SANYA, 6 November (Xinhua), eNewskalteng.com – Kerja sama penelitian laut dalam antara Indonesia dan Tiongkok dinilai memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan. Kolaborasi tersebut tidak hanya membuka kesempatan pertukaran pengetahuan, tetapi juga mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan teknologi penelitian kelautan Indonesia.

Peneliti laut dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yustian Rovi Alfiansah, menyampaikan pandangan tersebut saat menghadiri Forum Kerja Sama Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Internasional (ISTICF) serta Konferensi Inovasi Teknologi Laut Dalam (DSTIC) Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan 2026 di Sanya, Provinsi Hainan, Tiongkok selatan, pada 4 November 2026. Menurut Yustian, kolaborasi ilmiah kedua negara memiliki potensi yang sangat luas. Dia juga menilai fasilitas penelitian di Sanya dapat menjadi sarana penting untuk mendukung pengembangan riset laut dalam.
Nama Yustian dikenal di kalangan peneliti Tiongkok setelah terlibat dalam Ekspedisi Palung Jawa pada 2024. Dalam ekspedisi tersebut, dia menggunakan kapal selam berawak Fendouzhe milik Tiongkok dan berhasil menyelam hingga kedalaman sekitar 7.000 meter.
Pencapaian itu menjadikannya peneliti Indonesia pertama yang mencapai kedalaman tersebut. Prestasinya juga memperoleh pengakuan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dan menjadi salah satu tonggak penting dalam kolaborasi penelitian kelautan kedua negara. Ekspedisi tersebut merupakan hasil kerja sama Institut Ilmu Pengetahuan dan Teknik Laut Dalam (IDSSE) di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (CAS) dengan BRIN. Penelitian mencakup kajian kondisi geologis Zona Subduksi Sunda, keanekaragaman hayati laut dalam, hingga ekosistem abisal. Kolaborasi kemudian berlanjut melalui sejumlah penelitian bersama, termasuk kajian mengenai degradasi plastik di laut. Sejak 2024, Yustian juga rutin mengunjungi Sanya untuk melakukan penelitian bersama ilmuwan IDSSE, CAS, dan sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok. Dalam setiap kunjungan, dia biasanya menghabiskan waktu sekitar tiga hingga empat bulan.
Yustian menilai Sanya memiliki ekosistem penelitian yang mendukung kemajuan ilmu pengetahuan laut dalam. Ketersediaan laboratorium, peralatan modern, serta fasilitas penelitian yang terintegrasi memungkinkan para ilmuwan melakukan eksperimen dan mengembangkan temuan secara lebih efektif. Dia menegaskan bahwa Indonesia perlu meningkatkan kemampuan penelitian laut dalam, mengingat sekitar 70 persen wilayah negara ini merupakan perairan laut. Pengembangan tenaga ahli serta pemenuhan kebutuhan peralatan penelitian menjadi sejumlah hal yang perlu mendapat perhatian.
Untuk memperluas kerja sama, Yustian mengusulkan peningkatan kesempatan pendidikan bagi mahasiswa Indonesia di Tiongkok, khususnya melalui program magister dan doktoral. Setelah menyelesaikan pendidikan, para peneliti diharapkan dapat kembali ke Indonesia dan melanjutkan kolaborasi dengan ilmuwan Tiongkok melalui ekspedisi lapangan serta penelitian sampel laut. Selain itu, fasilitas penelitian di Indonesia juga berpeluang dimanfaatkan oleh ilmuwan Tiongkok. Dukungan pendanaan dari program kemitraan internasional, termasuk Program Kemitraan Internasional CAS, diharapkan dapat menjaga keberlanjutan berbagai proyek penelitian bersama.
Yustian menyebut Tiongkok sebagai salah satu pemimpin regional dalam penelitian laut dalam di Asia. Menurutnya, luasnya wilayah lautan yang belum banyak terungkap membutuhkan keterlibatan ilmuwan dari berbagai negara untuk mengembangkan pengetahuan dan menemukan potensi baru. Dia berharap semakin banyak peneliti dan mahasiswa Indonesia memperoleh kesempatan melakukan penelitian di Sanya. Dengan memanfaatkan fasilitas dan platform inovasi di Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan, kerja sama Indonesia-Tiongkok di bidang penelitian laut dalam diharapkan semakin luas dan memberikan manfaat bagi kedua negara.(red)












