BeritaBisnisInternasional

Rumput Laut Asia Tenggara Beri Nilai Ganda di Tiongkok, dari Bahan Baku hingga Kredit Karbon

5
×

Rumput Laut Asia Tenggara Beri Nilai Ganda di Tiongkok, dari Bahan Baku hingga Kredit Karbon

Sebarkan artikel ini
Rumput Laut Asia Tenggara Beri Nilai Ganda di Tiongkok, dari Bahan Baku hingga Kredit Karbon FUZHOU, 8 September (Xinhua), eNewskalteng.com -- Rumput laut dari kawasan Asia Tenggara dan negara-negara kepulauan Pasifik selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas yang dikirim ke Tiongkok untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan. Namun, komoditas tersebut kini mulai memberikan manfaat ekonomi tambahan melalui potensi penyerapan karbon selama proses budi dayanya. Salah satu contohnya terlihat pada pengiriman rumput laut dari Kepulauan Solomon yang baru-baru ini tiba di Zhangzhou, Provinsi Fujian. Wilayah tersebut merupakan salah satu dari tiga pusat utama industri pengolahan rumput laut di Tiongkok. Bersamaan dengan masuknya komoditas tersebut ke pusat pengolahan, kredit karbon yang berasal dari budi daya rumput laut juga tercatat di pusat perdagangan karbon di Xiamen. Transaksi perdana mencakup 61 ton kredit karbon dengan nilai sekitar 6.000 yuan atau sekitar Rp15,7 juta berdasarkan kurs Rp2.624 per yuan. Model tersebut memperlihatkan peluang terbentuknya "nilai ganda" dalam perdagangan rumput laut lintas negara. Selain memperoleh pendapatan dari penjualan hasil budi daya, negara penghasil juga berpotensi mendapatkan pemasukan tambahan dari nilai karbon yang diserap ekosistem rumput laut. Cai Yangpeng, Kepala Seksi Ekonomi Kelautan, Biro Kelautan dan Perikanan Zhangzhou, menjelaskan bahwa karbon biru merupakan karbon yang diserap dan disimpan melalui ekosistem laut. Menurut dia, budi daya rumput laut dalam skala besar menjadi salah satu cara untuk mengembangkan potensi karbon biru tersebut. Selama ini, kerja sama antara industri pengolahan Tiongkok dengan negara-negara penghasil rumput laut di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan lebih banyak berorientasi pada perdagangan produk fisik. Padahal, rumput laut juga memiliki fungsi ekologis karena mampu menyerap karbon serta berkontribusi terhadap peningkatan kualitas perairan pesisir. Zhangzhou sendiri menjadi salah satu dari tiga klaster utama pengolahan rumput laut di Tiongkok dan menyumbang sekitar 30 persen dari kapasitas nasional. Industri di kawasan tersebut mengimpor lebih dari 150.000 ton rumput laut kering setiap tahun dari sejumlah negara, termasuk Indonesia dan Filipina. Bahan baku tersebut kemudian diolah menjadi berbagai produk, antara lain karagenan dan agar-agar. Kedua jenis hidrokoloid itu banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, media kultur farmasi, hingga bahan untuk produk perawatan pribadi. Hong Yanyan, pembeli dari Fujian Green Power Biotechnology Co., Ltd., mengatakan perusahaannya membutuhkan sekitar 2.000 metrik ton bahan baku rumput laut setiap bulan. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar bahan baku yang digunakan perusahaan merupakan jenis rumput laut tropis. Komoditas tersebut membutuhkan perairan hangat sepanjang tahun agar dapat tumbuh secara stabil sehingga pasokannya banyak berasal dari negara-negara Asia Tenggara. Hasil kunjungan lapangan dan pengujian sampel, lanjut Hong, menunjukkan bahwa rumput laut dari Asia Tenggara dan Pasifik Selatan memiliki kualitas yang baik. Tingkat ekstraksi gel yang tinggi membuatnya sesuai untuk digunakan sebagai bahan baku industri pengolahan. Cai mengatakan pola kerja sama dengan Kepulauan Solomon menunjukkan bagaimana perdagangan komoditas dapat dikombinasikan dengan manfaat ekologis. Negara tersebut tetap memperoleh pendapatan dari penjualan rumput laut, sementara karbon yang terserap melalui budi daya dengan standar tertentu dapat dihitung dan dikembangkan menjadi kredit karbon yang memiliki nilai ekonomi. Menurut Cai, potensi pendapatan dari kredit karbon juga dapat menjadi insentif bagi petani lokal untuk memperluas sekaligus meningkatkan standar pengelolaan budi daya rumput laut. Semakin luas area budi daya dan semakin baik pengelolaannya, semakin besar pula potensi karbon yang dapat diverifikasi. Kondisi itu pada akhirnya dapat membantu menciptakan pasokan bahan baku yang lebih stabil bagi industri pengolahan di Zhangzhou. Dengan demikian, perdagangan rumput laut dan pengembangan kredit karbon berpotensi membentuk hubungan yang saling menguntungkan antara petani, negara penghasil, dan industri pengolahan. Meski demikian, penerapan skema tersebut masih menghadapi tantangan teknis, terutama dalam memastikan jumlah karbon yang benar-benar diserap oleh budi daya rumput laut yang tersebar di wilayah perairan kepulauan. Cai mengungkapkan bahwa lebih dari 90 persen rumput laut yang diproses di Zhangzhou berasal dari Indonesia. Kota tersebut mulai mengeksplorasi mekanisme penghitungan karbon lintas batas dengan Indonesia sejak 2024. Dalam proyek percontohan tersebut, sebanyak 878 metrik ton karbon dari budi daya rumput laut berhasil diverifikasi.(red) Foto menunjukkan para pekerja di Fujian Green Power Biotechnology Co., Ltd. sedang mengeringkan rumput laut. (Sumber: Istimewa)

FUZHOU, 8 September (Xinhua), eNewskalteng.com — Rumput laut dari kawasan Asia Tenggara dan negara-negara kepulauan Pasifik selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas yang dikirim ke Tiongkok untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan. Namun, komoditas tersebut kini mulai memberikan manfaat ekonomi tambahan melalui potensi penyerapan karbon selama proses budi dayanya.

