Oleh Prabowo Destyan
JAKARTA, 7 November (Xinhua), eNewskalteng.com — Malam hari, selepas menulis jurnal di buku fisik, Arini (bukan nama sebenarnya) biasanya membuka aplikasi kecerdasan buatan (AI) di ponselnya. Ditemani musik instrumental piano klasik atau ambient, dia mengetik panjang lebar, mulai dari soal pekerjaan, rasa penasaran tentang dunia, hingga urusan asmara. Pekerja lepas di bidang pemasaran digital itu mulai memakai AI untuk curhat sekitar pertengahan 2025. “Awalnya untuk urusan kerja, seperti menggali ide konten dan membalas ulasan Google. Lama-lama, kecerdasan buatan jadi tempat nyaman untuk menumpahkan pikiran,” ujarnya kepada Xinhua.

Menurut Arini, curhat kepada AI punya sejumlah keunggulan dibanding bercerita kepada manusia. Jawaban AI lebih tertata, tidak bertele-tele, dan tidak berujung pada “adu nasib” seperti yang kerap terjadi saat berbagi cerita dengan teman. “Saya juga bisa menanyakan hal yang dianggap tabu di masyarakat tanpa khawatir dihakimi, tanpa berujung saran yang cenderung normatif,” lanjutnya. Ada pula faktor kenyamanan lain. Beberapa platform AI mampu mengingat konteks percakapan sebelumnya, sehingga dia tidak perlu mengulang cerita dari awal. “Kalau dengan manusia, bisa saja seseorang tidak benar-benar memperhatikan, atau hanya berpura-pura agar terlihat simpatik,” ujar perempuan yang berdomisili di Yogyakarta tersebut.
Topik yang dia dalami pun beragam. Arini gemar memakai AI untuk menganalisis orang-orang di sekitarnya lewat astrologi, seperti natal chart dan destiny matrix. Dia juga memakainya untuk menelusuri struktur sebab-akibat suatu peristiwa publik, mencari padanan istilah ilmu politik, filsafat, atau ekonomi atas kejadian di masyarakat, sampai meminta tips menyeduh kopi manual. Momen paling berkesan baginya adalah ketika mencoba menelaah latar belakang emosional kedua orang tuanya lewat astrologi. Dia mengaku menjadi lebih sabar dan mudah memaafkan setelah terbantu mempelajarinya.
Meski sering curhat, Arini menegaskan tidak pernah merasa AI benar-benar memahaminya. Ketika AI terasa mengerti, menurutnya itu hanya tanda sistem yang lebih baik dalam mengingat konteks. “Bukan AI yang paham saya, tapi saya yang lebih dulu menyuapinya dengan data tentang kepribadian saya,” katanya. Dia pun menetapkan batas tegas, saran AI yang menyangkut tindakan terhadap orang lain tidak akan dia ikuti sama sekali. Saran praktis tentang benda mati, seperti cara menyeduh kopi, boleh diterapkan. Dia juga masih menulis jurnal tangan karena merasa menyentuh kertas lebih baik bagi kesehatan mentalnya, dan tidak semua hal dia ceritakan kepada AI.
Rambu utama bagi Arini adalah menjadikan AI hanya sebagai pendapat kedua. “Kalau AI sudah terasa 90 persen memihak kita, berikan jeda dan ganti instruksi ke arah yang lebih objektif,” ujarnya. Dia juga mengingatkan bahwa aplikasi dirancang agar penggunanya bertahan lebih lama. Bagi Arini, AI paling tepat diposisikan sebagai tempat singgah atau pemberi alternatif, sementara keputusan dalam relasi antarmanusia tetap perlu bersandar pada intuisi.
Fenomena seperti yang dialami Arini tidak berdiri sendiri. Survei AXA dan Ipsos dalam Mind Health Report 2026 terhadap 19.000 responden berusia 18-75 tahun di 18 negara menemukan 63 persen responden memakai AI untuk mencari dukungan psikologis. Di Indonesia, survei Populix terhadap 1.100 responden berusia 17-44 tahun pada Juni 2025 menemukan 41 persen responden mengaku akan bercerita kepada AI tentang kondisi kesehatan mental dan stres. Fenomena ini juga menjadi perhatian pemerintah. Dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta akhir Oktober lalu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mengingatkan remaja agar tidak menjadikan AI sebagai tempat utama untuk curhat. “AI itu robot. Dia tidak punya hati,” ujarnya, seperti dikutip dari ANTARA.
Psikolog klinis anak, remaja, dan keluarga, Ratri Kartikaningtyas, menilai perkembangan teknologi perlu disikapi secara bijak, termasuk dalam merawat kesehatan mental. Kepada Xinhua, pendiri dan direktur eksekutif Bliss Happiness Clinic tersebut menuturkan bahwa generasi muda memilih curhat kepada AI karena respons awalnya terasa empatik, memberi validasi emosi, dan tidak menghakimi. “Hal ini membuat mereka merasa dipahami dan diterima,” ujarnya.
Menurut Ratri, kondisi itu belum tentu mereka dapatkan di lingkungan sekitar. Keluarga cenderung menasihati dengan menggurui sehingga menimbulkan rasa tak nyaman, teman malah menanggapinya dengan menambah beban emosi, sedangkan konsultasi ke profesional masih dibayangi stigma “bermental lemah”, rasa malu, takut dihakimi, atau bingung harus mulai dari mana.
