BeritaPemkab Kotawaringin Timur

Pemkab Kotim Evaluasi Karhutla 2026 Sebagai Antisipasi Musim Kemarau 2027

1
×

Pemkab Kotim Evaluasi Karhutla 2026 Sebagai Antisipasi Musim Kemarau 2027

Sebarkan artikel ini
Bupati Kotim, Halikinnor, saat meninjau langsung kondisi karhutla Di Jalan Cilik Riwut kilometer 11 Sampit, Sabtu (26/9/2026). (Foto-Normansyah)

Kotawaringin Timur, eNewskalteng.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), telah mengevaluasi kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2026 sebagai antisipasi dan pelajaran untuk menghadapi musim kemarau 2027 mendatang. Beberapa langkah yang akan diperkuat adalah memperbanyak titik  sumber air di wilayah rawan karhutla.

Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor mengatakan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini terhitung cukup parah. Kondisi cuaca panas dan kering yang berlangsung cukup lama membuat sejumlah sumber air yang selama ini menjadi andalan untuk pemadaman ikut mengering. “Karhutla tahun ini termasuk parah karena musim kemarau cukup lama dan sumber air langsung kering. Biasanya embung-embung di parit atau sulukan masih ada air, sekarang langsung kering. Kita juga membuat sumur, tetapi cukup sulit mencari airnya,” ujar Halikinnor, Sabtu (26/9/2026).

Halikinnor menegaskan. Kejadian karhutla tahun ini menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah untuk menghadapi musim kemarau ditahun mendatang. Salah satu langkah yang akan diperkuat yakni memperbanyak sekaligus menjaga sumber air di titik-titik rawan karhutla. “Ke depan sumur-sumur yang betul-betul dalam harus dipelihara. Kemudian dibangun permanen, disemen dan dipagar supaya tetap terjaga. Beberapa titik, khususnya di kawasan sekitar bandara, juga harus kita amankan,” katanya.

Halikinnor juga meminta para lurah dan camat menginventarisasi lahan yang dipenuhi semak belukar, termasuk lahan milik masyarakat yang tidak terawat. “Jangan hanya menikmati tanahnya, tetapi harus ada tanggung jawab sosial. Kalau memasuki musim kemarau, lahannya harus bersih dan dijaga. Kalau memungkinkan, harus ada sumur atau embung portable,” tegasnya.

Keterbatasan armada pemadam kebakaran ungkap halikinnor, juga menjadi salah satu kelemahan dalam penanganan karhutla tahun ini. Menurutnya, jumlah personel yang tersedia sebenarnya cukup, tetapi belum seluruhnya didukung sarana dan peralatan yang memadai. “Begitu personel dan peralatan pemadaman dikerahkan semua, kita kekurangan armada, khususnya mobil pemadam. Personelnya ada, tetapi alatnya tidak ada. Ini masih menjadi sisi kelemahan kita,” ungkapnya.

Oleh karena itu, penguatan sarana dan prasarana penanganan karhutla dinilai perlu dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Hal tersebut penting agar daerah tidak kembali kewalahan apabila menghadapi musim kemarau dengan kondisi serupa. “Untuk itulah kejadian karhutla tahun ini harus diantisipasi jauh-jauh hari. Walaupun tahun depan misalnya tidak kemarau seperti ini, paling tidak kita sudah siap menghadapi kemarau apabila kondisi seperti ini kembali terjadi,” pungkas Halikinnor. (man)