BeritaBisnisNasional

SANY Indonesia Finance siapkan tambahan modal untuk ikuti ekspansi bisnis grup

1
×

SANY Indonesia Finance siapkan tambahan modal untuk ikuti ekspansi bisnis grup

Sebarkan artikel ini
Sejumlah karyawan bekerja di kawasan industri SANY, produsen alat berat terkemuka Tiongkok, di Changsha, Provinsi Hunan, Tiongkok tengah, pada 12 Mei 2026. (Xinhua/Xue Yuge)

JAKARTA, 30 Oktober (Xinhua) — PT SANY Indonesia Finance, yang resmi memulai operasional bisnisnya pada Kamis (29/10), menyiapkan strategi penguatan permodalan untuk mengantisipasi pertumbuhan bisnis pembiayaan seiring dengan ekspansi ekosistem SANY Group di Indonesia.

CEO PT SANY Indonesia Finance Bryan Kasenda mengatakan modal awal sekitar Rp250 miliar yang diperoleh dari perusahaan induk kemungkinan perlu ditambah dalam jangka menengah dan panjang guna menopang kebutuhan pembiayaan sekaligus memastikan kepatuhan terhadap ketentuan regulator. Menurut Bryan, pesatnya pertumbuhan bisnis SANY Group di Indonesia membuka peluang peningkatan kebutuhan pembiayaan. Karena itu, perusahaan perlu mengantisipasi kebutuhan tambahan modal agar kapasitas bisnis dapat berkembang secara berkelanjutan. “Kami berpikir bahwa modal ini tidak cukup untuk jangka menengah dan panjang. Pertumbuhan penjualan SANY Group sendiri sangat pesat di industri, sehingga kami harus bisa menyeimbangkan atau mengikuti pertumbuhan tersebut,” ujar Bryan dalam wawancara khusus dengan Xinhua di Jakarta.

SANY Indonesia Finance resmi memulai operasional bisnisnya setelah memperoleh izin usaha perusahaan pembiayaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdasarkan Keputusan Nomor KEP-56/D.06/2026 tertanggal 14 September 2026. Dalam acara peluncuran tersebut, perusahaan menandatangani perjanjian kerja sama strategis dengan delapan bank, yakni Maybank Indonesia, HSBC Indonesia, Bank of China, BRI, OCBC Indonesia, SMBC Indonesia, BNP Paribas, dan UOB Indonesia. Pada kesempatan yang sama, perusahaan juga menandatangani dokumen perjanjian pembiayaan dengan perwakilan klien.

Bryan menjelaskan bahwa salah satu pertimbangan utama dalam rencana penguatan modal adalah ketentuan rasio pengungkit atau gearing ratio yang ditetapkan OJK. Rasio tersebut membandingkan total pinjaman yang diterima perusahaan pembiayaan dengan modal sendiri. Dengan struktur permodalan saat ini, SANY Indonesia Finance memperkirakan rasio pengungkitnya akan mendekati batas maksimum yang diperkenankan OJK dalam kurun waktu sekitar satu tahun lebih, seiring dengan pertumbuhan bisnis perusahaan.

Ketentuan OJK membatasi gearing ratio perusahaan pembiayaan paling tinggi 10 kali. “Kami berpikir bahwa dengan modal kami sekarang, kami akan bisa mencapai gearing ratio hanya dalam waktu satu tahun lebih. Kami akan berada di ambang atas batas yang dapat diterima OJK sehingga harus melakukan injeksi modal lagi agar tetap mematuhi ketentuan,” tutur Bryan.

Sehubungan dengan hal tersebut, perusahaan mempertimbangkan kemungkinan melakukan aksi korporasi untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mengantisipasi peningkatan kebutuhan pembiayaan. Bryan menegaskan bahwa penguatan modal diperlukan agar perusahaan dapat mengikuti perkembangan bisnis SANY Group tanpa mengabaikan ketentuan regulator maupun prinsip kehati-hatian.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, SANY Indonesia Finance akan berfokus pada pembiayaan investasi secara langsung kepada pelanggan, terutama mereka yang membeli produk alat berat melalui jaringan diler SANY. “Kami lebih fokus ke pembiayaan investasi, pembiayaan langsung kepada pelanggan. Jadi, ketika pelanggan melakukan pemesanan melalui diler kami dan memilih menggunakan pembiayaan, maka kami akan masuk untuk memberikan dukungan,” tuturnya.

Model bisnis tersebut diharapkan dapat melengkapi ekosistem penjualan SANY Group di Indonesia dengan menyediakan alternatif pembiayaan bagi pelanggan yang membutuhkan alat berat untuk mendukung kegiatan usaha mereka.

UTAMAKAN KEPATUHAN DAN MANAJEMEN RISIKO

Di tengah rencana ekspansi, SANY Indonesia Finance menempatkan kepatuhan terhadap regulasi sebagai salah satu prioritas utama dalam menjalankan kegiatan operasional. Bryan mengatakan perusahaan berkomitmen memenuhi seluruh ketentuan OJK, termasuk kewajiban pelaporan tepat waktu, penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta penguatan sistem manajemen risiko. Untuk mendukung komitmen tersebut, perusahaan telah menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang kepatuhan dan tengah menyempurnakan prosedur internal guna memastikan seluruh kegiatan operasional berjalan sesuai ketentuan.

