MEXICO CITY/CARACAS, 13 Agustus (Xinhua), eNewskalteng.com — Serangkaian gempa berkekuatan besar yang mengguncang Venezuela dan Kolombia, ditambah aktivitas seismik di Peru dan Chile, memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan meningkatnya aktivitas gempa di Amerika Selatan.

Namun, para ahli menilai belum terdapat bukti yang menunjukkan kawasan tersebut sedang memasuki periode aktivitas seismik yang tidak biasa. Persepsi bahwa gempa semakin sering terjadi juga dapat dipengaruhi oleh semakin cepatnya penyebaran informasi serta meningkatnya perhatian publik setelah sejumlah gempa besar menimbulkan banyak korban.
Tatanan Tektonik Berbeda
Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4 pada Senin (10/8). Badan Geologi Kolombia menyebut pusat gempa berada sekitar 20 kilometer dari San Jose del Palmar, Departemen Choco, pada kedalaman sekitar 96 kilometer. Hingga Kamis (13/8), Unit Manajemen Risiko Bencana Nasional Kolombia melaporkan 281 orang meninggal dunia, 3.971 orang terluka, 379 orang hilang, dan lebih dari 100.000 warga terdampak.
Sebelumnya, Venezuela dilanda dua gempa besar bermagnitudo 7,2 dan 7,5 pada 24 Juni. Kedua gempa dangkal tersebut terjadi dengan selang waktu kurang dari satu menit dan berpusat di kedalaman sekitar 10 kilometer. Otoritas Venezuela melaporkan jumlah korban jiwa mencapai lebih dari 6.300 orang. Meski kedua negara bertetangga, gempa yang terjadi di Venezuela dan Kolombia dipengaruhi oleh kondisi tektonik yang berbeda.
Presiden Perhimpunan Geologi Venezuela Feliciano De Santis mengatakan Venezuela dan Kolombia sama-sama berada di atas Lempeng Amerika Selatan, tetapi proses geologi yang menghasilkan gempa di kedua wilayah tersebut tidak sama. Di Venezuela, aktivitas seismik terutama berkaitan dengan batas antara Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan. Pergerakan horizontal di kawasan tersebut banyak memicu aktivitas sesar mendatar atau strike-slip fault.
Sementara itu, Kolombia sangat dipengaruhi proses subduksi Lempeng Nazca yang bergerak ke bawah Lempeng Amerika Selatan. Perbedaan kondisi tektonik tersebut turut memengaruhi karakteristik gempa di kedua negara. Menurut De Santis, gempa di Venezuela cenderung lebih dangkal sehingga dapat menghasilkan guncangan sangat kuat di sekitar episentrum dan zona sesar.
Sebaliknya, gempa di Kolombia terjadi pada kedalaman yang lebih besar. Meskipun sebagian energi seismiknya berkurang ketika mencapai permukaan, gempa yang lebih dalam dapat dirasakan dalam wilayah yang lebih luas. Geolog dari Dewan Riset Ilmiah dan Teknis Nasional Argentina, Andres Folguera, juga mengatakan kedua gempa tersebut berasal dari proses geologi berbeda, yakni aktivitas sesar dangkal di Venezuela dan deformasi lempeng yang lebih dalam di Kolombia.
Belum Ada Bukti Aktivitas Seismik Tak Biasa
Wang Tun, wakil direktur Laboratorium Utama Bahaya Gunung dan Keselamatan Teknik yang berada di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China sekaligus kepala Institute of Care-Life di Chengdu, mengatakan kedua gempa tersebut tidak memiliki hubungan pemicu tekanan secara langsung. Kedua episentrum berjarak sekitar 1.200 kilometer. Karena itu, menurut Wang, gempa di Venezuela dan Kolombia sebaiknya dipandang sebagai dua peristiwa yang tidak saling berkaitan. “Gempa-gempa tersebut harus dianggap sebagai gempa yang tidak saling berkaitan,” ujar Wang. Ia menambahkan bahwa rangkaian gempa tersebut belum menunjukkan bahwa Lempeng Amerika Selatan sedang memasuki periode peningkatan aktivitas seismik.
De Santis menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, data yang tersedia saat ini belum cukup untuk menyatakan bahwa aktivitas gempa di Amerika Selatan berada pada tingkat yang tidak normal.