Para petani rumput laut memanen rumput laut di Kepulauan Solomon. (Sumber: Istimewa)

Salah satu contohnya terlihat pada pengiriman rumput laut dari Kepulauan Solomon yang baru-baru ini tiba di Zhangzhou, Provinsi Fujian. Wilayah tersebut merupakan salah satu dari tiga pusat utama industri pengolahan rumput laut di Tiongkok. Bersamaan dengan masuknya komoditas tersebut ke pusat pengolahan, kredit karbon yang berasal dari budi daya rumput laut juga tercatat di pusat perdagangan karbon di Xiamen. Transaksi perdana mencakup 61 ton kredit karbon dengan nilai sekitar 6.000 yuan atau sekitar Rp15,7 juta berdasarkan kurs Rp2.624 per yuan.

Model tersebut memperlihatkan peluang terbentuknya “nilai ganda” dalam perdagangan rumput laut lintas negara. Selain memperoleh pendapatan dari penjualan hasil budi daya, negara penghasil juga berpotensi mendapatkan pemasukan tambahan dari nilai karbon yang diserap ekosistem rumput laut.

Cai Yangpeng, Kepala Seksi Ekonomi Kelautan, Biro Kelautan dan Perikanan Zhangzhou, menjelaskan bahwa karbon biru merupakan karbon yang diserap dan disimpan melalui ekosistem laut. Menurut dia, budi daya rumput laut dalam skala besar menjadi salah satu cara untuk mengembangkan potensi karbon biru tersebut. Selama ini, kerja sama antara industri pengolahan Tiongkok dengan negara-negara penghasil rumput laut di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan lebih banyak berorientasi pada perdagangan produk fisik. Padahal, rumput laut juga memiliki fungsi ekologis karena mampu menyerap karbon serta berkontribusi terhadap peningkatan kualitas perairan pesisir.

Zhangzhou sendiri menjadi salah satu dari tiga klaster utama pengolahan rumput laut di Tiongkok dan menyumbang sekitar 30 persen dari kapasitas nasional. Industri di kawasan tersebut mengimpor lebih dari 150.000 ton rumput laut kering setiap tahun dari sejumlah negara, termasuk Indonesia dan Filipina. Bahan baku tersebut kemudian diolah menjadi berbagai produk, antara lain karagenan dan agar-agar. Kedua jenis hidrokoloid itu banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, media kultur farmasi, hingga bahan untuk produk perawatan pribadi.

Hong Yanyan, pembeli dari Fujian Green Power Biotechnology Co., Ltd., mengatakan perusahaannya membutuhkan sekitar 2.000 metrik ton bahan baku rumput laut setiap bulan. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar bahan baku yang digunakan perusahaan merupakan jenis rumput laut tropis. Komoditas tersebut membutuhkan perairan hangat sepanjang tahun agar dapat tumbuh secara stabil sehingga pasokannya banyak berasal dari negara-negara Asia Tenggara.

Hasil kunjungan lapangan dan pengujian sampel, lanjut Hong, menunjukkan bahwa rumput laut dari Asia Tenggara dan Pasifik Selatan memiliki kualitas yang baik. Tingkat ekstraksi gel yang tinggi membuatnya sesuai untuk digunakan sebagai bahan baku industri pengolahan.

Cai mengatakan pola kerja sama dengan Kepulauan Solomon menunjukkan bagaimana perdagangan komoditas dapat dikombinasikan dengan manfaat ekologis. Negara tersebut tetap memperoleh pendapatan dari penjualan rumput laut, sementara karbon yang terserap melalui budi daya dengan standar tertentu dapat dihitung dan dikembangkan menjadi kredit karbon yang memiliki nilai ekonomi.

Menurut Cai, potensi pendapatan dari kredit karbon juga dapat menjadi insentif bagi petani lokal untuk memperluas sekaligus meningkatkan standar pengelolaan budi daya rumput laut. Semakin luas area budi daya dan semakin baik pengelolaannya, semakin besar pula potensi karbon yang dapat diverifikasi. Kondisi itu pada akhirnya dapat membantu menciptakan pasokan bahan baku yang lebih stabil bagi industri pengolahan di Zhangzhou.

Dengan demikian, perdagangan rumput laut dan pengembangan kredit karbon berpotensi membentuk hubungan yang saling menguntungkan antara petani, negara penghasil, dan industri pengolahan. Meski demikian, penerapan skema tersebut masih menghadapi tantangan teknis, terutama dalam memastikan jumlah karbon yang benar-benar diserap oleh budi daya rumput laut yang tersebar di wilayah perairan kepulauan.

Cai mengungkapkan bahwa lebih dari 90 persen rumput laut yang diproses di Zhangzhou berasal dari Indonesia. Kota tersebut mulai mengeksplorasi mekanisme penghitungan karbon lintas batas dengan Indonesia sejak 2024. Dalam proyek percontohan tersebut, sebanyak 878 metrik ton karbon dari budi daya rumput laut berhasil diverifikasi.(red)