SINGAPURA, 27 Oktober (Xinhua), eNewskalteng.com — Singapura meluncurkan sejumlah program untuk memperluas penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan perusahaan, mulai dari korporasi besar hingga usaha kecil dan menengah (UKM). Inisiatif tersebut mencakup pendampingan transformasi bisnis, pelatihan, serta penerapan teknologi AI di berbagai sektor industri. Enterprise Singapore (EnterpriseSG) pada Selasa (27/10) menyatakan bahwa program Champions of AI akan membantu perusahaan peserta menyusun peta jalan transformasi AI jangka panjang. Dukungan juga meliputi akses terhadap tenaga ahli, solusi teknologi, serta peningkatan keterampilan pekerja. Program tersebut menyasar perusahaan yang berbasis di Singapura dan berkomitmen menjadikan AI sebagai penggerak utama pertumbuhan bisnis. Sebanyak 24 perusahaan dari berbagai industri akan mengikuti tahap awal, sebelum jumlah peserta diperluas secara bertahap.
Untuk mendukung UKM, pemerintah juga memperkenalkan lokakarya mengenai AI agentik (agentic AI), yakni teknologi AI yang dapat menjalankan tugas dan rangkaian pekerjaan secara lebih mandiri. Lebih dari 280 usaha kecil telah mengikuti program percontohan untuk menerapkan perangkat tersebut dalam kegiatan pemasaran, penjualan, dan layanan pelanggan. Lokakarya tambahan dijadwalkan mulai diluncurkan bulan depan, dengan cakupan program yang akan diperluas pada 2027.
Selain itu, inisiatif Catalytic AI Solutions dirancang untuk mempercepat penerapan AI lintas sektor, dengan fokus awal pada manufaktur canggih, perdagangan, dan logistik. Di bidang penelitian, Badan Sains, Teknologi, dan Riset Singapura (A*STAR) secara terpisah meluncurkan Materials Accelerator for Research, Venture and Enterprise Launchpad. Program tersebut didukung pendanaan sekitar 150 juta dolar Singapura atau setara dengan Rp2,124 triliun berdasarkan kurs Rp14.160 per dolar Singapura.
Inisiatif ini mengintegrasikan model AI dengan laboratorium terotomatisasi untuk mempercepat proses penemuan, pengujian, hingga komersialisasi material canggih. Menurut pernyataan tersebut, AI dapat membantu peneliti menemukan kandidat material baru dengan lebih cepat. Namun, proses untuk menghasilkan material yang dapat disintesis, divalidasi, dan diproduksi secara massal masih menjadi tantangan tersendiri.(red)












