BeritaPemkab KatinganPemprov Kalimantan Tengah

Saiful, si Pecatur Kilat yang Kini Jadi Bupati Katingan

200
×

Saiful, si Pecatur Kilat yang Kini Jadi Bupati Katingan

Sebarkan artikel ini
Bupati Katingan Saiful bersama istri dan anak-anaknya.(Photo/ist)

Kasongan. eNewskalteng.com — Saat fajar belum sempat menyapa, dentingan ketukan terdengar satu per satu di depan pintu kamar. Seorang pria paruh baya berdiri di baliknya, membangunkan kepala dinas yang masih terlelap. Tak ada mobil dinas mentereng atau iring-iringan pejabat. Hanya sebuah pick-up tua berkarat yang menjadi saksi perjalanan menuju pelosok Katingan Kuala  wilayah yang jalan dan sekolahnya tak lagi layak.

Dialah Saiful, Pejabat Bupati Katingan 2023–2024. Sosok yang menjungkirbalikkan paradigma lama tentang pemimpin yang harus dilayani. Bagi Saiful, jabatan bukan kemewahan, melainkan amanah yang harus dijaga dan dilaksanakan dengan sepenuh hati. “Kita ini pelayan masyarakat. Jangan pernah salahgunakan kepercayaan,” begitu pesan yang sering ia sampaikan, dari ruang rapat hingga kunjungan lapangan.

Namun, sebelum dikenal sebagai pemimpin daerah yang merakyat, Saiful lebih dulu dikenal sebagai “raja catur kilat”. Hampir tiap sudut lapak catur di Palangka Raya mengenal namanya. Bukan hanya jago di atas papan catur, ia juga punya visi membesarkan dunia catur di tanah Kalimantan. Lewat kepemimpinannya di Percasi Kalteng, turnamen terbuka bertaraf nasional digelar. Tak hanya mendatangkan Grand Master, tapi juga melahirkan Master Nasional dari daerah sendiri.

Persahabatannya dengan Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, pun berawal dari hobi yang sama. Dahulu mereka lawan bebuyutan dalam catur kilat, kini berdiri di panggung pengabdian yang sama, saling menguatkan demi masyarakat.

Keberanian dan kesederhanaan Saiful bukan cerita panggung. Ia pernah membonceng istrinya, Ketua Tim Penggerak PKK, menyusuri jalanan rusak demi meninjau sekolah dan posyandu. Ia percaya bahwa anak-anak adalah pemimpin masa depan dan infrastruktur adalah denyut nadi ekonomi yang tak boleh diabaikan.

Musibah pun tak membuatnya gentar. Saat banjir menerjang Katingan Tengah, Saiful hadir di tengah warga, kuyup dan basah, bukan hanya menyalurkan bantuan, tapi juga membawa harapan. Bahkan, tanpa pikir panjang, dompet basahnya ia buka, mengulurkan uang bantuan langsung  meski tersisa dompet yang kosong.

Dalam setiap perayaan agama, baik Ramadhan, Natal, maupun Dharma Santi, kehadirannya selalu nyata. Meski lelah dan sakit terkadang menghampiri, Saiful memilih berdiri bersama masyarakat. (Penulis : Dany Yuswanto)