KUALA LUMPUR, 30 Oktober (Xinhua), eNewskalteng.com — Kabut asap yang melanda Malaysia pada 2026 diperkirakan berkaitan dengan sekitar 1.700 kematian dan kerugian kesejahteraan senilai 8 miliar ringgit (1 ringgit = Rp4.463), atau sekitar 1,97 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp18.128). Sebagian besar kematian tersebut dikaitkan dengan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lintas batas, menurut sebuah laporan yang dirilis pada Kamis (29/10).
Laporan yang disusun atas permintaan Federasi Manufaktur Malaysia (Federation of Malaysian Manufacturers/FMM) itu memperkirakan sekitar 1.700 kematian, dengan kisaran 1.300 hingga 2.300 kasus, berkaitan dengan paparan jangka pendek partikel halus dari asap karhutla selama periode 1 Juli hingga 22 Oktober 2026. Sekitar 1.600 kematian di antaranya dikaitkan dengan asap lintas batas. Namun, jika diasumsikan bahwa asap karhutla tidak lebih beracun dibandingkan partikel halus lainnya, estimasi jumlah kematian turun menjadi sekitar 600 kasus.
Dengan menggunakan metode standar transfer manfaat (benefit transfer), jumlah kematian tersebut merepresentasikan estimasi kerugian kesejahteraan sebesar 8 miliar ringgit, dengan kisaran 3 miliar hingga 15 miliar ringgit. Selain berdampak terhadap kesehatan masyarakat, kabut asap juga mengganggu kegiatan operasional dunia usaha.
Survei FMM terhadap 86 lokasi anggota, termasuk 81 perusahaan manufaktur, menunjukkan bahwa 69 persen responden mengalami dampak operasional. Sementara itu, 26 persen melaporkan gangguan berkategori sedang hingga signifikan, terutama akibat ketidakhadiran karyawan. Hampir dua pertiga responden menyatakan telah merasakan dampak kabut asap pada Agustus atau September 2026.(red)