Dia menekankan bahwa peningkatan penjualan dan penyaluran pembiayaan harus diimbangi dengan kesiapan sistem internal, sumber daya manusia, serta pengelolaan risiko. “Jangan sampai penjualan kami naik, tetapi aspek lainnya tertinggal sehingga prosedur menjadi sulit dan kami justru kurang patuh. Karena itu, kami berusaha memastikan seluruh prosedur dan sistem yang diperlukan sudah siap ketika bisnis mulai bertumbuh,” ujarnya. Bryan, yang juga memiliki sertifikasi di bidang manajemen risiko, mengatakan perusahaan ingin membangun fondasi tata kelola yang kuat sejak awal agar pertumbuhan bisnis tidak menimbulkan kendala dalam memenuhi kewajiban terhadap regulator.

PERLUAS JANGKAUAN BISNIS SEIRING EKSPANSI

Pada tahap awal operasional, SANY Indonesia Finance masih memusatkan kegiatan bisnis di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Namun, perusahaan membuka peluang memperluas jangkauan geografis mengikuti perkembangan jaringan diler SANY Group di berbagai daerah di Indonesia. Bryan mengatakan salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah membuka kantor cabang di wilayah yang memiliki jaringan diler SANY. Langkah tersebut diharapkan dapat mendekatkan layanan pembiayaan kepada pelanggan. “Untuk jangka menengah dan panjang, dengan target dan akselerasi ekspansi SANY Group yang cukup pesat, kami juga harus memikirkan bagaimana cara untuk memperluas bisnis. Apakah dengan mendirikan cabang di daerah tempat diler-diler SANY berada atau melalui strategi lainnya,” papar Bryan.

Selain memperluas jangkauan geografis, perusahaan juga melihat peluang mengembangkan basis pelanggan di luar ekosistem SANY, termasuk perusahaan lokal yang bergerak di sektor konstruksi dan pertambangan. Meski demikian, Bryan menegaskan bahwa perusahaan akan mengutamakan pelanggan dengan profil risiko yang sesuai dengan toleransi risiko atau risk appetite perusahaan.

Pengembangan pasar akan dilakukan secara bertahap setelah perusahaan memiliki fondasi bisnis yang kuat. Strategi tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penyaluran pembiayaan dan kualitas portofolio. Sebagai bagian dari ekosistem SANY Group, SANY Indonesia Finance juga melihat peluang untuk mendukung berbagai rencana investasi grup di Indonesia, termasuk pengembangan industri dan hilirisasi.

Sebelumnya, pada awal September, jajaran SANY Group dan SANY Indonesia Finance bertemu dengan Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji di Samarinda untuk memaparkan rencana dukungan terhadap pengembangan hilirisasi di provinsi tersebut. Terkait hal itu, Bryan mengatakan SANY Indonesia Finance pada prinsipnya mendukung program investasi grup. Namun, keterlibatan perusahaan dalam setiap proyek tetap akan mempertimbangkan kesesuaian dengan strategi bisnis dan profil risiko pembiayaan. Dia menegaskan bahwa keberadaan perusahaan dalam satu grup tidak secara otomatis menjadikan SANY Indonesia Finance sebagai pemberi pembiayaan bagi seluruh proyek investasi SANY Group. “Ketika ada program-program dari SANY, kami akan melihat seberapa besar kami dapat memberikan dukungan. Itu sudah pasti berhubungan dengan profil risiko kami. Kami akan melakukan kajian terlebih dahulu dan jika sesuai dengan risk appetite, maka kami dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi,” tutur Bryan.

Menurut Bryan, pendekatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menerapkan tata kelola dan mitigasi risiko yang baik sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang. Selain mendukung kebutuhan pembiayaan investasi, ekosistem SANY Group juga berupaya berkontribusi terhadap pengembangan industri yang lebih ramah lingkungan di Indonesia. Bryan menjelaskan bahwa SANY Group telah menghadirkan berbagai produk alat berat yang mendukung agenda dekarbonisasi atau pengurangan emisi, termasuk melalui pengembangan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Sejumlah pelanggan di Indonesia bahkan telah memesan produk-produk tersebut.

SANY Indonesia Finance menyatakan kesiapan untuk mendukung pembiayaan produk-produk tersebut selama memenuhi pertimbangan kelayakan dan profil risiko perusahaan. Bryan menilai kehadiran SANY di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan penyediaan produk alat berat, tetapi juga dukungan terhadap kebutuhan pemerintah dan pelaku industri melalui beragam solusi teknologi.

Lebih lanjut, dia berharap dukungan pemerintah, OJK, dan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dapat terus diperkuat guna menciptakan ekosistem industri pembiayaan yang kondusif. Menurut Bryan, keterbukaan regulator terhadap masukan dari pelaku industri serta peran asosiasi dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan dapat mendorong perusahaan pembiayaan meningkatkan kapasitas investasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. “Kami berharap peran pemerintah maupun asosiasi dapat terus berjalan dengan baik dan ditingkatkan sehingga dapat mendukung kami untuk berinvestasi lebih besar lagi di industri pembiayaan,” kata Bryan.(red)