Kotawaringin Timur, eNewskalteng.com – Pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) edukasi gizi sekolah secara serentak se-Indonesia, salah satunya dipusatkan di SMP Negeri 2 Sampit. Kegiatan ini dalam rangka menyambut Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66, Rabu 21 Januari 2026.
Menurut Ketua Panitia sekaligus perwakilan Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Kotim, Tri Aprianto, SMP Negeri 2 Sampit menjadi perwakilan Kabupaten Kotawaringin Timur dari total 1.840 sekolah di seluruh Indonesia, yang ikut ambil bagian.
“Program ini digagas oleh Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ahli Gizi Indonesia (DPP PERSAGI), sebagai upaya masif memberikan pemahaman tentang pentingnya gizi seimbang sejak usia sekolah,” ujar Tri.
Tidak hanya itu, kegiatan ini memberikan edukasi penting kepada anak-anak tentang bagaimana menjaga kesehatan gizi, seraya menjelaskan aksi ini diikuti oleh ribuan sekolah di tanah air dari 1.840 sekolah yang melaksanakan edukasi gizi secara serentak untuk memecahkan rekor MURI.
“Selain edukasi, para siswa juga mendapatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), dimana program ini sangat membantu siswa mendapatkan asupan gizi yang terukur untuk makan siang sekaligus membantu mereka menghemat uang jajan,” tandasnya.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh Aktisya Rifka Santoso, salah satu siswi kelas 7 ruang H. Ia mengaku terbantu karena sebelumnya jarang menyempatkan diri untuk makan siang, namun kini bisa makan bersama teman-temannya.
“Program ini sangat baik dan makanannya enak. Saya harap terus berjalan karena membantu memenuhi gizi tumbuh kembang remaja seperti kami, serta bisa menghemat uang jajan,” kata Aktisya.
Sementara itu Wakil Bupati Kotim Irawati, menyatakan kegiatan edukasi gizi serentak yang dilaksanakan ini merupakan langkah strategis dan sangat relevan dalam mendukung upaya pemerintah daerah, untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya ibu hamil, balita, remaja dan keluarga.
“Saya berharap, momentum hgn ini tidak hanya menjadi seremonial belaka seraya menekankan pentingnya kesadaran masyarakat akan gizi seimbang, pencegahan stunting, dan edukasi berkelanjutan yang dimulai dari lingkup keluarga,’ harapnya.
Menurut Irawati, upaya ini sejalan dengan misi pemerintah untuk mewujudkan generasi emas 2045, yang hanya bisa terwujud apabila sejak dini asupan gizi seimbang pada anak terpenuhi. Dampaknya juga pada upaya pencegahan stunting dan masalah gizi lainnya, serta peningkatan pengetahuan masyarakat melalui edukasi gizi yang berkelanjutan. (man)












