BeritaInternasional

Pejabat Desa Indonesia Pelajari Strategi Revitalisasi Perdesaan di Yunnan

2
×

Pejabat Desa Indonesia Pelajari Strategi Revitalisasi Perdesaan di Yunnan

Sebarkan artikel ini
Foto tanpa keterangan tanggal ini menunjukkan suasana di Desa Sanman, Xishuangbanna, Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya. (Xinhua/Wang Xiansi)

KUNMING, 15 September (Xinhua), eNewskalteng.com – Pengembangan potensi lokal menjadi salah satu pelajaran yang menarik perhatian sejumlah pejabat desa dari Indonesia ketika mengunjungi wilayah perdesaan di Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya. Dalam kunjungan pada 12 hingga 13 September 2026 tersebut, para pejabat Indonesia melihat secara langsung bagaimana masyarakat di sejumlah desa di kawasan Xishuangbanna mengembangkan potensi alam, budaya, dan ekonomi lokal menjadi sumber pendapatan baru. Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Desa Sanman. Di kawasan tersebut, rumah panggung tradisional etnis Dai berdiri di tengah lingkungan hutan hujan tropis. Di sejumlah sudut desa, berbagai fasilitas baru seperti kafe dan kendaraan energi baru (NEV) berpadu dengan lingkungan tradisional.

Pada 12 September 2026, para pejabat desa dari Indonesia mempraktikkan pembuatan kerajinan tangan yang merupakan warisan budaya takbenda di Desa Sanman, Kota Jinghong, Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya. (Xinhua/Wang Xiansi)

Bahkan, sebuah menara air yang sebelumnya tidak lagi digunakan telah dimanfaatkan kembali sebagai kafe. Sementara itu, kawasan hutan karet yang produktivitasnya rendah dikembangkan menjadi taman hutan hujan. Bagi Titin Bainah, kepala desa dari Sumatra Utara, perubahan tersebut menunjukkan bahwa potensi yang tersedia di desa dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi tanpa harus menghilangkan karakter lokal. “Saya melihat desa ini sangat bersih. Saya juga terkesan dengan perpaduan antara pariwisata dan budaya, serta ekonomi kolektif,” ujar Titin.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama berada di Yunnan dapat menjadi bahan pembelajaran ketika kembali ke Indonesia.

Selama kunjungan, para pejabat desa tidak hanya menikmati kondisi lingkungan setempat. Mereka juga aktif menggali informasi mengenai keterlibatan masyarakat, pengelolaan industri lokal, pemanfaatan budaya tradisional, serta mekanisme pembagian manfaat ekonomi kepada warga. Di Desa Sanman, misalnya, mereka mempelajari pola kerja sama tiga desa yang sebelumnya menjalankan pengembangan secara sendiri-sendiri. Sanman merupakan bagian dari Komite Desa Mangajian. Pada masa sebelumnya, aktivitas ekonomi ketiga desa tersebut lebih banyak bertumpu pada penyadapan karet dan pekerjaan warga di luar daerah. Di sisi lain, sejumlah kerajinan tradisional menghadapi persoalan regenerasi karena semakin sedikit penerusnya.

Perubahan mulai dilakukan sejak 2023 melalui pendampingan tim yang dipimpin Profesor Li Xiaoyun dari Universitas Pertanian Tiongkok. Perencanaan pembangunan kemudian diarahkan untuk mempertahankan identitas masyarakat Dai sekaligus memperluas sumber ekonomi baru. Sejumlah kegiatan dikembangkan, antara lain kafe, wisata berbasis pengalaman hutan hujan, serta toko yang menjual produk budaya dan kreatif. Pendekatan tersebut membuat berbagai potensi yang sebelumnya berjalan terpisah dapat dihubungkan dalam satu ekosistem ekonomi perdesaan. Aspek pembagian manfaat menjadi salah satu hal yang paling diperhatikan oleh delegasi Indonesia.

Pendapatan dari aktivitas wisata dan belanja pengunjung disalurkan melalui sejumlah mekanisme, termasuk koperasi, perusahaan pengelola, badan usaha kolektif desa, dan kelompok masyarakat desa. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh pelaku usaha tertentu, tetapi juga dapat dirasakan rumah tangga di desa.

Pada 2025, Desa Sanman membukukan omzet usaha sekitar 2,58 juta yuan. Sementara itu, perusahaan kolektif desa memperoleh pendapatan sekitar 570.000 yuan. Dari pendapatan tersebut, sebanyak 70.000 yuan dibagikan sebagai dividen kepada seluruh 140 rumah tangga di desa. Bagi Titin, keterlibatan dan manfaat yang diterima masyarakat merupakan ukuran penting dalam menilai keberhasilan pembangunan desa. “Dalam pembangunan perdesaan, pada akhirnya yang paling penting adalah warga desa mendapatkan manfaatnya,” katanya.

Menurutnya, desa yang berkembang tidak cukup hanya mengandalkan lingkungan yang menarik. Harus ada kegiatan ekonomi yang mampu melibatkan masyarakat secara berkelanjutan dan membuat warga memiliki alasan untuk terus berperan di daerahnya. Ia mengaku tertarik dengan cara masyarakat di Yunnan mengubah berbagai fasilitas sederhana, seperti kafe dan lokasi untuk menikmati pemandangan matahari terbenam, menjadi bagian dari aktivitas ekonomi.

Pengalaman tersebut mendorongnya untuk memikirkan kembali cara desa-desa di Indonesia dalam mengoptimalkan sumber daya yang sudah dimiliki. Perjalanan pembelajaran berlanjut ke Desa Manzhao di wilayah Menghai pada sore 13 September. Desa tersebut dikenal sebagai satu-satunya desa di Xishuangbanna yang saat ini memproduksi kertas tradisional etnis Dai.

Kerajinan yang memiliki sejarah lebih dari 800 tahun itu tidak hanya dipertahankan sebagai produk budaya, tetapi juga dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar modern. Di salah satu toko produk budaya dan kreatif, kertas tradisional Dai telah diolah menjadi berbagai produk, seperti kemasan, tas tangan, kotak hadiah, kipas, lampu, hingga karya dekoratif.

Salah seorang warga desa, Yu Kangkang, telah mengembangkan lebih dari 60 jenis produk berbahan kertas tradisional tersebut. Upaya itu menjadi contoh bagaimana warisan budaya dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi tanpa kehilangan identitas asalnya. Dari Desa Sanman hingga Manzhao, para pejabat Indonesia melihat adanya pola yang sama dalam proses revitalisasi perdesaan di Yunnan.

Pengembangan desa tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik atau mempercantik lingkungan. Potensi alam, kebudayaan, serta kegiatan ekonomi dikembangkan secara terpadu dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari proses tersebut. Model itu juga menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan perdesaan berkaitan erat dengan kemampuan menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan sekaligus memastikan masyarakat memperoleh manfaat secara langsung.

Para pejabat desa Indonesia menyatakan akan membawa berbagai pengalaman yang diperoleh selama kunjungan tersebut sebagai bahan pembelajaran untuk pengembangan desa di tanah air. Pertukaran pengalaman antara kedua negara diharapkan dapat membuka perspektif baru mengenai bagaimana sumber daya lokal, tradisi, dan partisipasi masyarakat dapat dipadukan untuk mendorong revitalisasi perdesaan yang berkelanjutan.(red)