BeritaPemprov Kalimantan Tengah

Menteri LHK Hanif Faisol Nurofiq Sambangi Taman Nasional Sabangau Kalteng, Fokus Pemulihan Ekosistem Gambut

331
×

Menteri LHK Hanif Faisol Nurofiq Sambangi Taman Nasional Sabangau Kalteng, Fokus Pemulihan Ekosistem Gambut

Sebarkan artikel ini
Menteri Hanif Faisol Nurofiq bersama jajaran. (Photo/a)

Palangka Raya. eNewskalteng.com – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Tengah pada Selasa (28/1/25).

Salah satu agenda utama dalam kunjungan ini adalah meninjau upaya pemulihan ekosistem gambut di Taman Nasional Sebangau, terutama melalui pembangunan pemblokiran kanal sebagai strategi mitigasi kerusakan lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Hanif menyoroti dampak buruk eksploitasi hutan yang terjadi di kawasan Sebangau. Ia menjelaskan bahwa pembangunan kanal-kanal untuk mengangkut kayu tebangan pada masa lalu telah mengakibatkan kerusakan serius pada ekosistem gambut. Kanal-kanal tersebut, yang awalnya dibangun untuk tujuan komersial, justru mengubah fungsi alami gambut sebagai penyimpan udara dan meningkatkan risiko kebakaran.

“Taman Nasional Sebangau adalah bukti nyata dampak kebijakan masa lalu. Pembangunan kanal-kanal untuk eksploitasi kayu menyebabkan terganggunya fungsi alami gambut yang seharusnya dapat menyimpan udara. Akibatnya, ekosistem gambut mengalami degradasi dan memicu berbagai masalah lingkungan, termasuk kebakaran lahan yang semakin meluas,” jelas Menteri Hanif.

Menteri Hanif juga mengingatkan bahwa pengeringan lahan gambut akibat kanal-kanal tersebut memperburuk kondisi dan meningkatkan risiko kebakaran yang sulit dikendalikan. Gambut yang kehilangan kelembapan menjadi sangat rentan terbakar, memicu bencana ekologis yang berkepanjangan.

“Ketika gambut mengering, ia kehilangan daya serap udara dan menjadi sangat mudah terbakar. Ini adalah salah satu faktor utama penyebab kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang. Oleh karena itu, pemulihan gambut harus menjadi prioritas,” tambah Menteri Hanif.

Sebagai langkah pemulihan, pemerintah Indonesia terus mendorong pembangunan penyekatan kanal untuk menjaga keseimbangan ekosistem gambut. Tindakan ini bertujuan untuk memastikan bahwa lahan gambut tetap basah, sehingga fungsinya sebagai penyimpan karbon dapat terjaga dengan baik.

“Pemblokiran kanal adalah strategi penting dalam pemulihan gambut. Namun, ini harus diimbangi dengan manajemen udara terpadu untuk memastikan keberlanjutan ekosistem gambut dan menghindari ancaman kebakaran. Prioritas kami adalah menciptakan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” tegas Menteri Hanif.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Tengah, Joni Harta, juga memberikan tanggapan positif terhadap kunjungan ini. Ia menyebutkan bahwa kehadiran Menteri Hanif merupakan bukti komitmen serius pemerintah dalam pemulihan ekosistem gambut yang rusak akibat eksploitasi masa lalu.

“Dengan kunjungan ini, kami merasa lebih termotivasi untuk terus melaksanakan program-program pemulihan gambut, termasuk pembangunan kanal blocking, untuk menjaga keseimbangan hidrologis gambut dan mencegah kerusakan lebih lanjut,” kata Joni.

Joni juga menekankan pentingnya pengelolaan ekosistem gambut di Kalimantan Tengah yang memiliki kawasan gambut yang sangat luas dan vital dalam mitigasi perubahan iklim. Ia berharap bahwa Taman Nasional Sebangau dapat menjadi model pemulihan gambut yang berkelanjutan di Indonesia, memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

“Pengelolaan gambut yang tepat akan mencegah kebakaran hutan dan lahan serta menjaga keseimbangan alam. Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan berbagai pihak agar Taman Nasional Sebangau menjadi contoh sukses dalam pemulihan gambut yang bermanfaat bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Joni berharap kunjungan ini dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian ekosistem gambut. Diharapkan, Taman Nasional Sebangau dapat menjadi contoh keberhasilan pemulihan ekosistem gambut yang berkelanjutan di Indonesia.(YZ)