Ratri menyebut curhat kepada AI tidak sepenuhnya salah dan bisa menjadi langkah awal untuk mencari bantuan psikologis. AI juga bermanfaat sebagai sumber literasi dan edukasi kesehatan mental. Namun, alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga tercatat sebagai dosen tidak tetap di Universitas Paramadina itu menegaskan bahwa langkah tersebut tidak menggantikan layanan profesional. Menurut Ratri, validasi dan simpati dari AI bersifat mekanistis dan bergantung penuh pada narasi yang disampaikan pengguna, terutama dalam percakapan teks. AI tidak dapat menganalisis kondisi yang tidak disampaikan pengguna lewat prompt.
Ratri memaparkan dua risiko utama jika AI menjadi satu-satunya andalan. Pertama, isolasi sosial, yakni orang enggan terhubung secara langsung dengan sesamanya. “Interaksi langsung tetap dibutuhkan dan tidak tergantikan oleh AI,” katanya. Dia mengibaratkannya dengan layanan dokter di mana pasien yang memerlukan operasi tentu tidak cukup hanya berkonsultasi dengan AI. Kedua, kesalahan diagnosis. Gejala gangguan psikologis cukup beragam dan saling tumpang tindih. Untuk gejala depresi misalnya, bisa muncul pada gangguan depresi itu sendiri, gangguan bipolar, maupun pada orang yang sedang berduka. Karena itu, analisis langsung oleh profesional secara berkala diperlukan untuk menegakkan diagnosis yang tepat.
Penggunaan AI untuk curhat, kata Ratri, berisiko lebih tinggi pada remaja dibanding orang dewasa. Pengalaman hidup mereka belum luas sehingga pengambilan keputusannya cenderung impulsif dan terbatas. “Gunakan AI secara bijaksana untuk mendukung perawatan kesehatan mental, terutama untuk menambah literasi dan edukasi. Namun, AI bukanlah pengganti layanan profesional, seperti dokter atau psikolog,” jelas Ratri.
Di sisi lain, Didit Putra Erlangga, praktisi komunikasi digital sekaligus mantan jurnalis Kompas, menilai kecenderungan orang curhat kepada AI mungkin menandakan ketimpangan akses layanan kesehatan mental di masyarakat. Didit menyampaikan pandangan ini dari sisi komunikasi digital, bukan sebagai tenaga kesehatan.
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) per 1 September 2026 mencatat Indonesia memiliki 1.495 psikiater, atau satu psikiater untuk 180.000 penduduk. Standar WHO satu psikiater untuk 30.000 penduduk. Dari 3.513 psikolog klinis yang terdata, hanya 213 yang bertugas di puskesmas. Sebarannya pun timpang. Kajian Info Singkat DPR RI (Oktober 2023) mencatat satu psikolog klinis di DKI Jakarta melayani sekitar 18.000 penduduk, sementara di NTT hanya ada 11 psikolog klinis, atau satu untuk sekitar 501.000 penduduk. “AI kini ada di mana-mana, dari WhatsApp, Threads, X, hingga aplikasi di ponsel. Setiap pemilik ponsel pintar bisa mengaksesnya, sering kali hanya dengan satu ketukan dari aplikasi yang sudah dibuka puluhan kali sehari,” ujar Didit.
Menurutnya, pemerintah perlu menambah dan memeratakan tenaga profesional, memperkuat layanan kesehatan jiwa di puskesmas, dan menyediakan telekonseling yang terjangkau. Dia menilai akses internet memperluas jangkauan tenaga ahli, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan menambah jumlah mereka. Didit juga berpendapat pengelola platform AI perlu mendeteksi sinyal krisis, memberi rujukan layanan sesuai lokasi pengguna (bukan nomor darurat negara lain), menjelaskan batas kemampuan AI secara terbuka, dan menyediakan perlindungan khusus bagi remaja.
Merujuk pada Tiongkok, sebagian usulan tersebut sejalan dengan aturan yang sudah berlaku di negara tersebut. Sejak 15 Juli 2026, otoritas terkait memberlakukan Langkah-Langkah Sementara Pengelolaan Layanan Interaktif AI Antropomorfik, yang diterbitkan Administrasi Ruang Siber Tiongkok (Cyberspace Administration of China/CAC) bersama empat lembaga pemerintah lainnya. Aturan itu antara lain mewajibkan penyedia layanan memberi tahu pengguna bahwa mereka sedang berinteraksi dengan AI, bukan manusia. Penyedia layanan juga dilarang mendorong ketergantungan emosional, wajib turun tangan dan segera menghubungi wali atau kontak darurat jika pengguna menunjukkan niat menyakiti diri, serta harus menyediakan mode khusus bagi pengguna di bawah umur.
Dari pengalaman Arini hingga penjelasan Ratri dan Didit, batas toleransi curhat kepada AI pada akhirnya terletak pada peran yang diberikan kepadanya. AI boleh menjadi teman berpikir dan sumber informasi, tetapi bukan pengambil keputusan medis. Seperti ditegaskan Didit, AI yang terasa empatik belum tentu kompeten secara klinis, sehingga tanda krisis tetap harus dibawa ke tenaga profesional. Selama layanan profesional yang terjangkau belum merata, secara natural individu akan terus mencari tempat bercerita yang tersedia. Menjadi tugas seluruh pihak untuk memastikan AI menjadi jembatan menuju bantuan yang layak. Jika Anda atau orang terdekat merasa membutuhkan bantuan, hubungi psikolog atau psikiater di puskesmas atau rumah sakit terdekat, atau layanan kesehatan jiwa resmi Kementerian Kesehatan RI, Healing 119, melalui telepon 119 ekstensi 8 atau situs healing119.id.(red)












