BeritaNasionalTeknologi

Wamendiktisaintek: Pengembangan Talenta Jadi Kunci Kerja Sama Indonesia-Tiongkok

15
×

Wamendiktisaintek: Pengembangan Talenta Jadi Kunci Kerja Sama Indonesia-Tiongkok

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Republik Indonesia Stella Christie memberikan pidato sambutan dalam acara bertajuk "Indonesia-China Education-Industry Collaboration Summit 2026" di Jakarta pada 10 September 2026. (Xinhua/Cen Yunpeng)

JAKARTA, eNewskalteng.com – Pemerintah Indonesia menilai hubungan kerja sama dengan Tiongkok di sektor pendidikan tinggi, penelitian ilmiah dan pengembangan talenta memiliki peluang yang semakin besar. Sinergi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu penggerak pengembangan industri berbasis inovasi dan sumber daya manusia berkualitas. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Republik Indonesia Stella Christie menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Indonesia-China Education-Industry Collaboration Summit 2026 di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Republik Indonesia Stella Christie memberikan pidato sambutan dalam acara bertajuk “Indonesia-China Education-Industry Collaboration Summit 2026” di Jakarta pada 10 September 2026. (Xinhua/Cen Yunpeng)

Menurut Stella, kolaborasi antara sektor industri, perguruan tinggi dan lembaga penelitian merupakan bagian penting dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok. Menurutnya, kedua negara memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan kerja sama tersebut secara lebih terstruktur. Forum yang dihadiri sekitar 200 peserta dari hampir 100 perguruan tinggi di Indonesia serta lebih dari 20 perusahaan asal Tiongkok itu juga menjadi wadah untuk membahas pengembangan talenta dan kebutuhan industri di masa mendatang.

Dalam kesempatan tersebut, Stella menyinggung data Nature Index Research Leaders 2026 yang diterbitkan jurnal internasional Nature. Berdasarkan daftar tersebut, sembilan dari 10 institusi penelitian teratas dunia berada di Tiongkok. Ia menilai capaian tersebut tidak terlepas dari perhatian besar Tiongkok terhadap pendidikan tinggi dan penelitian. Investasi yang dilakukan secara konsisten selama beberapa dekade, ditambah dengan upaya memperkuat keterhubungan antara dunia akademik dan industri, turut menjadi faktor pendukung kemajuan tersebut.

Stella mengatakan Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pengalaman Tiongkok, khususnya dalam mengubah pola pembangunan nasional agar tidak semata-mata bertumpu pada pemanfaatan sumber daya alam. “Indonesia harus belajar dari Tiongkok dan mengubah model pembangunan nasional, dari yang bergantung pada eksploitasi sumber daya alam menjadi yang didorong oleh inovasi teknologi dan talenta yang sangat terampil atau skilled labor. Indonesia dan Tiongkok memiliki prospek kerja sama yang luas di bidang ini,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan peran politeknik menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk memperluas hubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri. Stella mendorong perguruan tinggi vokasi di Indonesia untuk membangun lebih banyak kemitraan dengan institusi maupun perusahaan asal Tiongkok. Kerja sama tersebut, kata dia, perlu diarahkan pada pola industri-akademisi-penelitian yang memberikan manfaat langsung bagi pengembangan kompetensi mahasiswa. Salah satu contoh yang disebutkannya adalah kemitraan antara Politeknik Negeri Jakarta dan Guangxi LiuGong Group. Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa Indonesia memperoleh beasiswa untuk belajar sekaligus menjalani program magang di Tiongkok. Setelah menyelesaikan pendidikan dan pengalaman magang, para mahasiswa tersebut diharapkan dapat kembali ke Indonesia dan berkontribusi terhadap pengembangan ekosistem industri di dalam negeri.

Selain sektor industri secara umum, Stella menyoroti peluang kerja sama Indonesia dan Tiongkok dalam pengembangan sumber daya manusia untuk bidang energi terbarukan. Ia menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi global saat ini semakin berkaitan dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data. Pertumbuhan kedua sektor tersebut turut meningkatkan kebutuhan energi, termasuk energi yang berasal dari sumber terbarukan. Indonesia, menurut Stella, mempunyai potensi energi terbarukan yang sangat besar. Namun, potensi tersebut masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan basis sumber daya manusia yang memiliki kompetensi kuat di bidang terkait.

Di sisi lain, Tiongkok memiliki posisi penting dalam pengembangan energi terbarukan di tingkat global. Kondisi tersebut membuka peluang bagi kedua negara untuk memperluas kerja sama, khususnya dalam peningkatan kapasitas dan kompetensi tenaga kerja. “Potensi kerja sama antara kedua negara sangat besar,” ujar Stella.

Indonesia-China Education-Industry Collaboration Summit sendiri telah digelar sebanyak tiga kali sejak pertama kali diselenggarakan pada 2024. Konferensi tersebut diarahkan untuk mempererat hubungan perusahaan-perusahaan Tiongkok dengan perguruan tinggi di Indonesia melalui berbagai bentuk kolaborasi. Di antaranya perekrutan talenta lokal, penyelenggaraan program magang, pelatihan keterampilan kerja serta penelitian bersama.

Melalui forum tersebut, dunia pendidikan dan industri diharapkan dapat semakin terhubung. Kolaborasi yang lebih erat dinilai dapat membantu mengurangi kesenjangan antara pengetahuan akademik, keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja dan kebutuhan tenaga profesional di sektor industri. Dengan penguatan kemitraan tersebut, kerja sama pendidikan dan industri Indonesia-Tiongkok tidak hanya diharapkan menghasilkan tenaga kerja terampil, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan industri yang lebih berorientasi pada teknologi.(red)