JAKARTA, 13 September (Xinhua), eNewskalteng.com — Gelaran konser musik yang semakin ramai di Indonesia tidak hanya memberikan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga membuka berbagai peluang ekonomi baru. Salah satunya terlihat dari berkembangnya jasa penyewaan ponsel flagship yang banyak dimanfaatkan penonton untuk mengabadikan penampilan musisi favorit mereka. Di tengah kerumunan penggemar EXO yang menghadiri konser di Jakarta beberapa waktu lalu, Imawati Muslimah (37) justru sibuk mengurus bisnis kecil yang dijalankannya.

Perempuan yang akrab disapa Ima itu tidak berada di dalam arena konser, melainkan melayani pelanggan yang menyewa ponsel premium untuk merekam jalannya pertunjukan. Bagi Ima, tingginya kebutuhan penonton terhadap kamera ponsel berkualitas menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan. Sebelum konser dimulai, dia memastikan perangkat yang disewa pelanggan dalam kondisi siap digunakan, sekaligus melakukan pemeriksaan identitas dan prosedur keamanan lainnya.
Berawal dari Empat Ponsel
Ima mengaku bisnis tersebut bermula dari kebiasaan sederhana setelah pembatasan aktivitas masyarakat akibat pandemi COVID-19 mulai dilonggarkan pada 2022. Saat itu, sejumlah temannya kerap meminjam ponsel miliknya untuk berbagai kebutuhan, termasuk mengambil gambar ketika menghadiri konser musik. “Awalnya iseng, waktu itu banyak teman yang ingin meminjam ponsel saya untuk berbagai keperluan, salah satunya motret-motret di acara konser musik,” kata Ima kepada Xinhua melalui surel pada Kamis (3/9). Melihat peluang tersebut, Ima kemudian mulai mengembangkan usaha penyewaan ponsel. Festival musik berskala besar, seperti PestaPora dan Soundrenaline, menjadi salah satu momentum yang menurutnya memiliki potensi pasar cukup besar.
Empat perangkat yang awalnya hanya dimiliki untuk kebutuhan pribadi perlahan berkembang menjadi aset produktif. Kini, Ima telah memiliki 10 unit ponsel premium yang disewakan dengan tarif berkisar Rp450.000 hingga Rp850.000 per hari.
Sejumlah perangkat kelas atas menjadi pilihan pelanggan, terutama Apple iPhone 17 Pro Max dan Samsung Galaxy S26 Ultra. Kedua model tersebut diminati karena kemampuan kamera serta kapasitas penyimpanan internal yang besar. Belakangan, permintaan terhadap Xiaomi 17 Ultra juga meningkat karena kemampuan zoom yang dinilai sesuai dengan kebutuhan penonton konser. Untuk memperluas pasar, Ima tidak hanya mengandalkan pemesanan melalui WhatsApp. Dia juga aktif menawarkan jasanya secara langsung kepada calon penyewa di sekitar lokasi konser. Ponsel yang disewakan turut dilengkapi dengan sejumlah aplikasi media sosial sehingga pelanggan dapat segera mengunggah foto maupun video hasil dokumentasi ke platform digital.
Keamanan Menjadi Perhatian
Bisnis penyewaan perangkat elektronik bernilai tinggi tentu memiliki risiko tersendiri. Untuk mengantisipasi kehilangan maupun kerusakan, Ima menerapkan sejumlah prosedur pengamanan terhadap setiap unit yang disewakan. Pelanggan diwajibkan menyerahkan KTP sebagai jaminan dan menitipkan ponsel pribadi. Selain itu, perangkat sewaan dilengkapi aplikasi pelacak yang memungkinkan Ima mengetahui keberadaan ponsel dan melakukan penonaktifan dari jarak jauh apabila terjadi masalah. “Jadi ketika dibawa kabur, saya bisa langsung melacak dan menonaktifkannya dari jauh,” ujar Ima. Dia juga memasang case pelindung pada perangkat serta memberikan perlindungan melalui asuransi khusus.
Dari sisi pelanggan, biaya sewa dinilai sepadan dengan hasil dokumentasi yang diperoleh. Shinta Anggraeni (30), salah seorang penonton konser EXO, memilih menyewa ponsel flagship karena kamera pada ponsel pribadinya tidak mampu menghasilkan gambar berkualitas ketika digunakan untuk mengambil gambar dari jarak jauh. “Saya memang sengaja menyewa ponsel flagship karena spesifikasi kamera ponsel pribadi saya kurang memadai untuk zoom jarak jauh,” ujar Shinta kepada Xinhua melalui sambungan telepon pada Jumat (4/9). Shinta menyewa Samsung Galaxy S23 Ultra dengan tarif Rp350.000 untuk penggunaan selama 24 jam. Menurut dia, biaya tersebut layak dikeluarkan mengingat harga tiket konser yang juga tidak murah.
