Berita

Lomba Bahasa Mandarin Angkat Kekayaan Budaya Tionghoa-Indonesia

6
×

Lomba Bahasa Mandarin Angkat Kekayaan Budaya Tionghoa-Indonesia

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, 13 September (Xinhua), eNewskalteng.com — Sebanyak 64 finalis dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti babak final kontes perdana bertajuk “Menjelajahi Indonesia melalui Bahasa Mandarin: Lomba Pemandu Budaya Tionghoa Lokal dalam Bahasa Mandarin” yang berlangsung di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Jumat (11/9) dan Sabtu (12/9). Ajang tersebut menjadi wadah bagi para pelajar dan mahasiswa untuk memperkenalkan sekaligus menggali kekayaan budaya Tionghoa-Indonesia melalui kemampuan berbahasa Mandarin. Kompetisi yang dimulai sejak Mei itu menerima sebanyak 197 video dari peserta di berbagai wilayah Indonesia. Setelah melewati tahap seleksi, 34 pelajar tingkat sekolah dasar dan menengah berhasil lolos ke babak final secara langsung.

Sementara itu, 30 mahasiswa dari berbagai program studi yang berkaitan dengan bahasa Mandarin mengikuti tahap final secara daring. Pada kategori sekolah dasar dan menengah, para peserta menyampaikan pidato dalam bahasa Mandarin dengan tema “Budaya Tionghoa di Mata Saya”. Adapun peserta dari kategori mahasiswa menampilkan presentasi dalam bentuk video yang kemudian melalui proses pemungutan suara secara daring.

Beragam kekayaan budaya Tionghoa-Indonesia menjadi tema yang diangkat para finalis. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan mereka, peserta memperkenalkan kuliner, bangunan bersejarah, festival, tradisi, adat istiadat hingga kepercayaan yang berkembang di lingkungan masing-masing. Bagi Irovi, peserta asal Selat Panjang, Riau, kompetisi tersebut menjadi kesempatan bagi generasi muda Tionghoa-Indonesia untuk mengenal lebih dekat sekaligus meneruskan warisan budaya yang telah berkembang dari generasi ke generasi. Dalam penampilannya, Irovi memperkenalkan tradisi arak-arakan dewa yang menjadi bagian dari perayaan Tahun Baru Imlek di daerah asalnya. “Budaya dapat terus hidup dalam kehidupan kita sehari-hari,” ujarnya.

Peserta lain, Zheng Xujun, siswa kelas 11 Xin Zhong School di Surabaya, mengaku mengikuti kompetisi tersebut karena ingin memperkenalkan budaya Tionghoa-Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas. Dalam proses persiapannya, Zheng memilih mengangkat tema mengenai sekolah Tionghoa. Menurut dia, keberadaan sekolah tersebut memiliki peran penting dalam mengenalkan dan meneruskan berbagai nilai budaya serta tradisi Tionghoa di Indonesia.

Hal serupa disampaikan Eileen Wiratama, teman sekolah Zheng, yang memiliki leluhur dari China selatan. Baginya, keikutsertaan dalam lomba itu menjadi sarana untuk memahami akar budaya keluarganya secara lebih mendalam. Pada tahap penyisihan, Wiratama memperkenalkan Kelenteng Konghucu di Surabaya yang dinilainya sebagai salah satu bagian khas dari budaya Tionghoa di kota tersebut.

Sementara pada babak final, dia memilih tema kuliner dengan memperkenalkan dua jenis makanan tradisional yang digunakan masyarakat Tionghoa-Indonesia dalam persembahan ritual, yakni kue mangkok dan wajik berbahan beras ketan serta gula aren. Menurut Wiratama, persiapan untuk mengikuti kompetisi tersebut tidak hanya memperluas pengetahuannya mengenai warisan leluhur, tetapi juga menumbuhkan rasa syukur terhadap budaya yang diwariskan keluarganya.

Ashley Renata, siswa kelas 11 lainnya dari Xin Zhong School, juga melihat kompetisi tersebut sebagai kesempatan untuk memperdalam pemahamannya mengenai budaya Tionghoa-Indonesia. Selain menambah wawasan, ajang tersebut menurutnya membuka kesempatan untuk bertemu teman-teman baru sekaligus menguji kemampuan berbahasa Mandarin.

Pada tahap penyisihan, sejumlah peserta lainnya turut mengangkat berbagai tema yang berkaitan dengan hubungan sejarah dan budaya China-Indonesia. Di antaranya kisah Zheng He, keberadaan masjid-masjid Zheng He, serta sejarah pertukaran antara kedua negara.

Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya Ye Su menilai kompetisi tersebut bukan sekadar kegiatan untuk mengasah kemampuan berbahasa Mandarin. Menurutnya, kegiatan itu juga menjadi bentuk pembelajaran praktis sekaligus inisiatif kebudayaan yang memiliki arti penting dalam jangka panjang.

Ye Su berharap para peserta dapat terus menemukan dan mengenali unsur-unsur budaya Tiongkok yang hidup di tengah komunitas mereka melalui perspektif masing-masing. Ia juga berharap generasi muda yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat menjadi peserta aktif dalam pertukaran budaya sekaligus berperan sebagai duta persahabatan antarmasyarakat antara Tiongkok dan Indonesia. Melalui kemampuan bahasa dan pemahaman terhadap warisan budaya lokal, para peserta tidak hanya berkompetisi untuk meraih penghargaan, tetapi juga turut memperkenalkan keberagaman budaya Tionghoa-Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.(red)