Ia menjelaskan bahwa gempa kuat bukanlah kejadian langka dalam skala global. Berdasarkan katalog gempa bumi dunia, sekitar 15 hingga 20 gempa bermagnitudo 7 hingga 8 dapat terjadi dalam satu tahun. Untuk menentukan apakah 2026 merupakan tahun dengan aktivitas seismik yang tidak biasa, diperlukan evaluasi terhadap seluruh catatan gempa global sepanjang tahun dan membandingkannya dengan data dari tahun-tahun sebelumnya. Wang juga menilai anggapan masyarakat bahwa gempa semakin sering terjadi sebagian dipengaruhi oleh perkembangan sistem pemantauan dan penyebaran informasi.
Saat ini, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai magnitudo, lokasi, serta gempa susulan hampir secara langsung. Tingginya jumlah korban dalam gempa terbaru di Venezuela dan Kolombia juga membuat perhatian masyarakat terhadap aktivitas seismik semakin besar. Wang menegaskan bahwa terjadinya beberapa gempa kuat secara berurutan tidak berarti negara-negara lain di Amerika Selatan otomatis memiliki risiko lebih tinggi mengalami gempa besar dalam waktu dekat. Ia juga menolak anggapan bahwa aktivitas gempa tersebut akan menyebar sepanjang “Cincin Api” Pasifik hingga ke Asia sebagai sebuah reaksi berantai. Menurutnya, perubahan tekanan yang ditimbulkan gempa bermagnitudo 7,5 hanya dapat memicu aktivitas lain pada jarak yang jauh lebih terbatas dibandingkan jarak lintas Samudra Pasifik.
Para ahli juga mengingatkan masyarakat agar tidak mencoba memprediksi lokasi negara atau wilayah yang akan mengalami gempa berikutnya. “Hal-hal seperti ini tidak dapat diprediksi,” kata De Santis. Ia menekankan bahwa upaya mitigasi bencana jauh lebih penting daripada memperkirakan kapan dan di mana gempa berikutnya akan terjadi.
Mitigasi Lebih Penting daripada Prediksi
Besarnya dampak gempa tidak hanya ditentukan oleh magnitudo. Kedalaman sumber gempa, kondisi geologi setempat, karakteristik perambatan gelombang seismik, kepadatan penduduk, serta kualitas bangunan turut menentukan jumlah korban dan tingkat kerusakan. Faktor tersebut menjelaskan mengapa gempa dengan kekuatan serupa dapat menimbulkan dampak yang berbeda antara satu negara dan negara lainnya, bahkan antara wilayah yang berbeda dalam satu kota.
Para ahli menilai negara-negara yang berada di sepanjang batas lempeng aktif di Amerika Selatan memang tidak dapat menghindari ancaman gempa. Namun, dampak bencana dapat ditekan melalui bangunan yang lebih tahan gempa, sistem peringatan dini yang efektif, serta kesiapsiagaan masyarakat.
Wang mengatakan teknologi saat ini belum mampu menentukan secara akurat kapan dan di mana gempa besar akan terjadi. “Pencegahan lebih efektif daripada prediksi,” ujarnya. Menurut Wang, penguatan bangunan, penggunaan teknologi isolasi seismik dan disipasi energi, peningkatan standar konstruksi, serta penerapan standar secara konsisten dapat mengurangi korban jiwa dan kerugian ekonomi.
Pengembangan sistem peringatan dini dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko. De Santis mencontohkan Chile sebagai salah satu negara paling rawan gempa di dunia yang berhasil menekan dampak bencana melalui penerapan standar konstruksi yang ketat.
Pemerintah di wilayah rawan gempa, katanya, perlu terus memperbarui standar bangunan serta memperkuat pengawasan sejak tahap perancangan, pembangunan, inspeksi hingga pemeliharaan. Bangunan yang dinilai rentan juga perlu dievaluasi dan diperkuat. Selain infrastruktur, edukasi masyarakat tidak kalah penting. De Santis mendorong masyarakat memahami jalur evakuasi di rumah, sekolah, maupun tempat kerja serta mengetahui langkah yang tepat untuk dilakukan ketika gempa kuat terjadi. Dengan demikian, meskipun gempa besar tetap menjadi ancaman bagi kawasan Amerika Selatan, para ahli menilai fokus utama saat ini bukan mencari tanda-tanda gempa berikutnya, melainkan memperkuat kesiapsiagaan dan mengurangi potensi dampak ketika bencana terjadi.(red)












