TAIYUAN, 3 November (Xinhua), eNewskalteng.com – Sejumlah pemuda Indonesia berkesempatan mengenal lebih dekat kekayaan sejarah dan budaya Provinsi Shanxi, Tiongkok utara, melalui kunjungan selama lima hari. Mereka mengunjungi berbagai bangunan bersejarah, museum, serta kawasan kota kuno yang menyimpan jejak peradaban selama ribuan tahun.

Salah satu lokasi yang menarik perhatian rombongan adalah Jalan Zhonglou di Taiyuan. Kawasan perdagangan yang telah berusia sekitar satu abad tersebut memperlihatkan perpaduan antara peninggalan sejarah dan aktivitas ekonomi modern. “Ini kunjungan perdana saya ke Taiyuan, Provinsi Shanxi. Saya sangat terkesan dengan bagaimana Jalan Zhonglou memadukan warisan sejarahnya yang kaya dengan suasana komersial modern yang dinamis,” kata Fathie Alwina Sampaguita, sekretaris Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Provinsi Shanxi Tiongkok pertama yang diselenggarakan Asosiasi Rakyat untuk Persahabatan dengan Negara-Negara Asing Provinsi Shanxi. Kegiatan ini menjadi wujud penguatan hubungan antarmasyarakat melalui pertukaran budaya kedua negara. Di Jalan Zhonglou, para peserta juga melihat berbagai produk kreatif yang terinspirasi dari ikon sejarah Shanxi, seperti Pagoda Kayu Yingxian, Kuil Jinci, dan Menara Bangau.
Ardy Susanto, wakil direktur Departemen Pemuda Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok, bahkan membeli peta kreatif dan magnet kulkas bergambar Guan Yu atau Guan Gong, tokoh sejarah yang memiliki tempat tersendiri dalam tradisi masyarakat Tionghoa di Indonesia.
Menurut Ardy, keberadaan kuil Guan Gong di berbagai daerah Indonesia membuat sosok tersebut terasa akrab. Karena itu, membeli suvenir bertema Guan Gong di Shanxi, yang merupakan daerah asal tokoh tersebut, memberikan pengalaman tersendiri baginya. Selain Taiyuan, rombongan mengunjungi Kota Kuno Pingyao dan Kompleks Keluarga Wang yang memiliki kaitan erat dengan sejarah perdagangan di Shanxi.
Di Pingyao, kawasan yang masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO, para peserta menjelajahi tembok kota kuno dan menyaksikan tata kota peninggalan Dinasti Ming dan Qing (1368–1911). Mereka juga menyusuri Jalan Selatan yang dipenuhi toko-toko bersejarah dan usaha tradisional. Rombongan turut mengunjungi Rishengchang, yang dikenal sebagai bank wesel pertama di Tiongkok. Melalui rekonstruksi suasana masa lalu, mereka mempelajari perkembangan sistem keuangan awal serta prinsip perdagangan masyarakat Shanxi yang mengutamakan kejujuran, kepercayaan, dan integritas.
Aswen Susisyo Utomo, wakil sekretaris jenderal Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok sekaligus kepala delegasi, menilai nilai-nilai tersebut memiliki kesamaan dengan prinsip bisnis yang dijunjung para pengusaha Tionghoa di Indonesia. Perjalanan budaya berlanjut ke Museum Jinci. Di lokasi tersebut, para peserta mengagumi bangunan tradisional, pohon cemara berusia sekitar seribu tahun, Mata Air Nanlao, serta Panggung Shuijing yang dikenal dengan ornamen arsitekturnya.
Di Museum Shanxi, mereka juga melihat koleksi peninggalan sejarah, termasuk bejana anggur ritual berbentuk burung hantu dari Dinasti Shang (1600–1046 SM). Berbagai koleksi tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan peradaban dan budaya masyarakat Shanxi. Melalui program pertukaran ini, kedua pihak berharap interaksi antarpemuda dapat memperluas pemahaman budaya, mempererat hubungan masyarakat, serta memperkuat persahabatan Indonesia dan Tiongkok di masa mendatang.(red)












