BeritaNasional

Mengenal Catsitter, Profesi Merawat Kucing Sekaligus Menjaga Kepercayaan Pemilik

2
×

Mengenal Catsitter, Profesi Merawat Kucing Sekaligus Menjaga Kepercayaan Pemilik

Sebarkan artikel ini
Foto dokumentasi ini menunjukkan Fitra Rufaida bersama Maemun, salah satu kucing peliharaannya. (Xinhua/Istimewa)

JAKARTA, eNewskalteng.com – Bagi sebagian pemilik hewan peliharaan, meninggalkan kucing di rumah saat harus bepergian bukan perkara sederhana. Kondisi tersebut membuka peluang bagi catsitter, jasa yang membantu memastikan kebutuhan kucing tetap terpenuhi ketika pemilik sedang tidak berada di rumah. Salah satunya dijalani Fitra Rufaida. Aktivitasnya sebagai catsitter kerap dibagikan melalui akun Instagram. Dalam salah satu video yang diunggah pada 28 Juli, Fitra terlihat memasuki sebuah rumah dan langsung disambut dua ekor kucing yang menghampirinya.

Foto yang diabadikan pada 21 September 2026 ini menunjukkan seseorang menonton video di akun Instagram seorang catsitter. (Xinhua/Yohanna Yuni)

Interaksi tersebut menjadi bagian dari rutinitas Fitra yang setiap hari berpindah dari satu rumah klien ke rumah lainnya. Dalam jadwal yang dibagikannya kepada Xinhua, Fitra dapat mengunjungi lima hingga enam rumah dalam sehari, dengan lokasi antara lain Tanah Abang, Palmerah, Kalibata, Kebon Jeruk, hingga Cipayung. “Sehari-hari pekerjaan saya cukup dinamis karena saya berpindah dari satu rumah klien ke rumah klien lainnya,” kata Fitra, yang berdomisili di Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Kucing yang ditemuinya memiliki karakter dan kebutuhan berbeda. Ada yang masih aktif dan mudah berinteraksi, sementara lainnya sudah berusia lanjut atau membutuhkan perhatian khusus.

Karena itu, tugas catsitter tidak berhenti pada pemberian makanan dan minuman. Fitra juga membersihkan litter box, memantau kondisi hewan, mengajak bermain, serta memperhatikan perubahan perilaku. Foto dan video kondisi kucing kemudian dikirim kepada pemilik sebagai laporan. “Catsitting bukan sekadar datang, kasih makan, lalu pulang. Saya harus benar-benar memperhatikan perilaku kucing,” ujarnya.

Fitra mulai menawarkan jasa tersebut karena sejak lama menyukai dan terbiasa merawat kucing. Ia kemudian melihat adanya kebutuhan dari pemilik yang harus bekerja, bepergian, atau memiliki kesibukan lain sehingga tidak dapat mengurus hewan peliharaan mereka secara langsung. Dari kegiatan tersebut, catsitting kemudian berkembang menjadi pekerjaan utama bagi Fitra. Melalui akun Instagram @catsitterjakarta_, ia menjangkau berbagai klien, mulai dari pekerja, keluarga, pasangan muda hingga mahasiswa. Sebagian pemilik menggunakan jasa tersebut ketika harus meninggalkan rumah selama beberapa hari. Dengan adanya catsitter, kucing tetap berada di lingkungan yang sudah dikenalnya tanpa harus dipindahkan ke tempat penitipan.

Kucing Makin Dipandang sebagai Bagian Keluarga

Kebutuhan terhadap layanan perawatan hewan muncul seiring tingginya minat masyarakat Indonesia memelihara hewan. Survei Jakpat terhadap 1.254 responden pada 9-10 Maret 2026 mencatat 52 persen responden telah memiliki hewan peliharaan, sedangkan 26 persen lainnya menyatakan tertarik untuk memeliharanya.

