BeritaPemkab Kotawaringin Timur

Dampak Kabut Asap, 197 Sekolah di Kotim Terapkan Belajar Dari Rumah

12
×

Dampak Kabut Asap, 197 Sekolah di Kotim Terapkan Belajar Dari Rumah

Sebarkan artikel ini
Tampak depan SMPN 1 Sampit terlihat sepi saat pihak sekolah menerapkan belajar dari rumah akibat dampak kabut asap karhutla, Senin (21/9/2026). (Foto-Normansyah)

Kotawaringin Timur, eNewskalteng.com – Maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla hingga memburuknya kualitas udara akibat pekatnya kabut asap, membuat ratusan sekolah di Kabupaten Kotawaringin Timur menerapkan Belajar Dari Rumah (BDR), Senin (21/9/2026).

Kepala Dinas Pendidikan Kotawaringin Timur, Yolanda Lonita Fenisia, menjelaskan dari total 834 sekolah di Kotim, terdapat 197 sekolah mengajukan ke Disdik Kotim  untuk menerapkan sistem pembelajaran melalui BDR. Mulai dari jenjang Taman Kanak-kakak, Sekolah Dasar, serta Sekolah Menengah Atas. “Satuan pendidikan yang mengajukan BDR ada 197 sekolah, dari total 834 sekolah di Kotim,” kata Kepala Disdik Kotim, Yolanda Lonita Fenisia.

Kecamatan dengan jumlah sekolah yang paling banyak menerapkan BDR adalah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, yaitu sebanyak 49 Sekolah dari total 128 sekolah di wilayah tersebut. Kemudian Kecamatan Baamang, dari total 78 sekolah, ada 43 yang menerapkan BDR. Selanjutnya Kecamatan Kota Besi, dari total 43 sekolah, terdapat 31 sekolah menerapkan BDR. “Namun demikian, dari 17 kecamatan yang ada, terdapat dua kecamatan di selatan Kotim yang seluruh sekolahnya tetap menerapkan sistem Tatap Muka (TM) di sekolah, yaitu Kecamatan Teluk Sampit dan Pulau Hanaut,” kata Yolanda.

Sebelumnya, Yolanda menyebut, Disdik Kotim menyerahkan keputusan penerapan BDR kepada masing-masing sekolah. Sekolah terdampak kabut asap dapat mengajukan BDR. “Terkait pemberlakuan BDR di Kotim diserahkan ke masing-masing satuan pendidikan. Pelaksanaannya sesuai Surat Edaran Bupati Kotim, tentang adaptasi kegiatan pembelajaran dimusim kemarau tahun 2026,” ujarnya. Dalam Surat Edaran tersebut, pelaksanaaan BDR dapat dilakukan dengan memanfaatkan platform Rumah Pendidikan menggunakan akun belajar.id milik guru dan murid. Sekolah juga dapat menggunakan Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) maupun platform pendukung lainnya. (man)