Kotawaringin Timur, eNewskalteng.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan, kondisi kekeringan dan keterbatasan air bersih di sejumlah wilayah menyebabkan kasus diare melonjak hingga 690 kasus pada Juli 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang Januari hingga Juli tahun ini.
Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi mengatakan, kondisi air bersih menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan kasus diare. Kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah berpotensi menyulitkan masyarakat mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. “Memang diare itu penyebabnya karena masalah air bersih. Kita yang namanya karhutla dan kekeringan ini tentunya kesulitan air bersih ada di daerah-daerah tertentu,” kata Umar, Kamis (10/9/2026).
Berdasarkan data tren bulanan Dinkes Kotim, total kasus diare sejak Januari hingga Juli 2026 mencapai 2.710 kasus. Pada Januari tercatat 440 kasus, kemudian meningkat menjadi 507 kasus pada Februari. Kasus selanjutnya turun menjadi 372 kasus pada Maret dan kembali meningkat menjadi 393 kasus pada April. Pada Mei, jumlah kasus menurun menjadi 302 kasus sebelum sedikit naik menjadi 306 kasus pada Juni. Lonjakan terjadi pada Juli dengan jumlah mencapai 690 kasus. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan kasus pada Juni yang tercatat sebanyak 306 kasus.
Jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, kasus diare pada Juli 2026 juga tergolong tinggi. Pada Juli 2023 tercatat 1.209 kasus, sedangkan Juli 2025 sebanyak 624 kasus dan Juli 2024 sebanyak 420 kasus. Sementara pada Juli 2022 tercatat 237 kasus. Untuk mencegah peningkatan kasus, jajaran puskesmas telah memberikan penyuluhan dan advokasi kepada masyarakat, khususnya mengenai keamanan air yang dikonsumsi. Masyarakat dianjurkan merebus air sebelum diminum, termasuk air isi ulang. “Kalau memang harus isi ulang pun, paling tidak kita rebus karena tidak menutup kemungkinan air isi ulang bisa terkontaminasi dengan E. coli. Sehingga barang siapa yang meminumnya, ada kemungkinan bisa kena diare,” tandasnya.
Umar menyebut kasus diare yang ditangani fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) saat ini masih tergolong ringan dan masih dapat ditangani di tingkat faskes. Hingga kini, tidak terdapat kasus diare yang menyebabkan kematian. “Di tengah kondisi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Dinkes juga memastikan kesiapan pelayanan kesehatan. Seluruh faskes di 17 Kecamatan telah diinstruksikan tetap memberikan pelayanan selama 24 jam dengan sistem pergantian tenaga,” pungkasnya. (man)










