BeritaBisnisNasional

Smartwatch Makin Diminati di Indonesia, Bukan Sekadar Penunjang Gaya

2
×

Smartwatch Makin Diminati di Indonesia, Bukan Sekadar Penunjang Gaya

Sebarkan artikel ini
Foto yang diabadikan pada 13 Agustus 2026 ini menunjukkan sejumlah orang memperlihatkan jam tangan pintar mereka di Jakarta. (Xinhua/Istimewa)

Oleh Ferdiyanto

JAKARTA, 15 Agustus (Xinhua), eNewskalteng.com — Jam tangan pintar atau smartwatch kini semakin melekat dalam keseharian masyarakat Indonesia. Bukan lagi sekadar pelengkap penampilan, perangkat yang dikenakan di pergelangan tangan tersebut mulai dimanfaatkan untuk memantau kesehatan, aktivitas olahraga, menerima notifikasi, hingga membantu berbagai kebutuhan sehari-hari.

Di tengah mobilitas masyarakat perkotaan yang semakin tinggi, smartwatch menawarkan kepraktisan karena sejumlah fungsi yang sebelumnya hanya tersedia melalui ponsel kini dapat diakses langsung dari pergelangan tangan.

Perkembangan tersebut sejalan dengan pertumbuhan pasar smartwatch secara global. Berdasarkan laporan Counterpoint Research pada kuartal pertama 2026, pengiriman smartwatch dunia meningkat 4 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan terutama didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap perangkat premium dengan kemampuan pemantauan kesehatan yang semakin lengkap. Apple tercatat masih memimpin pasar dengan pangsa 23 persen, sedangkan Huawei berada di posisi berikutnya dengan 17 persen.

PASAR INDONESIA SEMAKIN KOMPETITIF

Tren global tersebut turut terasa di Indonesia. Minat konsumen terhadap perangkat yang mampu membantu memantau kesehatan, aktivitas olahraga, dan rutinitas sehari-hari terus meningkat.

Namun, persaingan di pasar Indonesia memiliki karakter tersendiri, khususnya pada segmen harga menengah yang menjadi salah satu arena perebutan konsumen.

Data platform riset pasar dan penyedia analitik e-commerce Markethac yang dirilis pada Maret menunjukkan total gross merchandise value (GMV) pasar smartwatch Indonesia mencapai sekitar Rp1,26 triliun.

Pada rentang harga Rp2 juta hingga Rp3 juta, yang menyumbang sekitar 14,43 persen dari pasar, persaingan berlangsung sangat ketat. Huawei dan Garmin menjadi dua merek yang paling dominan di segmen tersebut.

Huawei menguasai sekitar 44,77 persen pangsa pasar dengan penjualan sekitar 32.400 unit. Sementara Garmin mencatat pangsa 38,8 persen dengan penjualan sekitar 26.800 unit.

Kedua merek tersebut secara bersama-sama menguasai lebih dari 80 persen GMV pada segmen harga Rp2 juta-Rp3 juta. Adapun merek lain seperti Xiaomi, Samsung, dan Apple harus berbagi sisa pasar dengan pangsa masing-masing di bawah 6 persen.

KESEHATAN DAN KEPRATISAN JADI DAYA TARIK

Bagi sebagian pengguna di Indonesia, keputusan menggunakan smartwatch lebih banyak didorong oleh manfaat praktis dibandingkan sekadar mengikuti tren.

Annisa Ayu (35), penerjemah yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat, mengatakan perangkat tersebut membantunya memantau aktivitas harian, terutama jumlah langkah kaki.

“Saya memilih menggunakan smartwatch karena dapat membantu memantau jumlah langkah kaki dan aktivitas harian,” ujarnya kepada Xinhua di Jakarta pada Selasa (11/8).

Sebagai pengguna transportasi umum, Annisa juga merasakan manfaat fitur media controller. Fitur tersebut memungkinkannya mengatur musik tanpa perlu mengeluarkan ponsel ketika berada di tempat ramai.

