BEIJING, 8 November (Xinhua), eNewskalteng.com – Pengalaman Tiongkok dalam mengatasi penggurunan kini menjadi salah satu referensi bagi negara-negara Afrika dalam menjalankan program penghijauan dan memulihkan kawasan lahan tandus. Gurun Taklimakan di Daerah Otonom Uighur Xinjiang, Tiongkok barat laut, dan Gurun Sahara di Afrika memiliki jarak geografis yang sangat jauh. Namun, keduanya menghadapi persoalan lingkungan serupa, yakni perluasan kawasan gurun dan degradasi lahan. Sebagai negara yang mengalami dampak serius akibat penggurunan, Tiongkok telah mengembangkan berbagai strategi pengendalian lahan berpasir melalui program perlindungan ekologi berskala besar. Salah satu upaya utamanya adalah Program Hutan Penahan Angin Tiga Utara (Three-North Shelterbelt Forest Program/TSFP).

Berbagai langkah tersebut membuahkan hasil. Tiongkok tercatat sebagai negara pertama yang berhasil menekan luas lahan yang mengalami desertifikasi sekaligus lahan berpasir. Keberhasilan pembangunan sabuk penghalang ekologis hijau sepanjang 3.046 kilometer yang mengelilingi Gurun Taklimakan menjadi salah satu bukti nyata pencapaian tersebut. Pengalaman Xinjiang dalam mengendalikan penggurunan juga menarik perhatian sejumlah negara Afrika. Kerja sama antara kedua pihak mulai diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman pada 2017 antara Institut Ekologi dan Geografi Xinjiang di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (CAS) dan Badan Pan-Afrika untuk Tembok Hijau Besar.
Kesepakatan tersebut berfokus pada peningkatan kondisi lingkungan dan penguatan upaya pemulihan ekologi di kawasan Afrika. Salah satu bentuk penerapan pengalaman Tiongkok terlihat dalam Inisiatif Tembok Hijau Besar (Great Green Wall Initiative) Afrika. Program yang diluncurkan oleh 11 negara Afrika, termasuk Mauritania, itu bertujuan menghambat pergerakan Gurun Sahara ke wilayah selatan.
Inisiatif tersebut menargetkan pembangunan sabuk hutan dengan panjang lebih dari 7.000 kilometer dan lebar sekitar 15 kilometer. Program ini diharapkan dapat membantu memulihkan lahan terdegradasi sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan di kawasan terdampak.
Kolaborasi Tiongkok dan Afrika menunjukkan bahwa pertukaran pengetahuan serta pengalaman dalam pengelolaan lingkungan dapat menjadi langkah penting menghadapi tantangan perubahan ekologi. Dari Gurun Taklimakan hingga Sahara, kedua pihak terus memperkuat kerja sama untuk mewujudkan kawasan yang lebih hijau dan berkelanjutan.(red)












