TAIYUAN, eNewskalteng.com – Sejumlah pemuda Indonesia berkesempatan mengenal lebih dekat kekayaan warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage/ICH) di Provinsi Shanxi, Tiongkok utara. Mereka mengikuti berbagai kegiatan praktik budaya, mulai dari membuat tembikar, memainkan alat musik tradisional, hingga melukis menggunakan tinta. Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung di sejumlah sanggar budaya di perdesaan dan lingkungan perguruan tinggi. Selain memperkenalkan seni tradisional Tiongkok, program ini juga menjadi sarana memperkuat pemahaman budaya serta persahabatan generasi muda kedua negara.

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Desa Liujiaobao di Kota Taiyuan. Desa tersebut menerapkan konsep pengembangan budaya bertajuk “satu halaman, satu warisan budaya takbenda; satu halaman, satu tema budaya”. Melalui pendekatan itu, halaman rumah warga yang sebelumnya tidak terpakai direvitalisasi menjadi ruang pelestarian budaya. Saat ini, desa tersebut menampung lebih dari 100 jenis warisan budaya takbenda.
Para delegasi juga menyaksikan pertunjukan barongsai di salah satu sanggar setempat. Beragam kepala barongsai dengan bentuk dan karakter berbeda menghiasi dinding ruangan. Pertunjukan semakin meriah ketika barongsai berwarna merah bergerak lincah mengikuti iringan gong dan genderang tradisional. Selain menyaksikan pertunjukan, peserta mendapat kesempatan mencoba langsung sejumlah kerajinan tradisional. Di sanggar tembikar, mereka belajar mengolah tanah liat yang berasal dari tanah loes lokal Shanxi menggunakan roda putar. Dengan bimbingan para perajin, peserta mempraktikkan tahapan menguleni, memusatkan, hingga membentuk tanah liat menjadi wadah. Mereka juga diperkenalkan dengan teknik tradisional pembuatan keramik berglasir hitam.
Pengalaman lainnya diperoleh di Meiyi Lacquer Workshop. Di tempat ini, delegasi mempelajari teknik tatahan pernis emas, salah satu warisan budaya takbenda tingkat provinsi Shanxi. Proses pengerjaan yang membutuhkan ketelitian dan melalui belasan tahapan memberikan gambaran mengenai kerumitan seni kerajinan tersebut. Tidak hanya kerajinan tangan, peserta juga mengenal kekayaan kuliner khas Shanxi melalui pencicipan cuka tua yang terkenal dari wilayah tersebut. Mereka turut mencoba teknik marbling air untuk menghasilkan tas dengan motif kreatif sesuai selera masing-masing.
KENALI MUSIK DAN SENI LUKIS TRADISIONAL
Kegiatan pertukaran budaya kemudian berlanjut di Universitas Normal Taiyuan (Taiyuan Normal University) pada 30 Oktober 2026. Rombongan disambut dengan pertunjukan gong dan genderang khas Taiyuan yang menjadi salah satu identitas budaya daerah tersebut. Taiyuan dikenal sebagai kampung halaman gong dan genderang. Seni musik perkusi tradisionalnya telah masuk dalam daftar warisan budaya takbenda nasional Tiongkok sejak 2008.
Kelompok Gong dan Genderang Xingzhi dari universitas tersebut menampilkan pertunjukan yang energik. Para delegasi kemudian diajak memainkan simbal tembaga dan mengikuti irama musik untuk mempelajari teknik dasar permainan alat musik perkusi. Mereka juga menikmati pertunjukan musik tradisional yang menghadirkan sejumlah instrumen khas Tiongkok, seperti pipa, erhu, ruan, dan dizi.
Pengalaman seni berlanjut melalui kelas melukis burung dan bunga dengan teknik lukisan tinta gaya bebas. Di bawah arahan instruktur, para peserta menggunakan kuas, tinta, dan pigmen untuk menghasilkan lukisan bunga magnolia. Sejumlah peserta mengaku memperoleh pengalaman berharga karena dapat mengenal sekaligus mempraktikkan seni tradisional yang sebelumnya hanya mereka ketahui melalui cerita atau media.
Pengurus bidang pemuda Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT), Yen Yen Kuswati, mengatakan kebudayaan Tiongkok memiliki kekayaan sejarah, kearifan, dan nilai filosofis yang mendalam. Budaya tersebut juga mempunyai hubungan erat dengan kehidupan masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia. “Setelah pewarisan dan integrasi selama beberapa generasi, budaya Tiongkok telah lama menjadi bagian penting dari tatanan multikultural di Indonesia. Ikatan emosional dari akar budaya yang sama menjadikan pertukaran ICH tersebut terasa sangat menyentuh,” ujar Yen Yen. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat semakin mempererat hubungan persahabatan Indonesia dan Tiongkok, khususnya di kalangan generasi muda.
Sementara itu, pendiri Link Education Group, Dicky Larson, mendorong peningkatan kerja sama pendidikan antara kedua negara. Bentuk kolaborasi yang dapat dikembangkan antara lain pertukaran pelajar dan tenaga pengajar serta berbagi sumber daya pendidikan. Dicky juga mengusulkan lebih banyak kegiatan yang melibatkan anak muda, seperti pertunjukan seni budaya dan festival tradisional. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat memperluas pemahaman lintas budaya sekaligus menumbuhkan semangat persahabatan antargenerasi. Melalui pengalaman langsung di desa budaya hingga kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi, delegasi pemuda Indonesia memperoleh gambaran mengenai upaya pelestarian warisan budaya takbenda di Shanxi. Pertukaran tersebut tidak hanya memperkenalkan kekayaan tradisi Tiongkok, tetapi juga membuka ruang pembelajaran bersama serta memperkuat hubungan budaya dan persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok.(red)












