BeritaEksekutifKesehatanPemkab Barito Utara

Dinkes Barito Utara Gelar Monev Program TBC 2025, Perkuat Strategi Menuju Eliminasi Tuberkulosis

85
×

Dinkes Barito Utara Gelar Monev Program TBC 2025, Perkuat Strategi Menuju Eliminasi Tuberkulosis

Sebarkan artikel ini
Dinas Kesehatan Barito Utara menyelenggarakan Pertemuan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Tuberkulosis Tahun 2025 yang digelar selama dua hari, 6–7 September 2025.(Photo/Dok Dinkes Barut)

Muara Teweh, eNewskalteng.com  – Dalam upaya memperkuat strategi penanggulangan Tuberkulosis (TBC) dan mempercepat eliminasi penyakit tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara menggelar Pertemuan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program TBC Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 6–7 September 2025, di Aula Dinas Kesehatan Barito Utara. Pertemuan tersebut diikuti para Kepala Bidang, Kepala Subbagian Kepegawaian, Kepala Subbagian Perencanaan dan Informasi Kesehatan (PIH), serta perwakilan Puskesmas dan RSUD se-Barito Utara.

Kepala Dinas Kesehatan Barito Utara, Pariadi AR, melalui Kepala Bidang PSDK, Yessi Aria Puspita, SKM, M.Kes, menyampaikan bahwa Indonesia masih menempati posisi kedua kasus TBC terbanyak di dunia. “Setiap jam, 14 orang meninggal akibat TBC di Indonesia. Ini merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Karena itu, kita harus memperkuat strategi mulai dari fasilitas kesehatan hingga peran lintas sektor,” tegas Yessi, kepada awak media, Jum’at (3/10/2025).

Ia menjelaskan bahwa target nasional eliminasi TBC 2025 mencakup: 90% deteksi kasus, 100% inisiasi pengobatan dan >80% keberhasilan pengobatan.

Untuk mencapai target tersebut, lanjut Yessi, diperlukan sinergi antara fasilitas kesehatan, masyarakat, dan komunitas. “Komunitas berperan besar dalam investigasi kontak, skrining kelompok berisiko, serta pendampingan dan monitoring pengobatan. Peran ini harus terus diperkuat,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2025, Kabupaten Barito Utara mencatat 227 kasus TBC yang berhasil ditemukan dan menjalani pengobatan. Namun sejumlah tantangan masih dihadapi, antara lain: Investigasi kontak yang belum optimal, Rendahnya cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), Keterlambatan pencatatan dan pelaporan kasus dan Gap antara temuan kasus dan inisiasi pengobatan. “Masih ada selisih antara jumlah kasus yang ditemukan dengan yang memulai pengobatan. Karena itu, Monev ini penting untuk mengidentifikasi kendala dan menyusun solusi tepat di tingkat Puskesmas dan RSUD,” jelas Yessi.

Yessi juga menyoroti rendahnya minat masyarakat menjalani TPT karena merasa sehat meski memiliki riwayat kontak erat. “Promosi kesehatan harus ditingkatkan. Banyak yang menolak TPT karena merasa tidak sakit, padahal risiko mereka tinggi. Edukasi harus lebih masif,” tegasnya.

Pertemuan Monev ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk meningkatkan kualitas pelaporan, akurasi data, serta menyusun langkah konkret dalam memperkuat Program P2 TBC di Barito Utara. “Kami berharap seluruh peserta aktif berdiskusi, menyampaikan kendala, serta berbagi inovasi yang bisa diterapkan dalam pelaksanaan program TBC,” pungkas Yessi.(kaer)

Penulis : Karina

Editor : Andi Kadarusman