Dia tidak ingin kesempatan menyaksikan langsung grup idolanya berakhir tanpa dokumentasi yang memadai. Meski harus menjalani prosedur keamanan, termasuk menyerahkan KTP asli dan melalui verifikasi akun media sosial seperti Instagram, Shinta tetap merasa puas dengan layanan tersebut. Kemampuan zoom optik pada perangkat yang disewanya membuat dia dapat memperoleh gambar personel EXO, termasuk Suho dan D.O., meski posisi tempat duduknya berada di kelas menengah dan relatif jauh dari panggung. “Resolusi videonya sangat tajam, reproduksi warna tetap stabil meskipun di bawah sorotan lampu tata panggung yang dinamis,” katanya.
Kendala yang dialaminya lebih berkaitan dengan kapasitas data. Video konser yang dihasilkan dapat mencapai puluhan gigabita sehingga Shinta harus memindahkannya ke flash drive menggunakan konektor OTG sebelum masa sewa berakhir. Namun, secara keseluruhan, dia menilai menyewa ponsel premium lebih ekonomis dibandingkan membeli perangkat baru. Dengan cara tersebut, dia tetap dapat memperoleh pengalaman dokumentasi berkualitas tanpa harus mengeluarkan dana besar untuk membeli ponsel.
Konser Jadi Penggerak Ekonomi
Berkembangnya bisnis penyewaan ponsel menjadi gambaran kecil dari aktivitas ekonomi yang muncul di sekitar industri konser. Ketika pertunjukan musik semakin banyak digelar, berbagai sektor lain ikut mendapatkan manfaat. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap hiburan langsung tetap kuat meskipun kondisi ekonomi global menghadapi berbagai tantangan.
Survei Jakpat pada 2025 menunjukkan 52 persen responden menonton konser untuk mendapatkan hiburan, sedangkan 46 persen lainnya menjadikannya sebagai sarana untuk mengurangi stres. Kemudahan pembayaran turut memperluas akses masyarakat terhadap pertunjukan musik. Salah satunya melalui layanan paylater. Data platform ticketing LOKET mencatat bahwa sepanjang 2023 hingga 2025, transaksi menggunakan paylater meningkat 44,05 persen. Pada periode yang sama, jumlah tiket yang terjual tumbuh 51,21 persen, sementara gross market value (GMV) meningkat 58,98 persen.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa konser kini memiliki dampak ekonomi yang lebih luas daripada sekadar kegiatan hiburan. Kehadiran musisi internasional dapat menggerakkan berbagai sektor, mulai dari penerbangan, perhotelan, transportasi hingga usaha kuliner dan UMKM di daerah penyelenggara.
Pemerintah Perkuat Ekosistem Konser
Melihat besarnya potensi ekonomi tersebut, pemerintah Indonesia berupaya membangun ekosistem pertunjukan musik yang lebih kuat. Salah satu tujuannya adalah meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan konser musisi internasional. Pengalaman dari tur global sejumlah artis ternama, seperti Taylor Swift, BTS, dan Blackpink, menunjukkan besarnya perputaran ekonomi yang dapat dihasilkan dari sebuah rangkaian konser. Karena itu, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara didorong untuk turut mendukung pembangunan fasilitas musik berstandar internasional sekaligus membantu upaya mendatangkan musisi kelas dunia ke Indonesia. Pengembangan infrastruktur tersebut juga menjadi bagian dari perencanaan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Sebagai kota masa depan yang turut mengedepankan aspek seni dan budaya, IKN direncanakan memiliki concert hall berkelas dunia. Fasilitas tersebut mengacu pada rancangan “Cerlang Nusantara”, karya Tim Gregorius (Yori) Antar Awal yang menjadi pemenang Sayembara Desain Pusat Kebudayaan Nusantara (PKN). Pembangunan fasilitas tersebut direncanakan dapat dimulai paling cepat pada 2027.
Dengan semakin berkembangnya industri konser, peluang ekonomi yang tercipta pun semakin beragam. Dampaknya tidak hanya dirasakan negara melalui aktivitas ekonomi dan devisa, tetapi juga oleh masyarakat yang memperoleh peluang usaha baru. Bisnis penyewaan ponsel premium yang dijalankan Ima menjadi salah satu contoh bagaimana kebutuhan penonton dapat melahirkan ceruk usaha baru.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ketika ekosistem hiburan berkembang, manfaat ekonominya dapat menyebar ke berbagai lapisan. Dari jasa penyewaan perangkat hingga sektor transportasi, akomodasi, kuliner, dan industri kreatif, konser berpotensi menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi yang semakin penting di Indonesia.(red)












