BeritaInternasional

Pemain Indonesia Kenang Semarak Turnamen Sepak Bola Cun Chao di Tiongkok

19
×

Pemain Indonesia Kenang Semarak Turnamen Sepak Bola Cun Chao di Tiongkok

Sebarkan artikel ini
Para pemain inti tim ZTE Indonesia Sinarmas Nubia berfoto bersama sebelum pertandingan di lapangan "Cun Chao" di wilayah Rongjiang, Prefektur Otonom Etnis Miao dan Dong Qiandongnan, Provinsi Guizhou, Tiongkok barat daya, pada 1 Oktober 2026. (Xinhua/Li Changhua)

GUIYANG, Xinhua, eNewskalteng.com — Pengalaman mengikuti turnamen sepak bola internasional Village Super League atau yang dikenal sebagai “Cun Chao” di Rongjiang, Provinsi Guizhou, Tiongkok barat daya, meninggalkan kesan mendalam bagi para pemain Indonesia. Selain merasakan atmosfer pertandingan yang meriah, mereka juga menyaksikan perpaduan sepak bola dan budaya tradisional masyarakat setempat.

Para pemain tim ZTE Indonesia Sinarmas Nubia menghadiri upacara pembukaan Piala Internasional Ketiga Village Super League 2026 di lapangan “Cun Chao” di wilayah Rongjiang, Prefektur Otonom Etnis Miao dan Dong Qiandongnan, Provinsi Guizhou, Tiongkok barat daya, pada 1 Oktober 2026. (Xinhua/Li Changhua)

Salah satu pemain, Gilang Prasetyo Ifandanu (37), mengaku masih mengingat antusiasme penonton yang memenuhi tribun ketika dirinya bersama rekan-rekan setim bertanding. Menurutnya, suasana tersebut menjadi pengalaman berharga yang sulit dilupakan. “Pikiran saya masih dipenuhi suara sorak-sorai penonton!” ujar Gilang kepada Xinhua melalui media sosial.

Turnamen internasional ketiga Village Super League 2026 berlangsung pada 30 September hingga 6 Oktober di Rongjiang. Ajang yang dijuluki “Piala Dunia Mini Cun Chao” itu diikuti 16 tim dengan total 371 pemain dari lebih dari 30 negara dan wilayah, termasuk 199 pemain asing. Tim Brazilian Galaxy United keluar sebagai juara.

Rongjiang sendiri mulai dikenal luas sejak 2023 melalui kompetisi sepak bola akar rumput yang melibatkan masyarakat setempat. Pesertanya berasal dari beragam profesi, mulai dari sopir taksi, peternak, pedagang mi beras hingga pekerja konstruksi. Popularitas kompetisi tersebut kemudian menarik partisipasi tim dari berbagai daerah dan negara.

Tim ZTE Indonesia Sinarmas Nubia menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam turnamen tahun ini. Tim yang dibentuk melalui kolaborasi ZTE Corporation dan Grup Sinar Mas tersebut diperkuat 29 pemain asal Tiongkok dan Indonesia, termasuk 12 pemain Indonesia. Bagi Gilang, yang telah bekerja di Grup Sinar Mas selama 16 tahun, perjalanan tersebut juga menjadi pengalaman pertamanya ke luar negeri. Ia sempat khawatir menghadapi kendala bahasa sebelum berangkat. Namun, kekhawatiran itu berkurang ketika pertandingan dimulai. “Begitu saya menginjakkan kaki di lapangan, semuanya terasa lancar. Asal bisa bermain sepak bola, kita tahu apa yang harus dilakukan. Sepak bola adalah bahasa universal!” katanya.

Gilang juga terkesan dengan fasilitas stadion, termasuk sistem pengenalan wajah di pintu masuk. Menurutnya, fasilitas semacam itu belum tentu ditemukan di lapangan sepak bola di sejumlah kabupaten kecil di Indonesia. Ia turut mengabadikan berbagai sudut Rongjiang yang dinilainya lebih modern daripada perkiraannya.

Kesan berbeda disampaikan Vincent Tanato (30), rekan setim Gilang yang juga baru pertama kali mengunjungi Tiongkok. Sebelum datang, ia lebih mengenal Tiongkok melalui gambaran kota-kota modern dengan gedung pencakar langit dan teknologi canggih. Namun, Rongjiang memperlihatkan sisi lain negara tersebut melalui karakter tradisional dan kekayaan budayanya.

Sementara itu, Hanan Juwanta Lius (42), yang sebelumnya telah mengunjungi sejumlah kota di Tiongkok, mengaku terkesan dengan keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan turnamen. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bagaimana inisiatif warga dapat berjalan beriringan dengan dukungan pemerintah.

Keunikan Cun Chao juga terlihat dari perpaduan pertandingan sepak bola dengan pertunjukan budaya etnis. Warga mengenakan pakaian tradisional, membawa produk khas daerah, memainkan alat musik, dan menampilkan tarian. Seusai pertandingan, penonton bahkan berbondong-bondong memasuki lapangan untuk merayakan kebersamaan.

Hanan menilai kecintaan warga terhadap sepak bola dan tradisi lokal menjadi daya tarik utama kompetisi tersebut. Antusiasme penonton tetap tinggi, bahkan ketika hujan turun saat pertandingan berlangsung.

Bagi Gilang, keberhasilan sebuah wilayah kecil menyelenggarakan turnamen internasional merupakan sesuatu yang luar biasa. Ia berharap dapat kembali mengikuti kompetisi tersebut pada masa mendatang. Rongjiang juga direncanakan menjadi tuan rumah ajang “Piala Dunia Cun Chao” yang lebih besar pada 2028.

Vincent turut berharap tim-tim dari Rongjiang dapat berkunjung dan bertanding di Indonesia. Ia menilai sepak bola dapat menjadi jembatan persahabatan antara kedua negara sekaligus memperluas pertukaran olahraga dan budaya Indonesia-Tiongkok.(red)