TUAL, eNewskalteng.com – Indonesia dan Tiongkok meluncurkan program kerja sama di bidang perikanan tangkap di Kota Tual, Provinsi Maluku, Kamis (24/9). Program tersebut ditujukan untuk memperkuat pengembangan sektor perikanan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir. Peluncuran dihadiri lebih dari 100 perwakilan pemerintah, pelaku usaha, dan asosiasi perikanan dari kedua negara. Kegiatan berlangsung di salah satu pelabuhan perikanan utama yang berada di kawasan pertemuan Laut Banda dan Laut Arafura. Setelah acara peluncuran, sejumlah kapal penangkap ikan modern membunyikan klakson sebelum berlayar menuju perairan laut lepas.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan kepada Xinhua bahwa sejumlah inisiatif ekonomi biru yang dijalankan kementeriannya memiliki keselarasan dengan upaya pengembangan perikanan berkelanjutan yang didorong Tiongkok. Indonesia, kata dia, ingin memperluas kerja sama dengan Tiongkok, tidak hanya dalam perikanan tangkap, tetapi juga pada sektor akuakultur dan konservasi laut.
Sementara itu, Minister-Counselor Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia Li Hongwei mengatakan peluncuran program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kedua negara di sektor maritim. Menurut Li, konsep Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 yang merupakan bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra memiliki keterkaitan dengan strategi Poros Maritim Dunia Indonesia. Kedua negara, lanjutnya, terus berupaya menyelaraskan strategi, perencanaan, pengembangan industri, serta proyek untuk membangun kerja sama maritim yang lebih erat. “Tiongkok siap memanfaatkan peluncuran tersebut sebagai peluang untuk memperkuat kerja sama teknis, konservasi sumber daya, dan koordinasi di sepanjang rantai nilai perikanan bersama Indonesia,” ujar Li.
Dorong Rantai Nilai dan Lapangan Kerja
Maluku merupakan salah satu wilayah yang sangat bergantung pada sektor kelautan. Lebih dari 90 persen wilayah provinsi tersebut berupa lautan, sehingga aktivitas masyarakat pesisir banyak berkaitan dengan sumber daya laut dan perikanan. Melalui proyek kerja sama ini, pengembangan tidak hanya diarahkan pada aktivitas penangkapan ikan. Rantai usaha juga akan diperkuat melalui fasilitas pendaratan ikan, penyimpanan dengan sistem rantai dingin, pengolahan, hingga kegiatan ekspor.
Berdasarkan informasi proyek, program tersebut diperkirakan membuka sekitar 1.100 lapangan pekerjaan, baik di sektor kelautan maupun kegiatan pendukung di darat. Investasi pendukung juga diharapkan tumbuh pada sejumlah bidang, seperti perbaikan kapal, fasilitas penyimpanan dingin, pengujian mutu hasil perikanan, serta pelatihan keterampilan. Pengembangan berbagai sektor tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat ekonomi dari kerja sama perikanan sekaligus membantu meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat di wilayah setempat.(red)












