SINGAPURA, 14 Agustus (Xinhua), eNewskalteng.com — Lebih dari delapan dekade setelah berakhirnya Perang Dunia II, sejumlah fakta mengenai aktivitas perang biologis Jepang di Asia Tenggara masih belum sepenuhnya terungkap. Sejarawan Singapura Lim Shao Bin menilai diperlukan kerja sama internasional yang lebih luas untuk membuka berbagai catatan sejarah yang masih tersimpan.
Lim, yang selama puluhan tahun menelusuri aktivitas perang biologis Jepang di kawasan Asia Tenggara, mengatakan temuan-temuan baru justru menunjukkan masih banyak bagian dari sejarah tersebut yang belum terdokumentasikan. Menurut dia, pemerintah, akademisi, dan lembaga penelitian dari berbagai negara perlu bekerja sama untuk memperluas penelitian sekaligus mendorong pembukaan arsip yang berkaitan dengan aktivitas perang biologis Jepang.
Sejak 1980-an, Lim telah mengumpulkan berbagai dokumen Jepang dari toko buku bekas maupun arsip pemerintah di Jepang. Dalam satu dekade terakhir, perhatiannya banyak diarahkan pada Unit 9420, unit perang biologis Tentara Kekaisaran Jepang yang beroperasi di Asia Tenggara.
Unit tersebut merupakan bagian dari jaringan perang biologis Jepang yang lebih luas. Personelnya direkrut dari sejumlah unit yang telah lebih dahulu berdiri, termasuk Unit 731 yang bermarkas di Harbin, serta unit-unit lain di Nanjing dan Jepang. Lim menyebut Unit 9420 membangun fasilitas produksi bom kuman di Singapura dan wilayah yang kini menjadi Malaysia. Dalam proses tersebut, sayuran digunakan sebagai pakan tikus, sementara tikus dikembangbiakkan untuk menghasilkan kutu. Kutu kemudian diinfeksi bakteri penyebab penyakit pes sebelum digunakan dalam bom kaca. Berbasis di Singapura, Unit 9420 juga memiliki jaringan di sejumlah wilayah yang kini menjadi Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Myanmar.
Lim menjelaskan, kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu lokasi yang dipilih militer Jepang karena kondisi iklimnya dinilai sesuai untuk pengembangbiakan kutu. Para peneliti Jepang kala itu menyimpulkan kutu berkembang optimal pada suhu sekitar 27 hingga 30 derajat Celsius dengan kelembapan sekitar 90 persen. Sejumlah hasil penelitian tersebut dituangkan dalam buku Oka 9420 Unit, Japanese South Army BW Troop, yang ditulis Lim bersama cendekiawan China Wang Xuan dan diterbitkan pada 2025. Namun, penelitian mengenai Unit 9420 masih terus berkembang seiring munculnya bukti-bukti baru.
Salah satu temuan yang dinilai penting berasal dari kesaksian seorang mantan tawanan perang yang tersimpan di Arsip Nasional Inggris. Pria yang diidentifikasi sebagai W. B. Williams tersebut memberikan keterangan mengenai sejumlah prosedur medis yang dialaminya bersama tawanan perang lainnya. Williams ditangkap di Singapura pada Februari 1942. Dalam kesaksiannya, dia menyebut para tawanan menjalani vaksinasi dan inokulasi, pengambilan sampel darah, serta prosedur lain yang menurutnya tidak biasa.
Beberapa hari setelah prosedur tersebut, sejumlah tawanan mengalami sakit kepala berat, diare, disentri, dan gangguan pencernaan. Williams mengatakan prosedur serupa dilakukan berulang kali selama masa penahanannya di sejumlah kamp. “Jika itu bukan eksperimen, saya tidak tahu harus menyebutnya apa lagi,” tulis Williams dalam kesaksiannya.
Lim mengatakan temuan tersebut berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai kemungkinan adanya tawanan Inggris yang menjadi subjek eksperimen manusia. “Sebelumnya, kami belum menemukan catatan yang menunjukkan bahwa warga negara Inggris juga menjadi subjek eksperimen manusia,” ujar Lim.