Kucing menjadi hewan yang paling banyak dipelihara. Dari responden yang memiliki hewan, 75 persen memelihara kucing, kemudian ikan sebesar 30 persen dan burung 21 persen. Survei tersebut juga menunjukkan 63 persen responden merasa hewan peliharaan membantu mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati. Sebanyak 62 persen lainnya menyebut hewan peliharaan menjadi teman di rumah.

Bagi Wienda Parwitasari (48), seorang wiraswasta, kebutuhan menggunakan jasa catsitter muncul setelah jumlah kucing yang dipeliharanya bertambah dan ia harus bepergian selama beberapa hari.

Wienda pertama kali menggunakan jasa catsitter pada 2017 ketika harus keluar kota lebih dari sepekan. Saat itu ia memiliki dua kucing. Ia sebelumnya pernah menitipkan kucing kepada dokter hewan, tetapi menilai hewan peliharaannya mengalami stres karena berada di lingkungan yang asing.

Karena pengalaman tersebut, Wienda memilih layanan catsitter yang datang langsung ke rumah. Kini ia memiliki sembilan ekor kucing, salah satunya pernah mengalami ATE atau Tromboembolisme Aorta dan membutuhkan perhatian khusus. “Lebih tenang karena kucing tidak stres, tidak bercampur dengan kucing lain atau kucing asing yang kita tidak tahu apakah dalam keadaan sehat dan tidak membawa virus. Jadi lebih mudah dikontrol,” kata Wienda kepada Xinhua pada Selasa (15/9).

Menurut dia, perawatan langsung di rumah juga lebih praktis dan tidak membutuhkan bantuan keluarga atau teman ketika harus bepergian.

Pilihan tersebut juga membuat kucing tetap berada di lingkungan yang familiar, mulai dari tempat makan, tempat tidur hingga litter box. Pemilik dapat memantau kondisi hewan melalui laporan foto dan video dari catsitter. Fitra melihat adanya perubahan dalam cara masyarakat memperlakukan kucing. Hewan peliharaan kini semakin sering dianggap sebagai bagian dari keluarga. Perhatian pemilik tidak hanya menyangkut makanan dan kebersihan, tetapi juga kesehatan, vaksinasi, sterilisasi, pemeriksaan dokter hewan, serta kebutuhan bermain. Kondisi itu turut membuat kebutuhan layanan catsitter semakin beragam. Selain perawatan rutin, ada pemilik yang meminta bantuan untuk kucing yang sedang menjalani masa pemulihan atau harus mendapatkan obat sesuai petunjuk.

Menjaga Kepercayaan

Menurut Fitra, menjadi catsitter membutuhkan tanggung jawab dan kemampuan lebih dari sekadar menyukai kucing. Ketepatan waktu, komunikasi dengan pemilik, kemampuan mengamati kondisi hewan, serta menjaga rumah klien menjadi bagian penting dari pekerjaannya. Ia menilai layanan catsitting masih memiliki ruang untuk berkembang melalui sistem pemesanan dan standar pelayanan yang lebih terstruktur. Peluang tersebut juga tidak terbatas pada kota besar, seiring meningkatnya perhatian terhadap kesejahteraan hewan.

Selain catsitter, kebutuhan layanan seperti pet sitter, grooming, pet taxi, dan jasa perawatan hewan lainnya juga berpotensi berkembang. Namun, bagi Fitra, pengalaman paling berkesan bukan semata jumlah klien atau jadwal kunjungan. Ia justru menikmati momen ketika kucing yang awalnya takut perlahan mulai percaya, kemudian datang sendiri untuk mendekat dan meminta dielus. Bagi Fitra, respons tersebut menjadi tanda bahwa kehadirannya telah diterima. Lebih dari sekadar menyelesaikan pekerjaan, kepercayaan dari seekor kucing sekaligus menjadi kepercayaan dari pemilik yang menitipkan hewan kesayangannya.(red)