Kotawaringin Timur, eNewskalteng.com – Staf Ahli Bupati Kotawaringin Timur Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Muslih, menyampaikan apresiasi Pemerintah Kabupaten Kotim terhadap pelaksanaan Rapat Koordinasi Rencana Kontigensi dan Sosialisasi Bandara Sehat di Bandara Haji Asan Sampit.
Menurut Muslih, rapat koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi lintas sektor dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi masuknya penyakit menular melalui pintu transportasi udara sekaligus mewujudkan Bandara Haji Asan Sampit sebagai bandara yang memenuhi standar kesehatan. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur kami mengapresiasi kegiatan ini. Belajar dari pengalaman COVID-19, bandara memiliki peran yang sangat penting, tidak hanya sebagai pusat perputaran ekonomi, tetapi juga berpotensi menjadi pintu masuk penyebaran penyakit menular. Karena itu kita harus siap menghadapi berbagai kemungkinan,” ujar Muslih, Senin (20/7/2026).
Selain membahas kesiapsiagaan terhadap penyakit menular, kegiatan ini juga menjadi wadah koordinasi antar instansi untuk memperkuat sistem deteksi dini, respons cepat, serta sinergi lintas sektor dalam menghadapi berbagai ancaman kesehatan yang berpotensi masuk melalui jalur transportasi udara. “Saya berharap seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) yang tergabung dalam tim Bandara Sehat agar berperan aktif sesuai tugas dan fungsinya. Keberhasilan mewujudkan Bandara H. Asan Sampit sebagai bandara sehat memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” harapnya. Ia menilai penyusunan rencana kontingensi menjadi langkah penting agar seluruh instansi yang terlibat memiliki kesamaan persepsi dan mekanisme penanganan apabila terjadi ancaman kedaruratan kesehatan masyarakat di wilayah bandara.
Sementara itu Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II H. Asan Sampit, Abdul Haris, rakor ini membahas agenda utama, yakni menyusun kesepakatan rencana kontigensi untuk mencegah penyebaran penyakit melalui bandara sebagai pintu masuk wilayah serta memperkuat implementasi program Bandara Sehat. “Pihak bandara bersama seluruh pemangku kepentingan, mulai dari operator bandara, perusahaan ground handling hingga Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK), telah menyepakati alur penanganan apabila terjadi kondisi kedaruratan kesehatan,” ujarnya.
Abdul Haris mengatakan, memasuki musim kemarau perhatian juga difokuskan pada potensi kabut asap akibat karhutla yang dapat memengaruhi aktivitas penerbangan serta kesehatan masyarakat. “Apabila kondisi kabut asap berdampak terhadap kesehatan calon penumpang, keputusan seseorang dapat melakukan perjalanan udara atau tidak akan mengacu pada hasil pemeriksaan Balai Kekarantinaan Kesehatan,” tegasnya.
Sedangkan menurut Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas II Sampit, dr. I Gusti Ayu Agung Darmawati, menjelaskan rakor ini diikuti sekitar 55 peserta secara luring dan sekitar 30 peserta lainnya secara daring. Seluruh peserta berasal dari berbagai instansi, di antaranya pengelola Bandara H. Asan Sampit, Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas, Dinas Perhubungan, serta instansi terkait lainnya. “Setiap instansi memiliki tugas masing-masing. Ada Balai Kekarantinaan Kesehatan, puskesmas, rumah sakit, Dinas Kesehatan dan instansi lainnya. Semua peran itu harus terkoordinasi dengan baik agar penanganan dapat dilakukan secara cepat apabila terjadi kondisi darurat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kesiapsiagaan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan pengelola bandara, tetapi juga memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat sebagai pengguna jasa transportasi udara.”Kami berharap seluruh stakeholder, termasuk masyarakat pengguna jasa bandara, ikut berkontribusi dalam mewujudkan Bandara Sehat. Jadi bukan hanya dokumen rencana kontingensi yang kami susun, tetapi bagaimana seluruh pihak memiliki kepedulian terhadap kesehatan di lingkungan bandara,” katanya.(man)