Meski demikian, kemungkinan tersebut bukan sepenuhnya mengejutkan bagi Lim. Dalam bukunya yang diterbitkan tahun lalu, dia telah mempertanyakan kemungkinan Unit 9420 melakukan eksperimen terhadap tawanan Inggris. Lim juga menyoroti kasus wabah tifus semak (scrub typhus) yang terjadi pada Juni 1944. Saat itu, 17 tawanan perang Inggris yang ditahan di Singapura dilaporkan terjangkit penyakit tersebut dan tiga di antaranya meninggal dunia.
Menurut Lim, penyakit tersebut pada masa itu bukan penyakit endemik di Singapura. Di sisi lain, laporan medis Unit 9420 mencatat bahwa dokter militer Jepang berhasil mengisolasi patogen terkait dari tikus liar dan membawanya ke “Syonan-to”, sebutan Jepang untuk Singapura selama pendudukan. “Penyakit itu bukan berasal dari sini. Penyakit itu dibawa ke sini,” kata Lim. Selain aktivitas Unit 9420, Lim juga menyoroti persoalan arsip Unit 731 yang hingga kini belum sepenuhnya terbuka kepada publik.
Setelah Jepang menyerah, Amerika Serikat mengirim sejumlah tim untuk menyelidiki Unit 731. Menurut Lim, sekitar 8.000 preparat patologi diserahkan kepada pihak AS. Namun, berbagai materi tersebut belum seluruhnya dibuka kepada publik dan tidak ada proses hukum yang memadai terhadap anggota unit terkait pertanggungjawaban atas kejahatan perang mereka.
Karena itu, Lim menekankan pentingnya kerja sama lintas negara untuk mendorong pembukaan arsip. “Kerja sama internasional sangatlah penting,” ujarnya. Menurut dia, upaya terkoordinasi antara pemerintah dan lembaga penelitian dapat meningkatkan peluang dibukanya dokumen-dokumen sejarah yang masih tersimpan di Jepang, Amerika Serikat, maupun negara lainnya. “Jika hanya peneliti atau universitas secara individu yang meminta pengungkapan informasi tersebut, akan sangat sulit untuk mencapai kemajuan,” imbuhnya.
Lim menilai kerja sama tersebut juga harus melibatkan berbagai disiplin ilmu. Menurutnya, penelitian sejarah mengenai perang biologis tidak cukup hanya mengandalkan dokumen tertulis, tetapi juga membutuhkan keahlian khusus untuk membaca, menerjemahkan, dan menganalisis berbagai bukti yang tersisa. Dia mencontohkan penemuannya terhadap sebuah daftar inventaris dari 1942 yang memuat ratusan bahan kimia yang dipindahkan dari markas Unit 731 ke Unit 9420. Seluruh daftar tersebut ditulis menggunakan huruf katakana Jepang. “Jika tidak memiliki spesialis di bidang tersebut, hampir mustahil untuk menafsirkannya,” kata Lim. “Kita membutuhkan keterlibatan dari berbagai bidang jika ingin mengungkap kejahatan bersejarah ini secara menyeluruh,” tegasnya.
Perhatian publik terhadap sejarah tersebut juga meningkat setelah media Singapura Channel NewsAsia menayangkan dokumenter berjudul Inside Unit 731: Japan’s Secret Human Experiments pada Juni tahun ini. Menurut Lim, banyak masyarakat Singapura terkejut setelah mengetahui bahwa negaranya memiliki keterkaitan dengan jaringan perang biologis Jepang. “Banyak orang mengira Unit 731 hanya berkaitan dengan China,” katanya. Setelah sejarah tersebut kembali diangkat oleh media Singapura, masyarakat di berbagai negara, termasuk Eropa dan Amerika Utara, mulai mengetahui bahwa aktivitas jaringan perang biologis Jepang memiliki cakupan yang jauh lebih luas.
Bagi Lim, pengungkapan sejarah Unit 731 dan unit-unit yang berafiliasi dengannya bukan hanya bertujuan merekonstruksi masa lalu. Dokumentasi tersebut juga penting untuk mengenali tanda-tanda awal yang dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat internasional agar tragedi serupa tidak terulang. Dia menilai sejarah ekspansi militer Jepang menunjukkan bahwa persiapan menuju perang dapat berlangsung jauh sebelum konflik terbuka terjadi. “Komunitas internasional harus tetap waspada,” ujar Lim. “Perlu ada mekanisme pengawasan yang lebih efektif terhadap negara-negara bekas agresor untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali.” katanya.(red)












