SHANGHAI, eNewskalteng.com – Di tengah meningkatnya kecenderungan proteksionisme perdagangan di sejumlah negara, Tiongkok justru menunjukkan komitmen untuk memperluas akses pasar bagi perusahaan internasional melalui penyelenggaraan Pameran Impor Internasional Tiongkok (China International Import Expo/CIIE) ke-9. Pameran tahunan yang dibuka pada Kamis (5/11) di Shanghai tersebut menghadirkan ribuan perusahaan dari berbagai negara. Ajang ini menjadi sarana bagi pelaku usaha global untuk memperkenalkan produk, menjajaki kemitraan, sekaligus memperoleh akses ke pasar konsumen Tiongkok.

CIIE tahun ini mencatat sejumlah pencapaian baru. Area pameran melampaui 440.000 meter persegi dengan partisipasi 4.142 perusahaan asing dari 162 negara, kawasan, dan organisasi internasional.
Dari jumlah tersebut, lebih dari 300 perusahaan merupakan bagian dari daftar Fortune Global 500 dan perusahaan terkemuka di bidangnya. Selain itu, lebih dari 2.000 perusahaan tercatat baru pertama kali mengikuti pameran tersebut.
Komitmen keterbukaan Tiongkok juga tercermin dari perkembangan aktivitas impornya. Data Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok menunjukkan nilai impor negara tersebut tumbuh 22,3 persen secara tahunan pada tiga kuartal pertama 2026. Angka pertumbuhan impor itu lebih tinggi 5,9 poin persentase dibandingkan pertumbuhan ekspor. Bahkan, impor dari lebih dari 110 negara dan kawasan mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan ekspor ke wilayah-wilayah tersebut.
Kehadiran perusahaan Amerika Serikat (AS) dan Eropa turut memperlihatkan besarnya perhatian pelaku usaha internasional terhadap pasar Tiongkok. Untuk kedelapan kalinya, perusahaan AS menempati area pameran terluas. Luas area mereka tahun ini bahkan bertambah 1.500 meter persegi dibandingkan tahun sebelumnya.
Di tengah wacana pemisahan hubungan ekonomi atau decoupling, perusahaan-perusahaan global masih melihat peluang dari besarnya pasar konsumen Tiongkok serta jaringan rantai pasokannya. CIIE juga memberikan ruang bagi perusahaan kecil dan menengah, khususnya dari negara-negara Global South, untuk memperkenalkan produk mereka kepada konsumen dan mitra bisnis di Tiongkok.
Penyelenggara meningkatkan area pameran produk dari Asia dan Afrika serta menambah alokasi ruang gratis bagi negara-negara kurang berkembang sebesar 17 persen. Kebijakan tersebut diharapkan membantu pelaku usaha dari negara dengan sumber daya terbatas memperoleh kesempatan lebih besar untuk menjangkau pasar internasional.
Selain membuka akses perdagangan, CIIE menjadi wadah bagi konsumen Tiongkok untuk mengenal produk-produk baru dari berbagai negara. Pada penyelenggaraan tahun ini, lebih dari 480 produk dijadwalkan melakukan debut di tingkat global, Asia, maupun Tiongkok. Produk-produk tersebut mencakup berbagai inovasi, teknologi, dan gagasan baru yang berpotensi memperluas pilihan konsumen sekaligus membuka kesempatan kolaborasi bagi industri domestik.
Melalui penyelenggaraan CIIE, Tiongkok menyampaikan bahwa keterbukaan perdagangan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Pasar yang lebih terbuka tidak hanya menyediakan peluang penjualan bagi perusahaan asing, tetapi juga mendorong pertukaran teknologi, persaingan, dan kerja sama industri. Sejak pertama kali digelar, CIIE menjadi salah satu platform perdagangan internasional yang mempertemukan produsen, eksportir, dan pembeli dari berbagai belahan dunia. Penyelenggaraan edisi kesembilan ini kembali menempatkan keterbukaan pasar sebagai salah satu agenda utama dalam hubungan perdagangan global.(red)












