SHENZHEN, 4 September (Xinhua), eNewskalteng.com — Penguatan konektivitas infrastruktur, rantai industri, dan rantai pasokan menjadi salah satu elemen penting dalam mempererat kerja sama ekonomi antara Tiongkok dan Indonesia. Pengalaman kedua negara dinilai dapat menjadi salah satu contoh konkret bagi penguatan integrasi di kawasan Asia-Pasifik. Hal tersebut mengemuka menjelang penyelenggaraan Forum Media Asia-Pasifik yang akan berlangsung di Shenzhen, Provinsi Guangdong, Tiongkok selatan, pada Sabtu (5/9). Forum tersebut digelar dalam rangka menyambut “Tahun Tiongkok” Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) 2026. Sejumlah wartawan senior Indonesia bersama perwakilan media dari ekonomi anggota APEC lainnya mengikuti rangkaian kunjungan dan subforum di Shenzhen serta sejumlah kota di sekitarnya menjelang forum.

Direktur Pemberitaan Kantor Berita ANTARA Virgandhi Prayudantoro mengatakan bahwa “konektivitas” merupakan kata kunci yang menggambarkan pentingnya kerja sama APEC tahun ini. Menurut Virgandhi, konektivitas tidak hanya berkaitan dengan pembangunan dan keterhubungan infrastruktur fisik, tetapi juga mencakup integrasi rantai industri serta rantai pasokan di antara negara-negara mitra. “Konektivitas di sini berarti terhubungnya infrastruktur yang menjadi fondasi pembangunan, dan juga konektivitas rantai industri serta rantai pasokan dari mitra-mitra, yang akan menghasilkan manfaat bersama yang signifikan,” kata Virgandhi.
Integrasi Industri Semakin Mendalam
Perkembangan Kawasan Teluk Besar Guangdong-Hong Kong-Makau menjadi salah satu gambaran mengenai bagaimana penguatan konektivitas dapat berjalan beriringan dengan pembangunan industri. Wilayah yang mencakup Shenzhen tersebut berkembang sebagai salah satu pusat industri penting di Tiongkok. Kerja sama perusahaan di kawasan itu dengan mitra-mitra di Indonesia juga memperlihatkan perubahan pola hubungan ekonomi, dari sekadar perdagangan menuju pembangunan ekosistem industri yang lebih terintegrasi.
Sejumlah merek kendaraan energi baru asal Guangdong, seperti Xpeng, BYD dan GAC, telah dikenal di pasar Indonesia. Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui ekspor kendaraan, tetapi juga semakin diarahkan pada pembangunan basis produksi dan ekosistem industri di Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut turut mengembangkan fasilitas produksi serta melibatkan pemasok komponen dan perusahaan pendukung lokal. Bersamaan dengan investasi tersebut, teknologi, pengalaman pengelolaan industri, serta standar produksi turut diperkenalkan.
Upaya pengembangan sumber daya manusia lokal juga menjadi bagian dari proses tersebut. Perusahaan Tiongkok tidak hanya membawa investasi dan teknologi, tetapi juga memberikan pelatihan bagi tenaga kerja Indonesia agar mampu memenuhi kebutuhan industri yang berkembang.
Kerja sama serupa juga terlihat di sektor kesehatan melalui Mindray, perusahaan teknologi kesehatan yang berbasis di Shenzhen. Alih-alih hanya mengandalkan ekspor produk, Mindray membangun lima basis produksi di Indonesia. Sekitar 90 persen tenaga kerja di fasilitas tersebut merupakan warga Indonesia. Perusahaan itu juga bekerja sama dengan sejumlah rumah sakit di Indonesia untuk mendukung penerapan teknologi kesehatan dalam pelayanan medis.
Pendidikan dan Pengembangan Talenta
Penguatan rantai industri juga membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai. Karena itu, kerja sama pendidikan dan industri menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok menjalin kemitraan dengan universitas dan perusahaan di Indonesia. Beberapa di antaranya juga mengembangkan program studi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri untuk membantu mencetak tenaga terampil lokal.
Pendekatan “kampus plus perusahaan” memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktik sekaligus mengenal kebutuhan industri secara langsung. Model tersebut diharapkan dapat mempersempit kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja, sekaligus meningkatkan kapasitas perusahaan dan kualitas sumber daya manusia.
Infrastruktur Jadi Penghubung Perdagangan
Sementara itu, CEO Tribun Network Dahlan Dahi menyoroti pentingnya infrastruktur pelabuhan dan jaringan logistik dalam memperkuat hubungan ekonomi antara Tiongkok dan Indonesia. Saat mengikuti kunjungan ke Shenzhen, Dahlan menaruh perhatian pada perkembangan Pelabuhan Yantian, termasuk jaringan pelayaran yang menghubungkan pelabuhan tersebut dengan Tanjung Priok, Surabaya, dan sejumlah pelabuhan lain di Indonesia.
Menurut Dahlan, konektivitas pelabuhan memberikan dukungan penting bagi aktivitas perdagangan sekaligus mobilitas berbagai kebutuhan pembangunan. “Saya merasa infrastruktur dan logistik terus memainkan peran penting dalam pembangunan regional, bukan hanya di sisi perdagangan. Pengembangan proyek-proyek sering kali membutuhkan pengangkutan bahan-bahan dan alat berat dalam jumlah yang sangat besar, sehingga diperlukan pengiriman yang tangguh dan efisien,” kata Dahlan.
Menurutnya, pengalaman kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur, penguatan industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kelancaran rantai pasokan dapat saling mendukung. Dahlan menilai berbagai bentuk kerja sama yang telah dikembangkan kedua negara juga berpotensi menjadi referensi bagi penguatan hubungan ekonomi di antara anggota APEC.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat diperluas dalam lingkup kawasan sehingga memberikan nilai tambah serta manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat di negara-negara Asia-Pasifik. Dengan semakin terhubungnya infrastruktur, industri, sumber daya manusia, dan jaringan logistik, kerja sama Tiongkok-Indonesia dinilai tidak hanya membuka peluang ekonomi bilateral, tetapi juga turut memperkuat fondasi integrasi dan pembangunan bersama di kawasan Asia-Pasifik.(red)












