BeritaEksekutifHiburanPemprov Kalimantan TengahTeknologi

Boneka Purun, Panggung Kreativitas Anak Gambut dan Upaya Menghidupkan Kembali Budaya Lokal

82
×

Boneka Purun, Panggung Kreativitas Anak Gambut dan Upaya Menghidupkan Kembali Budaya Lokal

Sebarkan artikel ini
Pertunjukan Paper Puppet Purun, teater multimedia Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Universitas Palangka Raya yang memanfaatkan boneka dari tikar purun.(Photo/zen)

Palangka Raya, eNewskalteng.com — Halaman TK Darul Istiqomah Bukit Tunggal dipenuhi tawa dan antusiasme anak-anak.  Mereka duduk bergerombol di atas tikar, menunggu pertunjukan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Di depan mereka, sebuah layar putih berdiri, dan boneka-boneka kecil berbahan purun—tanaman rawa yang tumbuh subur di tepi kampung—bersiap “hidup” di atas panggung.

Pertunjukan tersebut adalah Paper Puppet Purun, teater multimedia yang digagas Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Universitas Palangka Raya. Lebih dari sekadar hiburan, program ini menjadi medium edukasi yang mengangkat kembali pentingnya purun dan kesadaran akan ekosistem gambut yang semakin terancam.

Ketua Tim PISN, Nawung Asmoro Girindraswari, kepada wartawan, Kamis (20/11/2025), menjelaskan bahwa ide Paper Puppet Purun berangkat dari kegelisahan melihat generasi muda yang kini lebih dekat dengan gawai daripada alam sekitar. “Purun dulu sangat dekat dengan kehidupan masyarakat gambut, tetapi kini mulai terlupakan. Kami ingin mengenalkannya kembali dalam bahasa yang dipahami anak-anak: visual, multimedia, dan interaktif,” ujarnya saat persiapan pertunjukan ketiga di Pavilium Tjilik Riwut.

Program ini didanai melalui hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Tim yang terdiri dari Muh. Andis Hidayatullah, Utari Yolla Sundari, dan Nirena Ade Cristhy bekerja sama dengan Borneo Art Play, kelompok seni yang fokus pada teater objek dan integrasi digital. Dukungan juga datang dari Sanggar Seni Parai Eko Yes dan praktisi teater Marissa Aulia Mayangsari.

Rangkaian pertunjukan digelar di tiga titik: TK Darul Istiqomah, SDN 05 Bukit Tunggal, dan Pavilium Tjilik Riwut. Di SDN 05, anak-anak bukan hanya menonton, tetapi juga ikut mempraktikkan bagaimana boneka purun digerakkan. Ekspresi takjub tampak ketika mereka menyadari bahwa “mainan baru” itu berasal dari tanaman yang tumbuh di sekitar rumah mereka.

Puncaknya, di Pavilium Tjilik Riwut, pertunjukan menarik perhatian pelajar, guru, seniman, komunitas budaya, hingga warga umum. Usai pertunjukan, diskusi spontan mengalir—mulai dari ketahanan purun sebagai bahan boneka, potensi replikasi program, hingga masalah berkurangnya lahan gambut.

Program PISN juga mengadakan pelatihan sinematografi, produksi konten digital, dan lokakarya pembuatan boneka purun. Peserta diajak belajar membuat boneka dari nol hingga memproduksi video pertunjukan.

Purun memiliki sejarah kuat dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah. Tanaman rawa ini sejak lama digunakan untuk membuat tikar, keranjang, tas, dan berbagai anyaman. Namun modernisasi membuat kerajinan purun semakin ditinggalkan, dan identitasnya perlahan memudar.

Dengan mengangkat purun ke panggung, Paper Puppet Purun memberi napas baru pada tanaman ini. Melalui boneka purun, anak-anak diajak memahami keterkaitan air, tanah, kebakaran, dan keseimbangan alam tanpa ceramah yang membosankan. “Saya baru tahu kalau purun bisa jadi begini. Biasanya Ibu cuma pakai buat bikin tikar, tapi ternyata bisa jadi boneka yang bagus,” ujar seorang siswi kelas satu SDN 05 Bukit Tunggal, sambil memegang boneka kecil yang diberikan usai pertunjukan.

Bagi Tim PISN, komentar sederhana itu adalah bukti keberhasilan. Program ini bukan hanya inovasi seni, tetapi juga pendidikan lingkungan yang menyusup melalui hiburan. “Kami berharap Paper Puppet Purun bisa direplikasi di daerah lain yang memiliki potensi serupa. Setiap daerah punya ‘purun’-nya sendiri. Tinggal bagaimana kita menghidupkannya kembali dengan cara yang relevan,” kata Nawung.(zen)

Penulis : Zendrato

Editor : Andi kadarusman