Selain itu, notifikasi dari aplikasi seperti WhatsApp dan LINE dapat dilihat secara cepat melalui pergelangan tangan. Karena alasan kepraktisan tersebut, dia mengaku selalu mengenakan smartwatch ketika beraktivitas di luar rumah.

Pengalaman serupa disampaikan Rai (31), seorang karyawan swasta di Jakarta Selatan. Menurut dia, daya tahan baterai, konektivitas dengan ponsel, serta tampilan layar menjadi beberapa faktor penting dalam memilih smartwatch.

“Memiliki manajemen kesehatan seperti kualitas tidur, GPS, dan notifikasi yang terhubung ke smartphone sangat berguna,” katanya kepada Xinhua melalui WhatsApp pada Selasa.

Rai mengatakan dirinya juga mempertimbangkan harga, kelengkapan fitur, desain, dan daya tahan baterai sebelum membeli perangkat tersebut.

Fitur alarm, pengingat aktivitas, serta target jumlah langkah harian kini menjadi bagian dari rutinitasnya. Dalam sehari, dia dapat menggunakan smartwatch selama sekitar delapan jam.

MENJADI BAGIAN DARI GAYA HIDUP BERBASIS DATA

Meningkatnya penggunaan smartwatch juga menunjukkan perubahan cara masyarakat memandang teknologi yang dikenakan di tubuh.

Aditya (37), seorang jurnalis media teknologi asal Bekasi, menilai smartwatch telah berkembang menjadi salah satu aksesori yang semakin umum digunakan masyarakat Indonesia.

Menurut dia, perkembangan tersebut didorong oleh inovasi produsen yang terus menghadirkan fitur baru serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan pola hidup aktif.

“Pengguna lebih disiplin berolahraga, lebih peduli pada pola tidur, dan memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap kesehatan tubuh,” ujar Aditya.

Dia menilai fitur pengingat (reminder) dan gamifikasi turut mendorong pengguna untuk lebih konsisten berolahraga maupun menjalankan target kesehatan mereka.

Kemampuan melihat berbagai metrik tubuh secara langsung, seperti detak jantung, jumlah langkah, dan estimasi kalori yang terbakar, juga memberikan pengalaman tersendiri bagi pengguna.

Kondisi tersebut membuat smartwatch perlahan bergeser dari sekadar alat penunjuk waktu menjadi perangkat yang mendukung kebiasaan hidup sehari-hari.

Aditya bahkan menyebutnya sebagai “simbol gaya hidup berbasis data”, karena pengguna dapat memanfaatkan informasi yang dikumpulkan perangkat untuk mengevaluasi aktivitas tubuh sekaligus mendapatkan motivasi untuk menjaga kesehatan.

AKURASI DATA MASIH MENJADI TANTANGAN

Di balik pertumbuhan tersebut, industri smartwatch masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah tingkat akurasi data kesehatan yang dihasilkan perangkat.

Aditya mengatakan tingkat presisi sensor dapat berbeda-beda, tergantung pada merek dan kelas perangkat. Karena itu, data yang ditampilkan smartwatch perlu dipahami secara proporsional dan tidak serta-merta dianggap sebagai pengganti pemeriksaan medis.

Ke depan, dia berharap teknologi tersebut berkembang menjadi sarana pendukung kesehatan yang lebih konsisten, bukan hanya mengikuti tren gaya hidup sesaat.

“Ini perlu sinergi yang baik antara pihak pengembang teknologi, tenaga medis, dan pembuat kebijakan guna memastikan bahwa pemanfaatan smartwatch berjalan efektif, aman, dan inklusif,” ujarnya kepada Xinhua melalui surel pada Senin (10/8).

Perkembangan smartwatch pada akhirnya menunjukkan perubahan kebutuhan pengguna teknologi. Masyarakat tidak lagi hanya membutuhkan perangkat yang membantu mereka tetap terhubung dengan dunia digital, tetapi juga teknologi yang dapat membantu mereka memahami kondisi tubuh dan membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Dengan perpaduan antara fungsi komunikasi, pemantauan aktivitas, dan fitur kesehatan, smartwatch semakin menempati posisi sebagai bagian dari keseharian masyarakat Indonesia.