Uncategorized

Kreator Lokal Padukan Seni Tradisional dan Teknologi Digital di Jakarta Game On 2026

3
×

Kreator Lokal Padukan Seni Tradisional dan Teknologi Digital di Jakarta Game On 2026

Sebarkan artikel ini
Foto dokumentasi yang diabadikan pada 14 Juni 2024 ini menunjukkan peserta wisuda kelompok kedua dengan program pelatihan bersama di bidang teknik metalurgi berfoto bersama sesudah acara kelulusan di depan pintu gerbang Central South University (CSU) di Tiongkok tengah. (Xinhua)

JAKARTA, 23 Oktober (Xinhua), eNewskalteng.com – Di tengah dominasi teknologi dan kompetisi gim, Jakarta Game On 2026 menghadirkan ruang bagi seniman dan inovator lokal untuk memperkenalkan karya yang memadukan kreativitas konvensional dengan perkembangan digital.

Foto yang diabadikan pada 21 Oktober 2026 ini menunjukkan contoh produk “phygital” dari Titantra Intermedia berupa kartu kecil berhiaskan gambar cerita. Di balik kartu terdapat kode QR yang dapat dipindai untuk mengakses cerita lengkap dari gambar tersebut. (Xinhua/Indalia Jayadinata)

Festival yang berlangsung pada 16–18 Oktober 2026 di The Brick Hall, Fatmawati City Center, Jakarta Selatan, tersebut tidak hanya menampilkan industri gim dan teknologi informasi, tetapi juga menjadi wadah bagi pelaku seni untuk memperkenalkan karya serta gagasan baru kepada masyarakat.

Salah satu daya tariknya adalah stan Paguyuban Pedagang Kreatif Mature yang untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam ajang tersebut. Melalui kolaborasi dengan Mature, media daring yang bergerak di bidang seni dan budaya, sejumlah kreator mendapat kesempatan untuk menampilkan karya mereka kepada pengunjung.

Saepul Bahri dari Kilau Art Studio menjadi salah satu seniman yang memperkenalkan karya seni cukil kayu, gambar, dan berbagai karya buatan anak-anak. Ia juga menawarkan layanan pembuatan sketsa wajah secara langsung dengan tarif Rp100.000.

Menurut Saepul, kehadiran seni manual dalam festival yang berorientasi pada teknologi dan gim dapat melengkapi pengalaman visual pengunjung. Ia menilai kreativitas berbasis keterampilan tangan tetap memiliki peran penting di tengah perkembangan karya digital.

Di balik gim modern dan teknologi komputer, terdapat proses kreatif yang membutuhkan keahlian artistik. Karena itu, seni konvensional dan teknologi digital tidak harus dipertentangkan, melainkan dapat saling mendukung.

Saepul berharap karya-karya yang ditampilkan dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap seni sekaligus memberikan ruang bagi seniman lokal untuk berkembang.

Dukungan terhadap penguatan ekosistem kreatif juga disampaikan Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, Puji Hastuti. Ia berharap Jakarta dapat menyelenggarakan acara gim berskala internasional yang menarik pelaku industri dan pengunjung dari berbagai negara.

Menurut Puji, penyelenggaraan acara semacam itu dapat memperluas kesempatan bagi pengembang gim, pemilik kekayaan intelektual, kreator, dan talenta lokal untuk memperkenalkan karya mereka ke pasar yang lebih luas.

Inovasi phygital hadirkan pengalaman baru

Selain seni tradisional, stan tersebut juga menampilkan inovasi yang menghubungkan produk fisik dengan konten digital. Salah satunya dikembangkan Arif Wicaksono dari Titantra Intermedia melalui konsep phygital, gabungan antara unsur fisik (physical) dan digital.

Arif memperkenalkan kartu kecil berbahan karton yang dihiasi ilustrasi cerita. Pada bagian belakang kartu terdapat kode QR, kata sandi, dan nomor seri yang menandai jumlah cetakan, sehingga produk tersebut memiliki karakteristik layaknya barang koleksi.

Pengguna dapat memindai kode QR dan memasukkan kata sandi melalui ponsel pintar untuk mengakses cerita lengkap yang terhubung dengan ilustrasi pada kartu.

Arif menjelaskan bahwa gagasan tersebut berangkat dari keinginannya menghadirkan kembali rasa memiliki terhadap karya di tengah maraknya konsumsi konten digital.

Menurut dia, akses terhadap musik dan berbagai konten melalui platform digital sering kali tidak memberikan pengalaman kepemilikan yang sama seperti ketika seseorang memiliki benda fisik. Melalui konsep phygital, ia ingin menghadirkan pengalaman yang menggabungkan akses digital dengan objek nyata yang dapat disimpan dan dikoleksi.

Sistem yang dikembangkan juga dirancang dengan akses eksklusif, yakni satu benda fisik digunakan untuk mengakses konten digital pada satu perangkat. Dengan demikian, kartu tersebut tidak hanya berfungsi sebagai media penyimpan ilustrasi, tetapi juga sebagai penghubung menuju karya digital.

Saat ini, produk tersebut masih berada pada tahap purwarupa atau demonstrasi. Arif berencana mengembangkan sistemnya dengan menggunakan teknologi komunikasi jarak dekat (near-field communication/NFC).

Melalui teknologi tersebut, pengguna nantinya cukup mendekatkan atau menempelkan kartu ke ponsel pintar untuk mengakses konten tanpa harus memindai kode QR secara manual.

Arif mengatakan pengembangan teknis untuk menghubungkan benda fisik dengan konten digital bukanlah tantangan utamanya. Kendala yang lebih besar terletak pada pendanaan, terutama untuk membiayai peladen (server) dan pengembangan perangkat lunak yang diperlukan.

Kendati demikian, ia melihat peluang bagi produk phygital untuk menawarkan pengalaman baru kepada kolektor dan penikmat karya kreatif.

Memperluas ruang bagi kreativitas lokal

Kehadiran Saepul Bahri dan Arif Wicaksono di Jakarta Game On 2026 memperlihatkan beragam pendekatan yang dapat digunakan kreator untuk menjawab perubahan perilaku masyarakat di era digital.

Saepul mempertahankan nilai seni yang lahir dari keterampilan tangan, sedangkan Arif mengembangkan cara baru untuk menghubungkan objek fisik dengan pengalaman digital. Keduanya menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak harus menghilangkan ruang bagi karya autentik.

Kolaborasi lintas bidang seperti ini juga membuka peluang untuk mempertemukan seniman, inovator, pelaku industri, dan masyarakat dalam satu ekosistem kreatif.

Menjelang peringatan 500 tahun Jakarta pada 2027, penguatan ruang bagi para kreator diharapkan dapat mendukung pertumbuhan industri kreatif sekaligus memperkaya identitas budaya kota.

Melalui perpaduan seni, teknologi, dan inovasi produk, Jakarta Game On 2026 menjadi salah satu ruang bagi talenta lokal untuk memperkenalkan gagasan baru serta memperluas jangkauan karya mereka di tengah perubahan lanskap digital.(red)