Tiongkok itu telah menjadi bagian dari kehidupan dan budaya masyarakat setempat. “Setiap kali saya datang ke Chengdu, saya dapat merasakan cinta kota ini untuk panda yang benar-benar berasal dari hati,” ujarnya kepada Xinhua di sela-sela konferensi.
Forum internasional tersebut diikuti ratusan peserta dari lebih dari 30 negara dan kawasan. Mereka membahas berbagai isu, mulai dari pelestarian panda raksasa hingga pengembangan pembangunan hijau secara global. Jansen menilai budaya panda di Chengdu tidak sebatas keberadaan patung, suvenir, maupun objek wisata. Kecintaan masyarakat terhadap satwa tersebut terlihat dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari. Ia juga menyoroti pasar budaya dan kreatif bertema panda yang digelar bersamaan dengan konferensi. Berbagai produk yang terinspirasi dari panda dipadukan dengan kerajinan tradisional, teknologi, serta kuliner lokal. Menurut Jansen, pendekatan tersebut dapat menjadi contoh bagi Indonesia dalam mengembangkan popularitas satwa sebagai sarana meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.
Kerja sama konservasi kedua negara juga mencatatkan pencapaian penting melalui kelahiran bayi panda pertama di Indonesia pada November 2025. Bayi tersebut merupakan anak dari pasangan panda raksasa Cai Tao dan Hu Chun yang telah lama tinggal di Indonesia. Presiden Prabowo Subianto kemudian memberikan nama Satrio Wiratama, yang memiliki arti kesatria yang berani dan mulia. Panda yang akrab disapa Rio itu pertama kali diperkenalkan kepada publik pada Mei 2026 dan dilaporkan dalam kondisi sehat.
Jansen menyebut kelahiran Rio sebagai tonggak penting dalam program pengembangbiakan panda raksasa di Indonesia. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi jangka panjang dengan para ahli dari Pusat Konservasi dan Penelitian Panda Raksasa Tiongkok (China Conservation and Research Center for the Giant Panda). “Kelahiran Rio mengisi kekosongan dalam program pengembangbiakan panda raksasa di Indonesia melalui penangkaran,” katanya. Lebih jauh, Jansen menegaskan bahwa kerja sama konservasi panda tidak hanya berorientasi pada keberhasilan pengembangbiakan, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi edukasi lingkungan.
Dalam dialog mengenai konservasi panda raksasa dan spesies terancam punah lainnya pada 3 November, ia menekankan pentingnya peran kebun binatang dan taman margasatwa dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai perlindungan alam. Taman Safari Indonesia Group saat ini menjadi habitat bagi lebih dari 24.000 satwa dari lebih 1.400 spesies. Panda raksasa menjadi salah satu satwa yang paling banyak menarik perhatian pengunjung.
Jansen berharap ketertarikan masyarakat terhadap panda dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. “Pengunjung datang ke kebun binatang karena mereka menyukai panda, tetapi kami berharap ketika mereka pulang, hal yang mereka bawa adalah pemahaman mengenai keseluruhan ekosistem hutan,” ujarnya. Ia menjelaskan, area pameran panda raksasa di Taman Safari dirancang menyerupai habitat alaminya. Konsep tersebut diharapkan membantu pengunjung memahami bahwa perlindungan satwa harus berjalan seiring dengan pelestarian keanekaragaman hayati dan lingkungan tempat hidupnya.
Ke depan, Taman Safari Indonesia Group berencana memperluas kolaborasi dengan mitra dari Tiongkok, khususnya dalam konservasi habitat satwa liar dan pengembangan program pendidikan bagi masyarakat. Jansen berharap pengalaman kerja sama dalam pelestarian panda dapat diterapkan untuk mendukung perlindungan berbagai spesies terancam punah lainnya di Indonesia. “Chengdu telah menjadikan panda sebagai bahasa yang menghubungkan dunia. Di Indonesia, kami juga bekerja keras untuk menjadikan Rio sebagai jembatan semacam itu,” tuturnya.
Menurutnya, keberadaan panda raksasa telah membuka peluang lebih luas bagi kedua negara untuk memperkuat hubungan, meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi, serta mendorong perlindungan lingkungan dan keanekaragaman hayati.(red)












