Uncategorized

Negara Produsen Sawit Perkuat Kerja Sama dengan Tiongkok untuk Rantai Pasok Berkelanjutan

5
×

Negara Produsen Sawit Perkuat Kerja Sama dengan Tiongkok untuk Rantai Pasok Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Foto yang diabadikan pada 27 Oktober 2026 ini menunjukkan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun (ketiga dari kiri) berfoto bersama para peserta lain dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (Sustainable Vegetable Oils Conference) keempat yang digelar di Kota Shanghai, Tiongkok timur. (Xinhua)

SHANGHAI, Xinhua, eNewskalteng.com – Negara-negara penghasil minyak kelapa sawit mendorong penguatan kerja sama dengan Tiongkok guna membangun rantai pasok yang berkelanjutan. Upaya tersebut juga diarahkan melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas serta efisiensi industri minyak nabati. Komitmen itu mengemuka dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (Sustainable Vegetable Oils Conference/SVOC) keempat yang berlangsung di Shanghai, Tiongkok timur, baru-baru ini.

Diselenggarakan oleh Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Kelapa Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC), konferensi tersebut mengangkat tema “Sinergi Keberlanjutan dan Rantai Nilai yang Tangguh”. Forum ini dihadiri sekitar 220 peserta dari 11 negara untuk memperkuat kemitraan strategis dalam industri minyak nabati dunia.

Sekretaris Jenderal CPOPC Izzana Salleh menegaskan, kolaborasi antara negara produsen dan konsumen menjadi semakin penting di tengah perubahan ekspektasi pasar serta meningkatnya tuntutan terhadap praktik industri berkelanjutan. Menurutnya, dinamika harga komoditas dan ketidakpastian regulasi dapat memengaruhi keputusan pembelian, perdagangan internasional, hingga kepercayaan investor. Karena itu, ketahanan industri membutuhkan informasi pasar yang akurat, diversifikasi hubungan perdagangan, sistem logistik yang efisien, serta kebijakan yang memberikan kepastian.

Dia menambahkan, hubungan yang lebih erat antara produsen dan pembeli diperlukan agar komitmen pasokan, standar keberlanjutan, dan kepentingan komersial dapat berjalan selaras. Izzana juga menyoroti meningkatnya kebutuhan minyak nabati dunia yang harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas dan pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan rantai pasok dalam jangka panjang.

Saat ini, negara-negara anggota CPOPC berkontribusi sekitar 89 persen terhadap pasokan minyak sawit global. Industri tersebut juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan pelaku usaha dan petani kecil di berbagai negara produsen. Bagi Tiongkok, minyak sawit merupakan komoditas minyak nabati yang paling banyak diimpor. Sebagian besar pasokannya berasal dari negara anggota CPOPC, termasuk Indonesia.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun mengatakan, penyelenggaraan SVOC di Tiongkok mencerminkan kuatnya hubungan bilateral kedua negara sekaligus komitmen untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor. Ia menilai kemitraan strategis Indonesia dan Tiongkok memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan investasi berkelanjutan, serta membangun jaringan pasokan global yang lebih inklusif dan tangguh.

Sementara itu, Konsul Jenderal RI di Shanghai Berlianto Situngkir menekankan posisi Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar bagi negara-negara anggota CPOPC. Menurutnya, Shanghai memiliki peran strategis dalam mendorong peningkatan produktivitas, inovasi, dan penciptaan nilai tambah di berbagai sektor industri. Dalam konferensi tersebut, sejumlah isu strategis turut dibahas, mulai dari pengaruh kebijakan transisi hijau terhadap industri minyak sawit, penerapan teknologi dalam proses produksi minyak nabati, hingga penguatan kapasitas petani kecil untuk mendukung praktik perkebunan berkelanjutan.

Selain itu, pengembangan bahan bakar nabati (biofuel) juga menjadi salah satu agenda pembahasan sebagai bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekonomi rendah karbon. Melalui forum ini, negara-negara produsen berharap kolaborasi internasional semakin kuat sehingga industri minyak nabati mampu menghadapi tantangan perdagangan global sekaligus memenuhi tuntutan keberlanjutan di masa mendatang.(red)